BACAAJA, JAKARTA – Suasana ibadah haji di Tanah Suci mulai terasa makin padat seiring mendekatnya puncak pelaksanaan haji. Di tengah semangat jamaah yang ingin memaksimalkan ibadah selama berada di Makkah, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji atau PPIH Arab Saudi justru mengeluarkan imbauan yang cukup tegas. Jamaah haji Indonesia diminta tidak terlalu sering menjalani umrah sunnah sebelum fase penting haji dimulai.
Imbauan itu bukan tanpa alasan. PPIH ingin kondisi fisik jamaah tetap terjaga agar tidak kelelahan saat memasuki rangkaian ibadah utama di Arafah, Muzdalifah, dan Mina atau yang biasa disebut Armuzna. Sebab, banyak jamaah yang terlalu memforsir tenaga sejak awal tiba di Tanah Suci karena merasa sayang jika melewatkan kesempatan beribadah sebanyak mungkin.
Kasi Bimbingan Ibadah PPIH Arab Saudi Daker Makkah, Erti Herlina, menjelaskan bahwa saat ini jamaah hanya diperbolehkan menjalani umrah sunnah maksimal tiga kali sebelum fase Armuzna berlangsung. Aturan itu juga sudah disampaikan kepada Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah atau KBIHU agar diteruskan kepada jamaah masing-masing.
Menurut Erti, fokus utama PPIH saat ini bukan sekadar memberi ruang ibadah sebanyak-banyaknya, melainkan memastikan jamaah Indonesia tetap kuat saat menjalani puncak haji yang jauh lebih berat secara fisik. Karena itu, pembatasan umrah sunnah dianggap penting agar jamaah tidak tumbang lebih dulu sebelum wukuf dimulai.
Banyak jamaah memang merasa mumpung sudah berada di depan Ka’bah, sehingga hampir setiap hari ingin mengambil miqat lalu menjalani umrah lagi. Padahal aktivitas itu cukup menguras tenaga, apalagi di tengah cuaca panas ekstrem dan kepadatan jamaah yang terus meningkat menjelang puncak musim haji.
Kondisi paling rentan biasanya dialami jamaah lanjut usia. Tidak sedikit lansia yang memaksakan diri tetap ikut umrah berkali-kali karena semangat ibadah yang tinggi, meski tubuh sebenarnya sudah mulai kelelahan. Situasi seperti ini yang coba dicegah oleh petugas haji Indonesia.
PPIH khawatir jamaah nantinya menjalani fase wukuf, mabit hingga lempar jumrah dengan kondisi tubuh yang sudah terkuras. Jika tenaga habis sebelum Armuzna, maka rangkaian ibadah utama haji bisa terasa jauh lebih berat dan berisiko bagi kesehatan jamaah.
Bagi banyak orang, kesempatan berhaji datang setelah penantian bertahun-tahun. Karena itu, PPIH ingin jamaah benar-benar berada dalam kondisi prima saat memasuki momen paling penting dalam ibadah haji, bukan justru jatuh sakit akibat terlalu memforsir diri di awal keberangkatan.
Selain soal umrah sunnah, PPIH Arab Saudi juga mulai memperketat aktivitas jamaah di luar agenda utama. Salah satunya dengan melarang KBIHU mengadakan city tour atau perjalanan ziarah ke luar Kota Makkah dan Madinah sebelum fase Armuzna selesai.
Langkah ini diambil untuk mengurangi mobilitas jamaah yang dinilai bisa memperbesar risiko kelelahan. Perjalanan jarak jauh, cuaca panas, serta aktivitas padat di luar hotel dianggap berpotensi membuat kondisi fisik jamaah cepat drop.
Dalam edarannya, PPIH menetapkan beberapa aturan yang wajib dipatuhi KBIHU. Pertama, mereka dilarang mengagendakan ataupun memfasilitasi city tour dan ziarah ke luar Makkah maupun Madinah sebelum rangkaian Armuzna berakhir.
Aturan kedua menekankan bahwa seluruh program pendampingan jamaah sebelum Armuzna harus difokuskan pada penguatan kesiapan fisik, mental, dan spiritual. Artinya, kegiatan yang terlalu menguras tenaga diharapkan mulai dikurangi.
PPIH ingin jamaah lebih banyak beristirahat, menjaga pola makan, serta memperbanyak ibadah yang tidak terlalu menguras fisik. Dengan begitu, stamina jamaah tetap terjaga ketika memasuki hari-hari paling berat dalam pelaksanaan haji.
Selain kesiapan fisik, kondisi mental jamaah juga ikut menjadi perhatian. Petugas ingin jamaah tetap tenang, fokus, dan tidak panik menghadapi jutaan manusia yang berkumpul di satu lokasi dalam waktu bersamaan selama puncak haji berlangsung.
Kesiapan spiritual pun dianggap sama pentingnya. Jamaah diharapkan bisa menjalani seluruh rangkaian ibadah secara khusyuk dan sesuai tuntunan manasik tanpa terganggu kondisi tubuh yang sudah telanjur lelah sejak awal.
Aturan ketiga yang diterbitkan PPIH adalah kewajiban melaporkan setiap pergerakan jamaah kepada petugas kloter, seksi perlindungan jamaah, dan sektor terkait. Hal ini dilakukan untuk memastikan pengawasan terhadap jamaah tetap berjalan maksimal.
Dengan laporan pergerakan yang jelas, petugas bisa lebih cepat mengetahui jika ada jamaah yang sakit, tertinggal rombongan, atau mengalami kendala di lapangan. Sistem ini juga penting untuk memudahkan koordinasi ketika situasi mulai padat menjelang Armuzna.
Di sisi lain, kebijakan pembatasan ini sempat memunculkan beragam respons dari jamaah. Ada yang memahami karena alasan kesehatan, namun ada juga yang merasa kesempatan berada di Tanah Suci terlalu berharga jika tidak dimanfaatkan untuk memperbanyak umrah.
Meski begitu, petugas terus mengingatkan bahwa inti utama ibadah haji ada pada rangkaian Armuzna. Jika kondisi fisik tidak dijaga sejak awal, maka jamaah justru bisa kesulitan menjalani ibadah yang paling wajib dan menentukan dalam haji.
Cuaca Arab Saudi yang panas juga menjadi faktor besar dalam pengambilan kebijakan ini. Temperatur siang hari yang bisa sangat tinggi membuat risiko dehidrasi dan kelelahan meningkat drastis, terutama bagi jamaah lansia dan yang punya riwayat penyakit bawaan.
Karena itu, jamaah kini lebih dianjurkan memperbanyak ibadah ringan di sekitar hotel atau Masjidil Haram tanpa harus terlalu sering mengambil perjalanan jauh untuk umrah tambahan. Petugas berharap jamaah bisa lebih bijak mengatur tenaga selama berada di Tanah Suci.
PPIH menilai menjaga kesehatan selama haji bukan berarti mengurangi ibadah. Justru dengan kondisi tubuh yang kuat, jamaah bisa menjalani seluruh proses haji dengan lebih nyaman, aman, dan maksimal hingga kembali ke tanah air nanti. (*)

