BACAAJA< SEMARANG – Kalau sekarang pergi ke pantai lalu melihat orang memakai bikini rasanya sudah biasa banget, dulu ceritanya jauh berbeda. Pakaian renang dua potong ini sempat dianggap terlalu berani, memancing kontroversi besar, bahkan pernah dilarang di sejumlah negara karena dinilai melanggar norma kesopanan.
Di balik ukurannya yang kecil dan terlihat simpel, bikini ternyata punya sejarah panjang yang cukup dramatis. Mulai dari pengaruh perang dunia, persaingan panas antar desainer Prancis, sampai kaitannya dengan lokasi uji coba bom nuklir, semuanya ikut membentuk perjalanan fashion pantai yang kini terasa begitu lumrah.
Sebelum bikini muncul seperti sekarang, pakaian renang pada abad ke-19 justru sangat tertutup. Orang-orang saat itu lebih mengutamakan kesopanan dibanding kenyamanan saat berenang. Model bajunya mirip gaun panjang dengan tambahan celana sehingga terasa berat dan ribet dipakai di air.
Menariknya, konsep pakaian dua potong sebenarnya sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Para arkeolog pernah menemukan mosaik Romawi kuno yang menunjukkan perempuan memakai atasan mirip kemben dan bawahan pendek saat berolahraga. Artinya, ide pakaian praktis untuk aktivitas fisik ternyata bukan tren baru.
Perubahan besar mulai terasa saat dunia masuk era Perang Dunia II. Waktu itu bahan kain jadi sangat terbatas karena banyak dialihkan untuk kebutuhan perang. Industri fashion akhirnya dipaksa mencari cara membuat pakaian yang lebih hemat bahan, termasuk pakaian renang.
Karena kondisi itulah ukuran baju renang mulai menyusut. Desain dua potong perlahan muncul demi menghemat kain, walau model awalnya belum terlalu terbuka. Area perut misalnya, masih banyak yang tertutup karena standar kesopanan masyarakat waktu itu masih cukup ketat.
Tahun 1946 jadi titik penting dalam sejarah bikini. Dua desainer asal Prancis terlibat persaingan panas untuk menciptakan pakaian renang paling kecil di dunia. Salah satunya adalah Jacques Heim yang memperkenalkan desain bernama Atome dan langsung mengklaimnya sebagai baju renang terkecil saat itu.
Namun klaim itu tidak bertahan lama. Seorang desainer lain bernama Louis Réard datang dengan desain yang jauh lebih berani. Ia membuat pakaian renang yang memperlihatkan bagian pusar, sesuatu yang saat itu dianggap sangat nekat dan mengejutkan publik.
Louis Réard kemudian memberi nama desainnya “bikini”, terinspirasi dari Bikini Atoll di Samudera Pasifik, lokasi uji coba bom atom milik Amerika Serikat. Ia berharap efek kehebohan desainnya bisa “meledak” sebesar ledakan nuklir yang sedang ramai dibicarakan dunia kala itu.
Nama itu ternyata benar-benar bikin geger. Banyak model profesional menolak memakai bikini karena dianggap terlalu vulgar untuk ditampilkan di depan umum. Akhirnya Réard harus mencari penari kelab malam bernama Micheline Bernardini untuk menjadi orang pertama yang memamerkan bikini kepada media.
Setelah diluncurkan, kontroversi langsung pecah di mana-mana. Banyak negara menganggap bikini sebagai simbol kemerosotan moral. Italia, Spanyol, hingga beberapa wilayah di Amerika Serikat sempat melarang penggunaan bikini di pantai publik.
Penolakan juga datang dari kalangan agama dan kelompok konservatif. Mereka menilai pakaian tersebut terlalu terbuka dan tidak pantas dipakai di ruang umum. Bahkan di beberapa kontes kecantikan era 1950-an, bikini sempat dilarang tampil karena dianggap memicu protes masyarakat.
Meski begitu, dunia hiburan perlahan mengubah cara pandang publik. Sejumlah aktris Hollywood mulai tampil percaya diri mengenakan bikini di film maupun pemotretan majalah. Dari situ, citra bikini perlahan berubah dari simbol skandal menjadi bagian gaya hidup modern.
Nama-nama seperti Marilyn Monroe dan Brigitte Bardot ikut membuat bikini makin populer di mata dunia. Mereka tampil glamor dan santai dengan pakaian renang minim tersebut, membuat banyak orang mulai menganggap bikini sebagai simbol kebebasan dan fashion musim panas.
Salah satu momen paling ikonik terjadi saat aktris Ursula Andress muncul dari laut mengenakan bikini putih dalam film Dr. No pada awal 1960-an. Adegan itu begitu terkenal sampai dianggap sebagai titik balik yang membuat bikini diterima luas oleh masyarakat internasional.
Setelah era itu, bikini terus berubah mengikuti tren zaman. Tahun 1980-an dipenuhi warna neon mencolok dan model potongan tinggi di bagian pinggul. Masuk era 1990-an, gaya sporty ala penjaga pantai televisi mulai mendominasi tren pantai dunia.
Awal 2000-an, bikini kembali berubah jadi lebih glamor dengan tambahan aksesori berkilau dan desain yang lebih berani. Media sosial dan budaya selebriti juga ikut membuat tren fashion pantai berkembang semakin cepat dari tahun ke tahun.
Sekarang, bikini bukan cuma soal gaya seksi atau tren pantai semata. Banyak brand fashion mulai fokus pada desain yang lebih nyaman, ramah lingkungan, dan inklusif untuk berbagai bentuk tubuh. Bahan daur ulang hingga ukuran yang lebih beragam mulai jadi perhatian utama industri fashion modern.
Perjalanan bikini akhirnya menunjukkan bahwa dunia fashion selalu bergerak mengikuti perubahan budaya dan cara pandang masyarakat. Sesuatu yang dulu dianggap tabu dan bikin heboh, perlahan bisa berubah jadi bagian normal dari kehidupan sehari-hari.
Dari sekadar potongan kain kecil yang dulu ditolak di banyak tempat, bikini kini justru menjelma jadi ikon fashion musim panas dunia. Ceritanya bukan cuma soal pakaian renang, tapi juga tentang perubahan zaman, kebebasan berekspresi, dan bagaimana budaya pop bisa mengubah pandangan masyarakat global. (*)

