BACAAJA, SEMARANG- Ketua KONI Kota Semarang, Arnaz Agung Andrarasmara menilai, perkembangan olahraga di Kota Atlas dalam beberapa tahun terakhir cukup menjanjikan. Bukan cuma soal prestasi, tapi juga budaya olahraga yang makin hidup di tengah masyarakat.
Komunitas olahraga tumbuh, event makin sering digelar, dan partisipasi warga juga meningkat. Dari kejuaraan pelajar sampai event santai kayak lari bareng atau gowes, semuanya jadi bukti kalau olahraga mulai jadi gaya hidup, bukan sekadar kompetisi.
“Olahraga sekarang bukan cuma soal medali, tapi juga soal kualitas SDM dan karakter generasi muda,” kira-kira jadi garis besar yang disampaikan Arnaz.
Soal prestasi, Semarang jelas nggak main-main. Pada Porprov Jateng 2023, atlet-atlet Kota Lunpia keluar sebagai juara umum dengan total 461 medali. Dominasi ini jadi bukti kalau sistem pembinaan yang ada sejauh ini berjalan cukup konsisten.
Baca juga: Porprov 2026, Kota Semarang Bidik Dwi Sukses
Nggak cuma di level provinsi, atlet-atlet Semarang juga mulai unjuk gigi di level nasional bahkan internasional. Nama kota ikut terangkat, citra sebagai kota aktif dan kompetitif makin kuat.
Apalagi kalau dikaitkan dengan ekonomi, olahraga juga punya efek domino. Event olahraga bisa nggerakin UMKM, hotel, kuliner, sampai transportasi. Istilah kerennya: sport tourism lagi naik daun.
Tapi di balik itu semua, Arnaz nggak menutup mata soal tantangan. Pembinaan usia dini misalnya, sudah berjalan tapi masih perlu diperkuat. KONI ingin ke depan pencarian bakat dilakukan lebih serius dan berbasis data, bukan sekadar mengandalkan “feeling”.
Jadi Perhatian
“Regenerasi atlet jadi perhatian besar kami. Jangan sampai prestasi hari ini berhenti di generasi sekarang,” ucapnya. Soal fasilitas, Semarang memang sudah punya beberapa venue yang mumpuni. Tapi masalah klasik masih ada: belum merata.
“Akses olahraga harus bisa dirasakan semua warga, bukan cuma di titik tertentu,” jadi salah satu penekanan. Belum lagi soal anggaran dan kualitas SDM olahraga seperti pelatih yang masih perlu ditingkatkan. Karena itu, kolaborasi jadi kunci, baik dengan pemerintah, swasta, maupun komunitas.
Dalam waktu dekat, target KONI masih jelas: mempertahankan posisi sebagai kekuatan utama di Porprov dan meningkatkan jumlah atlet yang bisa tembus level nasional hingga internasional.
Cabang unggulan seperti atletik, renang, taekwondo, dan pencak silat masih jadi andalan. Tapi cabang lain juga mulai didorong supaya berkembang. Lebih dari itu, olahraga juga dilihat sebagai solusi sosial.
Baca juga: KONI Semarang Gaspol, Siap Jadi Tuan Rumah Kece!
Bisa jadi cara buat ningkatin kesehatan masyarakat, sekaligus “jalur positif” buat anak muda biar nggak terjebak hal-hal negatif. Pesan Arnaz ke generasi muda pun simpel: mulai aja dulu. “Jadikan olahraga sebagai gaya hidup. Dari situ bukan cuma prestasi yang lahir, tapi juga karakter dan daya juang,” pesannya.
Semarang boleh bangga dengan tumpukan medali. Tapi kalau regenerasi mandek dan fasilitas belum merata, podium itu bisa jadi cuma cerita lama. Karena jadi juara itu penting, tapi memastikan selalu punya calon juara, itu yang lebih penting. (tebe)
Tulisan ini bagian dari fokus utama bacaaja.co pekan ini, “Semarang di Usia 479: Antara Harapan Warga dan Tantangan Kota”. (Red)

