BACAAJA, KALIMANTAN – Operasi modifikasi cuaca mulai dijalankan di Kalimantan Tengah sebagai langkah cepat menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mulai meningkat memasuki musim kemarau 2026. Pemerintah memprioritaskan penyemaian awan di kawasan lahan gambut yang dinilai paling rentan terbakar.
Langkah ini dilakukan setelah sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah mengalami periode tanpa hujan hingga 30 hari. Kondisi tersebut membuat lahan semakin kering sehingga berpotensi memicu munculnya titik api apabila tidak segera diantisipasi.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Kalimantan Tengah, Alpius Patanan, mengatakan operasi modifikasi cuaca menjadi bagian dari penanganan darurat karhutla tahun 2026 yang melibatkan pemerintah daerah bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Menurut Alpius, operasi ini merupakan langkah preventif agar hujan dapat turun lebih cepat di kawasan yang mulai mengalami kekeringan panjang, terutama pada hamparan lahan gambut yang selama ini menjadi titik rawan kebakaran.
Untuk mendukung pelaksanaan operasi, BNPB menunjuk PT Arjuna Cakrawala Perkasa sebagai penyedia jasa penerbangan. Sebuah pesawat Cessna Grand Caravan 208B EX dengan registrasi PK-FPU telah disiagakan di Bandara Tjilik Riwut dan dijadwalkan beroperasi pada periode 15 hingga 19 Juni 2026.
Pesawat tersebut akan digunakan untuk melakukan penyemaian awan di sejumlah wilayah yang memiliki potensi hujan. Harapannya, curah hujan dapat meningkat sehingga kelembapan lahan tetap terjaga selama musim kemarau berlangsung.
Fokus utama operasi diarahkan ke kawasan lahan gambut yang membentang dari wilayah tengah hingga selatan Kalimantan Tengah. Area tersebut selama ini dikenal memiliki risiko tinggi mengalami kebakaran saat curah hujan menurun drastis.
Alpius menjelaskan, apabila nantinya terdeteksi titik panas atau hotspot, pesawat akan langsung diarahkan untuk melakukan penyemaian awan di sekitar lokasi tersebut. Strategi ini diharapkan mampu memadamkan api sejak masih berukuran kecil sebelum meluas.
Selain membantu menekan risiko kebakaran, operasi modifikasi cuaca juga bertujuan menjaga cadangan air di dalam tanah gambut. Ketersediaan air menjadi faktor penting agar lapisan gambut tidak mudah mengering dan terbakar.
Lahan gambut yang kehilangan kelembapan biasanya memicu kebakaran yang sulit dipadamkan. Api dapat merambat hingga ke lapisan bawah tanah sehingga proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan kebakaran di lahan biasa.
Kebakaran gambut juga menghasilkan asap tebal yang berdampak luas terhadap kesehatan masyarakat. Kabut asap dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, transportasi, hingga kualitas udara di berbagai daerah.
Pemerintah berharap langkah antisipasi melalui modifikasi cuaca mampu mengurangi potensi munculnya bencana asap seperti yang pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), beberapa wilayah di Kalimantan Tengah bagian selatan sudah memasuki fase kritis kekeringan. Kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau menjadi daerah dengan durasi hari tanpa hujan mencapai 20 hingga 30 hari pada dasarian pertama Juni.
Walaupun citra satelit belum menunjukkan adanya titik panas maupun sebaran asap yang signifikan, kondisi vegetasi dan lahan di kawasan selatan hingga tengah Kalimantan Tengah sudah berada pada kategori sangat mudah terbakar.
Situasi tersebut membuat pemerintah memilih bergerak lebih awal daripada menunggu kebakaran benar-benar terjadi. Pendekatan pencegahan dinilai jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah api meluas.
Operasi modifikasi cuaca menjadi salah satu strategi yang melengkapi upaya patroli darat, pemantauan hotspot, serta kesiapsiagaan personel pemadam di berbagai daerah rawan karhutla.
Pemerintah daerah juga terus berkoordinasi dengan BNPB, BMKG, serta berbagai instansi terkait agar seluruh proses pemantauan cuaca dapat dilakukan secara berkala selama musim kemarau berlangsung.
Pelaksanaan operasi udara ini didasarkan pada Keputusan Gubernur Kalimantan Tengah Nomor 100.3.3.1/142/2026 tentang Penetapan Status Siaga Darurat Bencana Karhutla yang diterbitkan pada 25 Mei 2026.
Status siaga tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk mempercepat berbagai langkah mitigasi, termasuk mengajukan dukungan operasi modifikasi cuaca kepada BNPB.
Dengan dukungan pesawat penyemaian awan dan pemantauan cuaca secara intensif, pemerintah berharap risiko kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah dapat ditekan sejak awal musim kemarau.
Upaya pencegahan dini ini diharapkan mampu menjaga kawasan gambut tetap lembap, mengurangi potensi munculnya kabut asap, sekaligus melindungi aktivitas masyarakat dan kelestarian lingkungan selama periode kemarau 2026. (*)

