BACAAJA, MADINAH – Gelombang jemaah haji Indonesia terus memenuhi Tanah Suci. Suasana di Makkah dan Madinah kini makin ramai dengan lautan pakaian ihram putih yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Sampai Sabtu siang waktu Arab Saudi, tercatat sudah 120.200 jemaah Indonesia tiba untuk menjalankan rangkaian ibadah haji tahun 2026.
Data terbaru dari Kementerian Haji dan Umrah menunjukkan para jemaah tersebut tergabung dalam 310 kelompok terbang atau kloter. Jumlah itu terus bertambah seiring kedatangan penerbangan dari berbagai embarkasi di Indonesia yang masih berlangsung setiap hari.
Sebagian besar jemaah diketahui sudah berada di Madinah. Total ada 103.700 jemaah gelombang pertama yang kini telah menempati hotel-hotel di sekitar Masjid Nabawi dan mulai menjalani aktivitas ibadah harian mereka di kota suci tersebut.
Sementara itu, jemaah gelombang kedua mulai memadati Makkah setelah mendarat melalui Bandara Internasional King Abdul Aziz di Jeddah. Sampai saat ini, sebanyak 16.427 jemaah yang tergabung dalam 43 kloter telah tiba dan langsung melanjutkan perjalanan menuju Makkah untuk menjalani umrah wajib.
Kedatangan jemaah Indonesia di Makkah membuat suasana kawasan Masjidil Haram makin padat. Banyak jemaah terlihat tak kuasa menahan haru ketika pertama kali melihat Ka’bah secara langsung. Tangisan, doa, dan pelukan sesama jemaah menjadi pemandangan yang hampir terus terlihat di pelataran masjid suci itu.
Juru Bicara Kemenhaj, Ichsan Marsha, menjelaskan bahwa para jemaah yang sudah berada di Makkah saat ini tengah mempersiapkan diri menuju puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina atau yang sering disebut Armuzna.
Menurut Ichsan, kondisi para jemaah secara umum masih cukup baik meski ada sebagian yang mulai mengalami gangguan kesehatan akibat cuaca panas dan aktivitas fisik yang cukup padat selama di Tanah Suci.
Ia menyebut hingga saat ini terdapat sekitar 170 jemaah yang harus dirujuk ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia atau KKHI untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut. Mayoritas mengalami kelelahan, gangguan pernapasan, hingga penyakit bawaan yang kambuh selama menjalankan ibadah.
Selain itu, total 352 jemaah Indonesia juga tercatat pernah dirujuk ke rumah sakit di Arab Saudi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 77 jemaah masih menjalani perawatan intensif karena membutuhkan pengawasan medis lebih lanjut.
Di tengah suasana ibadah yang penuh haru, kabar duka juga datang dari sejumlah jemaah Indonesia yang wafat di Tanah Suci. Pada Jumat lalu, empat jemaah dilaporkan meninggal dunia saat menjalankan rangkaian ibadah haji.
Mereka adalah Ngadikin Harjowiyono asal Kulon Progo, Sibiatun Saji dari Lamongan, Munisah Ijil Muhammad asal Lombok Tengah, dan Siti Totou Umar dari Ternate. Kepergian mereka meninggalkan duka mendalam bagi keluarga maupun sesama jemaah yang berada di Tanah Suci.
Dengan tambahan tersebut, total jemaah haji Indonesia yang wafat di Arab Saudi kini mencapai 20 orang. Sebagian besar meninggal karena kondisi kesehatan yang menurun di tengah cuaca panas dan aktivitas ibadah yang sangat menguras tenaga.
Kabar duka juga datang dari dalam negeri terkait satu jemaah asal Indonesia yang meninggal sebelum sempat tiba di Tanah Suci. Jemaah bernama Sutrisno Agus Widodo dari Kabupaten Blora dilaporkan mengalami sakit saat penerbangan menuju Arab Saudi.
Pesawat yang ditumpangi almarhum sempat melakukan technical landing di Bandara Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara. Setelah itu, jemaah langsung dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun nyawanya tidak berhasil diselamatkan.
Cerita tersebut membuat banyak calon jemaah lain ikut tersentuh. Perjalanan haji memang bukan sekadar perjalanan biasa, tetapi ibadah panjang yang membutuhkan kesiapan fisik, mental, dan kesehatan yang benar-benar kuat.
Di tengah kondisi cuaca Arab Saudi yang mulai terasa ekstrem, petugas kesehatan terus mengingatkan jemaah agar tidak memaksakan diri beribadah tanpa memperhatikan kondisi tubuh. Suhu panas yang tinggi bisa memicu dehidrasi hingga kelelahan berat, terutama bagi jemaah lanjut usia.
Banyak jemaah juga mulai diingatkan untuk memperbanyak minum air putih, menggunakan payung saat keluar hotel, dan mengatur waktu aktivitas supaya tidak terlalu lama berada di bawah terik matahari.
Meski menghadapi berbagai tantangan, semangat jemaah Indonesia tetap terlihat luar biasa. Banyak di antara mereka mengaku sudah menunggu puluhan tahun untuk bisa sampai ke Tanah Suci dan menjalankan ibadah haji secara langsung.
Suasana kebersamaan juga terasa sangat kuat di antara para jemaah. Mereka saling membantu, berbagi makanan, hingga menjaga teman satu rombongan yang mulai kelelahan saat menjalani aktivitas ibadah.
Petugas haji Indonesia pun terus bekerja hampir tanpa henti untuk memastikan seluruh kebutuhan jemaah tetap terpenuhi. Mulai dari konsumsi, transportasi, kesehatan, hingga pendampingan ibadah terus dilakukan setiap hari di tengah padatnya aktivitas musim haji.
Kemenhaj juga menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya para jemaah Indonesia. Doa terus dipanjatkan agar seluruh almarhum dan almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.
Di sisi lain, pemerintah kembali mengingatkan seluruh jemaah agar fokus menjaga kesehatan menjelang puncak ibadah haji. Karena rangkaian Armuzna nanti diperkirakan akan menjadi fase paling berat dan menguras tenaga selama musim haji berlangsung.
Kini, jutaan doa dari Indonesia seolah ikut terbang menuju Tanah Suci. Di balik lautan ihram putih yang memenuhi Makkah dan Madinah, tersimpan harapan besar agar seluruh jemaah bisa menyelesaikan ibadah dengan lancar, sehat, dan pulang membawa haji yang mabrur. (*)

