Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Kayuh Pelan, Mimpi Jalan: Tempe Mengantar Haji Mbah Kasidah
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

Kayuh Pelan, Mimpi Jalan: Tempe Mengantar Haji Mbah Kasidah

Perempuan itu adalah Mbah Kasidah, usia 75 tahun. Tubuhnya ramping, langkahnya tenang, tapi semangatnya seperti tak pernah habis. Selama puluhan tahun ia berjualan tempe di Pasar Panjatan, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tak ada toko megah, tak ada etalase mengilap, hanya lapak sederhana beralas karung dan lantai semen yang setiap hari menjadi saksi kerja kerasnya.

Nugroho P.
Last updated: April 25, 2026 7:20 pm
By Nugroho P.
6 Min Read
Share
Mbah Kasidah, usia 75 tahun.
SHARE

BACAAJA, KULONPROGO – Pagi di kampung Panjatan berjalan seperti biasa. Jalan kecil masih lengang, udara belum sepenuhnya panas, dan suara roda sepeda tua terdengar pelan memecah sepi. Di atas kayuhan yang tak lagi muda itu, seorang perempuan sepuh melintas sambil membawa bronjong berisi tempe. Muatannya tak banyak, tapi kisah di baliknya ternyata jauh lebih berat dari sekadar beberapa kilogram dagangan.

Perempuan itu adalah Mbah Kasidah, usia 75 tahun. Tubuhnya ramping, langkahnya tenang, tapi semangatnya seperti tak pernah habis. Selama puluhan tahun ia berjualan tempe di Pasar Panjatan, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tak ada toko megah, tak ada etalase mengilap, hanya lapak sederhana beralas karung dan lantai semen yang setiap hari menjadi saksi kerja kerasnya.

Tempe yang dijual bukan barang titipan. Semua dibuat sendiri di rumah. Dari memilih kedelai, merebus, meragi, membungkus dengan daun pisang, sampai membawanya ke pasar, semua dikerjakan dengan tangan sendiri. Rutinitas itu dijalani bukan seminggu dua minggu, melainkan puluhan tahun tanpa banyak jeda.

Ia mengaku mulai berjualan sejak awal menikah. Dari masa muda, masa anak-anak tumbuh, sampai kini sudah memiliki lima cucu, hidupnya nyaris selalu dekat dengan aroma kedelai hangat dan daun pisang segar. Saat orang lain mungkin sudah lama memilih berhenti bekerja, Mbah Kasidah justru tetap setia berangkat ke pasar.

Namun dari lapak kecil itu, diam-diam tumbuh mimpi besar. Bukan rumah mewah, bukan kendaraan baru, bukan juga tabungan untuk pamer gaya hidup. Sejak usia sekitar 35 tahun, ia menyimpan satu keinginan sederhana: ingin berangkat haji.

Mimpi itu tak diumbar ke mana-mana. Ia tak sibuk bercerita atau mengeluh soal sulitnya biaya. Caranya sederhana, bahkan nyaris klasik: menyisihkan uang sedikit demi sedikit. Sisa hasil jualan tempe dimasukkan ke tabungan. Kadang receh, kadang lembaran kecil. Yang penting rutin.

Selama kurang lebih 30 tahun, cara itu terus dijaga. Hari baik menabung, hari sepi tetap menabung. Ketika harga bahan naik, tetap berusaha menyimpan sedikit. Ketika tenaga mulai berkurang, semangatnya justru tak ikut turun.

Dari hasil kumpulan rupiah demi rupiah itu, tabungannya pernah mencapai sekitar Rp25 juta. Uang tersebut lalu dipakai sebagai setoran awal pendaftaran haji pada 2012. Setelah bertahun-tahun disimpan di celengan, akhirnya dana itu masuk ke tabungan resmi untuk langkah yang lebih serius.

Setelah mendaftar, perjalanan belum selesai. Justru babak sabar dimulai. Antrean haji di Indonesia memang panjang, dan Mbah Kasidah harus menunggu sekitar 14 tahun. Bagi banyak orang, masa tunggu sepanjang itu bisa bikin semangat pudar. Tapi tidak untuk dirinya.

Ia tetap berjualan seperti biasa. Tetap membuat tempe, tetap mengayuh sepeda, tetap datang ke pasar. Hari keberangkatan belum tiba, tapi ia memilih menjalani hidup dengan tenang sambil menunggu giliran.

Minggu-minggu ini, penantian panjang itu akhirnya terjawab. Tahun 2026 menjadi momen yang ia tunggu selama puluhan tahun. Namanya masuk daftar calon jemaah haji yang berangkat dari Kulon Progo.

Saat menghadiri acara pamitan jemaah haji di Aula Adikarta, Kantor Sekretariat Daerah Kulon Progo, penampilannya mencuri perhatian. Ia datang rapi dengan jilbab putih dan dress biru langit bermotif batik. Wajahnya bersih, senyumnya lepas, memancarkan kebahagiaan yang tak bisa dibuat-buat.

Banyak yang melihat sosok sederhana itu dengan rasa hormat. Bukan karena ia pejabat atau tokoh terkenal, melainkan karena cerita perjuangannya terasa dekat dan nyata. Seorang penjual tempe dari pasar tradisional, kini bersiap terbang ke Tanah Suci.

Mbah Kasidah juga mengatakan biaya pelunasan haji dibayar dari hasil kerja sendiri. Selain berjualan tempe, ia menambah pemasukan dengan menjual sapu lidi buatan tangan. Dari dua usaha sederhana itu, kebutuhan besar bisa dipenuhi pelan-pelan.

Cerita ini terasa menampar anggapan bahwa mimpi besar hanya milik orang berpenghasilan besar. Nyatanya, ketekunan sering kali lebih kuat daripada modal besar. Konsistensi kadang lebih tajam daripada keberuntungan.

Di tengah zaman serba cepat, kisah Mbah Kasidah datang dengan irama berbeda. Ia tidak viral karena sensasi. Ia dikenal karena kesabaran. Tidak kaya mendadak, tidak menang lotre, tidak juga dibantu jalan pintas.

Banyak orang ingin hasil besar dalam waktu singkat. Tapi perempuan ini menunjukkan jalan lain: lambat bukan berarti gagal. Pelan bukan berarti tertinggal. Justru langkah kecil yang dijaga terus-menerus bisa membawa seseorang ke tujuan jauh.

Sepeda tuanya menjadi simbol yang pas. Kendaraan itu mungkin sederhana, mungkin lambat, mungkin jauh dari mewah. Tetapi roda yang terus berputar setiap hari ternyata mengantar pemiliknya mendekati cita-cita.

Pasar Panjatan pun kini bukan cuma tempat jual beli. Tempat itu ikut menyimpan sejarah pribadi seorang perempuan tangguh. Dari lapak kecil beralas karung, lahir cerita yang membuat banyak orang tersentuh.

Keberangkatan Mbah Kasidah juga jadi pengingat bahwa ibadah sering kali bukan soal siapa paling berada, tapi siapa paling tekun menyiapkan diri. Ada kerja keras, ada niat panjang, ada kesabaran yang dijaga bertahun-tahun.

Saat nanti pesawat menuju Tanah Suci lepas landas, mungkin banyak orang melihatnya sebagai keberangkatan biasa. Padahal di kursi salah satu penumpang, duduk seorang perempuan yang membawa cerita tiga dekade perjuangan.

Dan ketika roda pesawat mulai bergerak, orang-orang di kampung bisa jadi akan teringat satu hal sederhana: kadang mimpi terbesar memang berangkat dari kayuhan paling pelan. (*)

You Might Also Like

Gus Baha Bongkar Dzikir Langit Full, Malaikat Sampai Ngeluh Capek Nyatet Pahalanya

Dua Korban Longsor Pemalang Masih Dicari

Mundur dari Pimpinan DPRD, Anas Hidayat Tegaskan Tak Mundur dari Perjuangan

Satu OPD Satu Desa: 30 Rumah Langsung Kinclong

Gebrakan Baru Prabowo: Orang Asing Boleh Jadi Bos BUMN!

TAGGED:hajihaji unikmbah Kasidahunik
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Peternakan di Purworejo Sukses Kembangkan Sapi Premium
Next Article Golkar Geram Banget Sampai Buka Buka Suara, Rudy Gubernur Kaltim Jadi Sorotan

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi (tengah) bersama Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen (kanan) dan Sekda Jateng Sumarno (kiri), memberikan pernyataan kepada wartawan seusai melantik puluhan pejabat baru di lingkungan Pemprov Jateng, Senin (27/4/2026).

Lantik Pejabat Pemprov Jateng, Gubernur Luthfi: No Titipan, Ngebut Layani Warga

Bos Sritex, Iwan Setiawan menunduk sambil menangis saat membaca pembelaan di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (27/4/2026). (bae)

Bos Sritex Merengek di Depan Hakim Tipikor, Nangis Minta Dibebaskan

Foto titik gempa bumi yang terjadi pada Senin (27/4/2026).

Pagi Bergetar di Jateng: 3 Gempa Bumi Terjadi Beruntun, Warga Sempat Rasakan Goyang-goyang

Sebelum Menikah Prioritas Saya adalah Menghafal Alquran

Semarang Disulap Jadi “War Room” MBG, Pakar Dunia Turun Gunung

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Hukum

Nyekap Intel Pas May Day, Mahasiswa Undip Kena Tuntut 2 Bulan Penjara

September 23, 2025
Info

Warga Mangunsari Ubah Sampah Jadi Tabungan

Januari 24, 2026
Info

Rest Area Cheng Ho Purbalingga Kini Ada Charger Mobil Listrik

Maret 15, 2026
Hukum

Drama Saham PSIS Tamat di Meja Hakim

Oktober 23, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Kayuh Pelan, Mimpi Jalan: Tempe Mengantar Haji Mbah Kasidah
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?