Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Eksistensi Sedekah Bumi di Tengah Hegemoni Budaya Industri
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Eksistensi Sedekah Bumi di Tengah Hegemoni Budaya Industri

Redaktur Opini
Last updated: Mei 11, 2026 11:42 am
By Redaktur Opini
7 Min Read
Share
SHARE

Yasin Fajar, pengelola buletin Check Your People, Semarang. Alumnus LPM Vokal, UPGRIS.

Orang tua yang berprofesi sebagai petani justru mengharapkan agar keturunannya tidak berprofesi sebagai petani.

 

Kalau ditanya di Pati sedang ramai apa? Jawabnya ialah Sedekah Bumi. Kondisi topografi mayoritas wilayahnya dataran rendah, masyarakat Pati memiliki keterikatan dengan sektor pertanian. Sektor pertanian yang melekat pada ranah keseharian warga tersebutlah, yang pada akhirnya melahirkan suatu kebudayaan di masyarakat Pati, salah satunya Sedekah Bumi.

Tradisi yang selalu diperingati rutin setiap tahun itu dimaknai warga setempat sebagai bentuk menghormati leluhur mereka karena telah membuka pemukiman. Biasanya warga memahami peran leluhur mereka sebagai tokoh yang telah membabat alas (hutan).

Kemudian lahan yang telah dibuka tersebut dipergunakan untuk tempat huni dan pemenuhan kehidupan melalui bercocok tanam. Dari hal tersebutlah setiap momen Sedekah Bumi dimaknai warga setempat sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil yang ia tanam.

Tradisi Sedekah Bumi dipahami sebagai bentuk penghormatan ke leluhur dan ungkapan rasa syukur diwariskan secara turun temurun ke generasi selanjutnya. Seperti pengetahuan setiap momen sedekah bumi, harus ada pertunjukan kesenian tradisional yang harus diselenggarakan di sebuah tempat yang diperkirakan sebagai lokasi cikal bakal terbentuknya sebuah desa. Biasanya warga menyebutnya dengan istilah punden.

Selain itu, karena sedekah bumi dimaknai sebagai salah satu tradisi yang menyimbolkan ungkapan rasa syukur terhadap hasil panen, maka serangkain sedekah bumi tidak terlepas dari arak-arakan gunungan. Kerennya pengetahuan itu tidak hanya dipahami segelintir orang seperti sesepuh desa, tapi sudah jadi pemahaman bersama warga setempat.

Sebagai produk budaya, Sedekah Bumi dibentuk serta dipengaruhi realitas kondisi sekitar. Terlebih lagi pemaknaannya berlangsung turun-temurun dianggap sebagai ungkapan rasa syukur terhadap hasil panen. Ungkapan itu terduplikasi melalui arak-arakan gunungan yang berisi hasil-hasil bumi, seperti padi, palawija, dan sayur-sayuran.

Dari hal tersebut, Sedekah Bumi bisa dimaknai sebagi suatu bentuk upaya masyarakat dahulu memahami lingkungan sekitarnya. Pertanyaannya kemudian, lantas bagaimana jika masyarakat yang hidup di desa saat ini, yang corak kehidupannya tidak lagi agraris? Apakah pemahaman akan Sedekah Bumi juga turut tergerus?

Melihat situasi sekarang, gunungan-gunungan sedekah bumi itu tidak lagi dihiasi hasil-hasil bumi, tapi dengan beragam snack (cemilan) dan perabotan dapur. Jika tidak kebagian jajanan kemasan, ada selebaran uang yang bisa dipergunakan untuk beli snack maupun perabotan.

Di tengah masyarakat yang perputaran ekonominya tidak lagi bertumpu pada hasil pertanian, warga kemudian menggunakan bahan-bahan yang dekat dengan mereka untuk dijadikan gunungan. Berhubung aktivitas pertanian tidak jadi kesibukan harian mayoritas warga, serta yang berprofesi sebagai petani hasil panennya dijual ke tengkulak, maka sangat mungkin gunungan itu disusun dari berbagai snack.

Sebaliknya, jajanan kemasan yang harganya seribuan sampai tiga ribuan, jajanan jenis itu mudah ditemukan warga di toko-toko grosir. Perubahan isian gunungan pada akhirnya bukan sekadar permasalahan estetika belaka, tapi juga simbol perubahan struktur kehidupan masyarakat desa itu sendiri.

Peristiwa itu tidak bisa dilihat sebagai kejadian yang berdiri sendiri. Ada hubungan sebab akibat dari fenomena tersebut. Gunungan yang biasanya disusun dari hasil bumi kok sekarang disusun dari makanan ringan? Karena masyarakat tidak lagi bekerja sebagai petani. Yang perlu kita cari tahu bersama ialah, kenapa di wilayah dengan kondisi geografis persawahan, tetapi masyarakatnya justru tidak lagi berprofesi sebagai petani?

Hal ini tentu tidak bisa dilepaskan dari pola pandang ideal suatu masyarakat hari ini. Tidak terkecuali masyarakat yang hidup di pedesaan yang kiri kanannya persawahan. Semua itu mengalami pergeseran. Dulu masyarakat tradisional berfokus pada produksi, yang tolak ukur keberhasilannya ditinjau dari barang yang mereka tanam untuk mencukupi kebutuhan harian mereka. Wajar kalau masyarakat memiliki keterikatan yang cukup erat dengan alam sekitarnya. Karena tanah dan unsur sekitarnya merupakan alat penopang pemenuhan kebutuhan dasar mereka di sektor pertanian.

Kedekatan masyarakat dengan alam sekitarnya diinterpretasikan dalam Sedekah Bumi. Hal ini selaras dengan pernyataan Cliford Geertz, kebudayaan adalah jalinan makna yang memberi ruang kepada manusia menginterpretasikan pengalamanya dan selanjutnya menuntun tingkah lakunya. Sedangkan yang terjadi saat ini justru berbanding terbalik. Tingkat keberhasilan diukur dari barang-barang yang dikonsumsi sesuai dengan apa yang sedang ramai di pasar.

Pada akhirnya berbagai hal tersebut mengubah corak pandang masyarakat yang ada di desa. Jika dahulu pola produksi sebatas mencukupi kebutuhan harian, saat ini dari aktivitas produksi justru mampu membeli hal-hal lain. Mau tidak mau sektor pertanian akhirnya menjadi komoditas dagang yang bisa menghasilkan keuntungan lebih. Lalu ketika dirasa dari pertanian tidak mampu mengakomodir kedua aspek tersebut, maka masyarakat desa memilih untuk mencari pekerjaan diluar sektor bercocok tanam.

Tak ayal jika kita jumpai banyak anak muda di desa memilih bekerja di pabrik sepatu, atau mencoba peruntungan dengan menjadi tenaga kerja di luar kota hingga luar negeri. Bahkan orang tua yang berprofesi sebagai petani mengharapkan agar keturunannya tidak berprofesi sebagai petani.

Fenomena semacam itu menempatkan aktivitas bekerja sebagai upaya menopang pola konsumsi yang akan terus bergulir. Pola masyarakat yang cenderung konsumtif ini yang akhirnya membawa masyarakat pada kondisi sebagai pengikut suatu budaya tanpa dasar yang kuat.

Di titik inilah hagemoni budaya bekerja. Nilai-nilai konsumsi dan logika pasar perlahan menjadi tolok ukur memandang keberhasilan masyarakat desa. Masyarakat tidak dipaksa meninggalkan identitas agrarisnya secara langsung, tetapi secara perlahan diyakinkan bahwa kehidupan modern adalah kehidupan yang dekat dengan industri, konsumsi, dan tren pasar. Akibatnya, relasi masyarakat dengan tanah semakin renggang, sementara tradisi tetap dijalankan dalam bentuk yang telah mengalami penyesuaian dengan logika zaman.

Hal-hal tersebut di ataslah yang melatari alasan masyarakt masih menjalankan tradisi Sedekah Bumi, meskipun tidak lagi berangkat dari satu interpretasi yang sama. Ada faktor yang disesuaikan dengan relevansi yang sedang terjadi di masyarakat hari ini.

Dengan warga masih mengingat tradisi Sedekah Bumi, melakukan karnaval, itu salah satu upaya warga membangun keterikatan dengan ruang hidup dan leluhurnya. Wajar ika kita jumpai gunungan yang tak lagi disusun oleh hasil bumi, bahkan ke depannya deretan karnaval tak lagi berbaris gunungan melainkan barisan sound. (*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Mau Menang atau Kalah, MU Tetap Lucu Bahkan Bagi Saya yang Tidak Terlalu Suka Sepak Bola

Bagaimana Film “Na Willa” Memotret Pola Pengasuhan dan Pendidikan Anak?

Cukai Khusus Rokok Ilegal: Menimbang Jalan Tengah antara Penertiban dan Keadilan Fiskal

Sekolah Enam Hari, Solusi atau Nostalgia?

Kita Ringkih dan Kalah, Tetapi Keras Kepala dan Enggan Menyerah

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article DEKLARASI PENDIRIAN YAKUZA - Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati menghadiri deklarasi pendirian Yakuza Maneges, yang diinisiasi dan dideklarasikan oleh cucu Gus Miek, Den Gus Thuba Topo Broto Maneges, pada Minggu (10/5/2026). (ist) Pendirian Yakuza di Kediri Dihadiri Polisi, Deklarator Bukan Tokoh Kaleng-kaleng
Next Article AXIS CUP 2026 Buka Jalan Gamer Daerah Jadi Pro Player

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

AXIS CUP 2026 Buka Jalan Gamer Daerah Jadi Pro Player

Eksistensi Sedekah Bumi di Tengah Hegemoni Budaya Industri

DEKLARASI PENDIRIAN YAKUZA - Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati menghadiri deklarasi pendirian Yakuza Maneges, yang diinisiasi dan dideklarasikan oleh cucu Gus Miek, Den Gus Thuba Topo Broto Maneges, pada Minggu (10/5/2026). (ist)

Pendirian Yakuza di Kediri Dihadiri Polisi, Deklarator Bukan Tokoh Kaleng-kaleng

Ilustrasi judi online (judol). (grafis/tera).

320 WNA Sindikat Judol Internasional Digulung Polisi, Siapa Beking Mereka?

22 Siswa SMK Pelaku Perusakan Sekolah di Kebumen Diamankan

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Ketika Alam Membalas Tuntas

Desember 2, 2025
Opini

Ketika Wakil Rakyat Merasa Tersaingi Rakyatnya Sendiri

Desember 15, 2025
Opini

Emas, Imajinasi Global, dan Realitas Nilai Tukar

Februari 16, 2026
Opini

Ada Kalanya Tak Perlu Menolak Lupa

Mei 8, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Eksistensi Sedekah Bumi di Tengah Hegemoni Budaya Industri
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?