BACAAJA, SEMARANG- Tim pengabdian dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Negeri Semarang (Unnes) menggandeng Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) IPS Kabupaten Semarang menggelar program bertajuk “Penguatan Pendidikan Iklim di Sekolah Kabupaten Semarang melalui Modul Kokurikuler tentang Jejak Karbon” di SMP Negeri 1 Bergas.
Kegiatan yang berlangsung mulai 21 hingga 29 Mei 2026 itu diikuti sekitar 30 guru IPS dari berbagai sekolah di Kabupaten Semarang. Fokusnya bukan sekadar seminar formal penuh slide, tapi lebih ke gimana guru bisa membawa isu perubahan iklim jadi lebih related buat siswa di kelas.
Program ini melibatkan dosen dan mahasiswa Fisip Unnes, antara lain Fredy Hermanto, Lukki Lukitawati, Siti Ekowati Rusdini, dan Aan Probo Wiranto bersama sejumlah mahasiswa pendamping.
Baca juga: Kostum dan Kebun: Cara PAUD Labschool Unnes Ajari Anak Cinta Bumi
Lewat kegiatan tersebut, para guru diajak memahami konsep jejak karbon sekaligus cara mengintegrasikan pendidikan iklim ke dalam pembelajaran IPS yang lebih kontekstual dan berbasis aksi nyata.
Masalahnya memang makin nyata. Berdasarkan data Global Carbon Budget 2025, emisi karbon Indonesia terus naik dalam lima tahun terakhir. Sementara di sisi lain, banyak sekolah yang ternyata belum punya modul khusus buat ngajarin soal jejak karbon maupun gaya hidup berkelanjutan.
Karena itu, tim Unnes mencoba menghadirkan modul kokurikuler yang disesuaikan dengan kondisi lokal Kabupaten Semarang yang punya kawasan industri sekaligus wilayah pedesaan.
Salah satu tim pengabdian, Siti Ekowati Rusdini, MPd mengatakan, siswa perlu diajak memahami hubungan antara aktivitas sehari-hari dengan dampak lingkungan yang lebih luas.
Kehidupan Siswa
Menurutnya, pendidikan iklim nggak cukup cuma berhenti di teori soal pemanasan global, tapi juga harus masuk ke kebiasaan kecil yang dekat dengan kehidupan siswa.
Dalam sesi pelatihan, guru-guru juga diberi tugas menyusun modul mandiri sekaligus menyiapkan implementasi pembelajaran di sekolah masing-masing. Harapannya, materi soal perubahan iklim bisa disesuaikan dengan karakter siswa dan kondisi lingkungan sekitar sekolah.
Diskusi antara dosen dan guru pun berlangsung cukup aktif. Banyak guru mengaku tantangan terbesar selama ini adalah minimnya perangkat ajar dan sulitnya membuat materi perubahan iklim terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Baca juga: Jalan Undip-Unnes Akhirnya “Naik Kelas”
Ketua MGMP IPS Kabupaten Semarang, Krisnawati mengatakan, guru membutuhkan pendampingan supaya pendidikan iklim bisa disampaikan lebih efektif dan nggak terasa membosankan.
“Kami butuh pelatihan dan pendampingan bagi guru-guru IPS agar mereka mampu mengkolaborasikan pendidikan iklim kepada siswa-siswi dengan lebih baik,” ujarnya.
Selain menghasilkan modul versi cetak dan digital, program ini juga menargetkan luaran lain seperti publikasi artikel ilmiah, video dokumentasi, pemberitaan media massa, hingga pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Kegiatan ditutup dengan penandatanganan kerja sama dan penyerahan plakat dari tim pengabdian Unnes kepada MGMP IPS Kabupaten Semarang.
Dan mungkin ini yang mulai disadari banyak orang sekarang: bumi nggak butuh anak muda yang cuma jago bikin caption “save earth”, tapi generasi yang benar-benar ngerti kenapa AC makin dingin tapi cuaca tetap makin panas. (tebe)

