BACAAJA, JAKARTA – Di saat mayoritas bursa saham Asia kompak menghijau, nasib beda justru dialami pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) malah ambruk hingga 3,54 persen pada perdagangan Kamis (21/5/2026).
Sampai pukul 10.00 WIB, IHSG jatuh ke level 6.186. Pelemahan ini terjadi bersamaan dengan nilai tukar rupiah yang kembali melemah ke Rp17.669 per dolar AS, mendekati level terendah sepanjang sejarah.
Pada akhir sesia, IHSG ditutup pada level 6.094 atau melemah 224 poin. Setara minus 3,54 persen. Bursa saham Indonesia terbakar saat pasar modal negara lain di Asia tumbuh positif.
Bacaaja: IHSG Ambruk saat Prabowo Pidato di Paripurna DPR
Bacaaja: IHSG Ambrol Purbaya Murka! Perintahkan BEI Beresin Saham Gorengan Sebelum Maret
Yang bikin makin jadi sorotan, jatuhnya indeks tersebut juga berbanding terbalik dengan bursa Asia yang justru kompak menghijau, seperti KOSPI (Korea Selatan), KOSDAQ (Korea Selatan), NIKKEI 225 (Jepang), TW Weighted Index (Taiwan), Topix (Jepang), hingga Straits Times (Singapura).
Menanggapi kondisi itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi menilai kepanikan pasar terjadi karena investor masih belum memahami dampak kebijakan pemerintah yang sedang disiapkan.
“Mungkin mereka belum tahu dampak sebenarnya seperti apa. Kalau ada ketidakpastian biasanya takut jual dulu,” kata Purbaya di Jakarta.
Menurutnya, pasar bakal berubah kalau investor mulai melihat efek nyata kebijakan pemerintah terhadap ekonomi dan perusahaan-perusahaan di dalam negeri.
Salah satu langkah yang tengah disiapkan pemerintah adalah pembentukan badan ekspor baru. Badan ini nantinya ditujukan untuk menekan praktik under-invoicing yang selama ini disebut sering terjadi di sektor ekspor.
Praktik under-invoicing sendiri merupakan modus ketika nilai barang dalam dokumen dibuat lebih rendah dari harga sebenarnya. Akibatnya, keuntungan perusahaan bisa lari ke luar negeri lewat anak usaha atau afiliasi perusahaan.
Purbaya yakin, kalau praktik itu berhasil ditekan, keuntungan perusahaan bakal lebih transparan dan tercermin langsung di laporan keuangan emiten yang tercatat di bursa.
“Harusnya ini bisa meningkatkan valuasi perusahaan-perusahaan di bursa. Pelan-pelan akan naik signifikan,” ujarnya.
Meski begitu, kondisi pasar hari ini tetap bikin banyak investor waswas. Apalagi tekanan terhadap rupiah dan IHSG datang di tengah sentimen global yang justru sedang cukup positif di kawasan Asia. (*)

