BACAAJA, SEMARANG — Di tengah hidup yang makin keras dan harga kebutuhan yang rasanya makin nggak ramah, sepiring nasi hangat bisa terasa lebih dari sekadar makanan.
Itulah yang terlihat dalam kegiatan Dapur Marhaen yang digelar PDI Perjuangan Jawa Tengah di Semarang. Suasananya sederhana. Nggak mewah, tapi hangat.
Satu per satu warga datang. Ada driver ojol, tukang becak, buruh harian, sampai pemulung. Sebagian tahu dari teman, sebagian lagi cuma dengar kabar dari mulut ke mulut.
Bacaaja: Pengobatan Gratis di Panti Marhaen Kembali Diserbu Warga
Bacaaja: Mbah Sunarti, Datang Bertongkat, Pulang Bawa Obat Gratis dan Senyum Lega
Buat mereka, tempat itu bukan cuma lokasi makan gratis. Tapi juga ruang kecil untuk merasa “dilihat”.
Di tengah antrean warga, ada Yanto (51). Sehari-hari ia keliling mencari rosok untuk dijual kembali.
Kalau lagi beruntung, bisa bawa pulang uang lumayan. Kalau sepi? Ya seadanya.
“Kalau enggak ada kegiatan begini ya saya cari rosok keliling,” katanya pelan, Minggu (10/5/2026).
Penghasilannya nggak menentu. Kadang sehari cuma dapat belasan ribu rupiah. Tapi kebutuhan rumah tetap harus jalan.
Karena itu, buat Yanto, makan gratis seperti ini bukan hal kecil.
“Ya lumayan, makan dapat, jadi bisa sedikit membantu,” ujarnya sambil tersenyum.
Cerita serupa datang dari Al-Muthohar (67), seorang pemulung yang juga ikut antre menikmati makan gratis.
Di usianya yang nggak lagi muda, ia masih harus memungut botol plastik dan barang bekas demi bertahan hidup. Makanya, saat ditanya soal harapannya, jawabannya sederhana banget.
“Kalau bisa tiap hari,” katanya.
Bukan tanpa alasan. Menurutnya, masih banyak warga kecil yang tiap hari pusing mikirin makan dan pekerjaan.
“Kalau rakyat kecil kayak saya ini dibantu, ya senang. Kami jadi merasa diperhatikan,” ujarnya.
Nggak cuma makan gratis, layanan pengobatan gratis di lokasi juga jadi hal yang paling disyukuri warga.
“Kesehatan juga bagus. Orang sakit bisa periksa gratis, itu membantu sekali,” tambahnya.
Buat banyak orang, program kayak gini mungkin terlihat sederhana. Tapi buat warga seperti Yanto dan Al-Muthohar, perhatian kecil bisa terasa besar.
Karena kadang, yang dibutuhkan rakyat kecil bukan cuma bantuan materi. Tapi juga perasaan bahwa mereka belum dilupakan. (dul)

