BACAAJA, SEMARANG – Suara tikus di plafon rumah sering dianggap gangguan biasa. Ada juga yang cuma kesal karena makanan di dapur jadi berantakan atau kabel digigit sampai rusak. Tapi belakangan, perhatian soal hewan pengerat ini makin serius setelah muncul pembahasan tentang hantavirus, virus yang bisa menular ke manusia dan punya risiko mematikan.
Virus hanta bukan penyakit yang datang dari orang batuk atau bersin seperti flu biasa. Penularannya justru sering terjadi dari partikel kecil di udara yang berasal dari urin, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi. Masalahnya, tikus pembawa virus ini sering terlihat sehat-sehat saja sehingga banyak orang tidak sadar kalau lingkungan sekitarnya sebenarnya sudah terkontaminasi.
Yang bikin ngeri, manusia tidak punya kekebalan alami terhadap hantavirus. Sampai sekarang juga belum ada vaksin maupun obat khusus yang benar-benar bisa mengatasi infeksi virus tersebut. Karena itu, langkah paling penting justru ada di pencegahan sebelum penularan terjadi.
Dokter spesialis mikrobiologi klinik dari Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Leonardus Widyatmoko, mengingatkan kalau cara membersihkan bekas tikus di rumah tidak boleh sembarangan. Banyak orang masih punya kebiasaan langsung menyapu kering kotoran tikus tanpa perlindungan apa pun, padahal langkah itu justru bisa membuat partikel virus beterbangan ke udara lalu terhirup.
Menurut Leonardus, area yang diduga terkontaminasi sebaiknya tidak langsung disapu atau dipel kering. Langkah aman yang dianjurkan adalah menyemprotkan desinfektan terlebih dahulu, bisa menggunakan cairan berbahan klorin atau alkohol agar virus lebih dulu dinonaktifkan sebelum dibersihkan.
Selain itu, penggunaan alat pelindung diri juga penting meski hanya membersihkan gudang atau sudut rumah. Sarung tangan dan masker jadi perlengkapan dasar yang sebaiknya tidak dilewatkan karena partikel virus bisa masuk lewat saluran pernapasan.
Sebelum proses pembersihan dimulai, ventilasi rumah juga dianjurkan dibuka lebih dulu sekitar 30 menit. Tujuannya agar udara di ruangan berganti dan sirkulasi menjadi lebih baik. Langkah sederhana ini sering disepelekan, padahal cukup membantu mengurangi risiko menghirup partikel berbahaya di ruang tertutup.
Risiko penularan biasanya meningkat di tempat yang lama tidak dibuka. Gudang tua, garasi, lumbung, loteng, sampai bangunan kosong jadi lokasi favorit tikus bersarang. Ketika area itu dibersihkan tanpa prosedur aman, peluang paparan virus ikut meningkat.
Situasi pascabanjir juga dianggap rawan. Saat banjir datang, tikus dan hewan pengerat lain sering berpindah masuk ke permukiman warga untuk mencari tempat aman. Kondisi itu membuat interaksi manusia dengan rodensia jadi lebih dekat dibanding biasanya.
Karena itu, warga yang baru membersihkan rumah setelah banjir disarankan ekstra hati-hati. Banyak orang fokus membersihkan lumpur dan sampah, tapi lupa kalau sisa kotoran tikus yang terbawa banjir juga bisa menjadi sumber penyakit berbahaya.
Kementerian Kesehatan menyebut semua orang berpotensi tertular hantavirus tanpa memandang usia maupun jenis kelamin. Siapa pun yang punya kontak dengan tikus atau lingkungan terkontaminasi tetap memiliki risiko terpapar.
Ada beberapa pekerjaan yang dinilai lebih rentan terkena paparan virus hanta. Petugas kebersihan gedung lama, pekerja konstruksi, petugas kehutanan, hingga pengendali hama termasuk kelompok yang harus lebih waspada karena sering bersinggungan langsung dengan habitat tikus.
Orang yang hobi berkemah juga tidak sepenuhnya aman. Area alam terbuka yang menjadi tempat bersarang rodensia bisa meningkatkan risiko paparan jika kebersihan makanan dan perlengkapan tidak dijaga dengan baik.
Pencegahan sebenarnya bisa dimulai dari langkah sederhana di rumah. Menutup lubang kecil di dinding, plafon, atau saluran air menjadi cara penting agar tikus tidak mudah masuk ke dalam rumah. Banyak orang baru sadar ada tikus setelah populasinya keburu banyak.
Penggunaan perangkap tikus juga bisa membantu mengurangi jumlah rodensia di lingkungan rumah maupun kantor. Semakin sedikit tikus yang berkeliaran, semakin kecil pula kemungkinan lingkungan terkontaminasi virus.
Makanan dan minuman juga perlu dijaga agar tidak terbuka sembarangan. Tikus sering naik ke meja dapur atau tempat penyimpanan makanan saat malam hari. Jika makanan terkena kotoran atau air liur tikus, risiko penularan penyakit ikut meningkat.
Hantavirus sendiri punya gejala yang berbeda tergantung jenis virus yang menyerang tubuh manusia. Pada tipe tertentu, penderita bisa mengalami gangguan ginjal akut yang cukup serius dan membutuhkan penanganan intensif.
Jenis lain bisa menyerang paru-paru dan menyebabkan gangguan pernapasan berat. Kondisi ini dikenal sebagai Hantavirus Pulmonary Syndrome atau HPS yang bisa berkembang cepat hingga mengancam nyawa pasien.
Beberapa jenis hantavirus diketahui banyak ditemukan di wilayah Asia dan Eropa, termasuk Indonesia. Sementara tipe Andes yang sempat ramai dibahas belakangan tersebar di kawasan Amerika dan disebut bisa menular antarmanusia dalam kondisi tertentu.
Kasus virus Andes sempat menjadi perhatian dunia setelah dilaporkan menyebabkan kematian beberapa penumpang kapal pesiar yang melakukan perjalanan dari Argentina menuju Spanyol. Kejadian itu membuat pembahasan soal hantavirus kembali ramai dibicarakan.
Meski terdengar menyeramkan, para ahli menilai kepanikan berlebihan juga tidak diperlukan. Yang jauh lebih penting adalah memahami cara penularannya dan menerapkan kebiasaan bersih yang benar, terutama saat membersihkan area yang berpotensi menjadi sarang tikus.
Hal sederhana seperti memakai masker saat bersih-bersih, tidak menyapu kotoran tikus dalam kondisi kering, serta rutin menjaga rumah tetap rapi ternyata bisa menjadi benteng awal agar virus hanta tidak gampang masuk ke lingkungan tempat tinggal. (*)

