Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Belajar Iklim Nggak Harus Nunggu Bumi Makin Panas
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Pendidikan

Belajar Iklim Nggak Harus Nunggu Bumi Makin Panas

Isu perubahan iklim sekarang nggak cuma urusan aktivis lingkungan atau debat di media sosial. Di Kabupaten Semarang, guru-guru mata pelajaran IPS mulai diajak masuk lebih dalam buat ngajarin soal jejak karbon ke siswa lewat cara yang lebih dekat sama kehidupan sehari-hari. Soalnya, generasi sekarang bukan cuma harus pintar hafal teori, tapi juga ngerti kenapa bumi makin gerah tiap tahun.

T. Budianto
Last updated: Mei 28, 2026 2:55 pm
By T. Budianto
4 Min Read
Share
FOTO BERSAMA: Peserta kegiatan penguatan pendidikan iklim dari Fisip Unnes bersama MGMP IPS Kabupaten Semarang berfoto bersama usai pelatihan penyusunan modul kokurikuler tentang jejak karbon di SMP Negeri 1 Bergas, Kabupaten Semarang. (Foto: Ist)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG- Tim pengabdian dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Negeri Semarang (Unnes) menggandeng Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) IPS Kabupaten Semarang menggelar program bertajuk “Penguatan Pendidikan Iklim di Sekolah Kabupaten Semarang melalui Modul Kokurikuler tentang Jejak Karbon” di SMP Negeri 1 Bergas.

Kegiatan yang berlangsung mulai 21 hingga 29 Mei 2026 itu diikuti sekitar 30 guru IPS dari berbagai sekolah di Kabupaten Semarang. Fokusnya bukan sekadar seminar formal penuh slide, tapi lebih ke gimana guru bisa membawa isu perubahan iklim jadi lebih related buat siswa di kelas.

Program ini melibatkan dosen dan mahasiswa Fisip Unnes, antara lain Fredy Hermanto, Lukki Lukitawati, Siti Ekowati Rusdini, dan Aan Probo Wiranto bersama sejumlah mahasiswa pendamping.

Baca juga: Kostum dan Kebun: Cara PAUD Labschool Unnes Ajari Anak Cinta Bumi

Lewat kegiatan tersebut, para guru diajak memahami konsep jejak karbon sekaligus cara mengintegrasikan pendidikan iklim ke dalam pembelajaran IPS yang lebih kontekstual dan berbasis aksi nyata.

Masalahnya memang makin nyata. Berdasarkan data Global Carbon Budget 2025, emisi karbon Indonesia terus naik dalam lima tahun terakhir. Sementara di sisi lain, banyak sekolah yang ternyata belum punya modul khusus buat ngajarin soal jejak karbon maupun gaya hidup berkelanjutan.

Karena itu, tim Unnes mencoba menghadirkan modul kokurikuler yang disesuaikan dengan kondisi lokal Kabupaten Semarang yang punya kawasan industri sekaligus wilayah pedesaan.

Salah satu tim pengabdian, Siti Ekowati Rusdini, MPd mengatakan, siswa perlu diajak memahami hubungan antara aktivitas sehari-hari dengan dampak lingkungan yang lebih luas.

Kehidupan Siswa

Menurutnya, pendidikan iklim nggak cukup cuma berhenti di teori soal pemanasan global, tapi juga harus masuk ke kebiasaan kecil yang dekat dengan kehidupan siswa.

Dalam sesi pelatihan, guru-guru juga diberi tugas menyusun modul mandiri sekaligus menyiapkan implementasi pembelajaran di sekolah masing-masing. Harapannya, materi soal perubahan iklim bisa disesuaikan dengan karakter siswa dan kondisi lingkungan sekitar sekolah.

Diskusi antara dosen dan guru pun berlangsung cukup aktif. Banyak guru mengaku tantangan terbesar selama ini adalah minimnya perangkat ajar dan sulitnya membuat materi perubahan iklim terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.

Baca juga: Jalan Undip-Unnes Akhirnya “Naik Kelas”

Ketua MGMP IPS Kabupaten Semarang, Krisnawati mengatakan, guru membutuhkan pendampingan supaya pendidikan iklim bisa disampaikan lebih efektif dan nggak terasa membosankan.

“Kami butuh pelatihan dan pendampingan bagi guru-guru IPS agar mereka mampu mengkolaborasikan pendidikan iklim kepada siswa-siswi dengan lebih baik,” ujarnya.

Selain menghasilkan modul versi cetak dan digital, program ini juga menargetkan luaran lain seperti publikasi artikel ilmiah, video dokumentasi, pemberitaan media massa, hingga pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Kegiatan ditutup dengan penandatanganan kerja sama dan penyerahan plakat dari tim pengabdian Unnes kepada MGMP IPS Kabupaten Semarang.

Dan mungkin ini yang mulai disadari banyak orang sekarang: bumi nggak butuh anak muda yang cuma jago bikin caption “save earth”, tapi generasi yang benar-benar ngerti kenapa AC makin dingin tapi cuaca tetap makin panas. (tebe)

You Might Also Like

Jalan Undip-Unnes Akhirnya “Naik Kelas”

Tim Kampanye Prabowo-Gibran Dipanggil ke Persidangan, Kasus Korupsi BUMD Cilacap

PDI Perjuangan Pecat Wahyudin Moridu Yang Viral Ngaku Mau “Rampok Uang Negara”

22 Pendemo Pati yang Sempat Diciduk, Akhirnya Pulang Bawa Cerita

Siapa Tersangka OTT KPK di Cilacap? 13 Orang Dibawa ke Jakarta, Termasuk Bupati dan Sekda

TAGGED:disdikbud jatengfisip unnesheadlinemgmp kab semarang
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Pocong Tlogowungu Minta Maaf, Konten Iseng yang Bikin Sekampung Parno
Next Article Pelaminan Banyumas Mendadak Jadi Arena Sapi Ngamuk Tengah Malam

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

SAMBUT SISWA--Guru kelas dan badut menyambut 3 siswa baru SDN Purwoyoso 1 Semarang dalam rangkaian MPLS, Senin (13/7/2026). (bae)

SDN Purwoyoso 1 Cuma Terima 3 Murid Baru, MPLS Tetap Dibikin Serasa Pesta

JALANI PEMRIKSAAN: Bupati Sukoharjo, Etik Suryani didampingi petugas bersiap menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih, Jakarta, Sabtu, (12/7/2026). (Foto: Ist)

Etik Minta Rp500 Juta, KPK Ungkap Skema Setoran Bupati Sukoharjo

Presiden RI, Prabowo Subianto. (gerindra)

Gaji TNI-Polri Kecil? Prabowo: Aparat Harus Sejahtera, Biar Gak Meras Rakyat

DIKEKANG - Ilustrasi pola asuh yang telalu mengekan anak. (ist)

Jangan Overprotective! Psikolog: Anak Butuh Belajar Gagal, Jatuh, dan Bangkit

TANAM CEMARA--Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng (depan) bersama Karang Taruna Kecamatan Tugu, menanam cemara laut di Pulau Tirang, Minggu (12/7/2026). (ist)

Wali Kota Agustina Bareng Karang Taruna Tanam Cemara Laut di Pulau Tirang

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Info

Agustina Ajak Warga Semarang Maksimalkan SDGS

Juni 25, 2026
Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto di awal pemerinttahan. Foto: dok.
Unik

Reshuffle atau Rechef? Saat Dapur Kabinet Prabowo Mulai Kebakaran Gas Politik

September 9, 2025
LATSARMIL - Calon manajer KDMP mengikuti latihan militer dasar.
Viral

Wow! Biaya Pelatihan Calon Manajer KDMP Rp45 Juta per Orang, Paling Gede untuk Latsarmil

Juni 30, 2026
Pendidikan

Undip Mulai Cari Wali Amanat Baru

Februari 5, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Belajar Iklim Nggak Harus Nunggu Bumi Makin Panas
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?