BACAAJA, TEMANGGUNG- Pemprov Jateng lagi serius ngerombak wajah pertanian. Nggak cuma soal produksi, tapi juga regenerasi petani biar sektor ini nggak “menua sendirian”.
Lewat Apel Siaga Penyuluh Pertanian dan Petani Milenial di Agro Center Soropadan, Sekda Jateng Sumarno menegaskan bahwa regenerasi jadi kunci utama buat menjaga ketahanan pangan.
“Ini bukan sekadar seremoni. Yang penting itu bagaimana anak muda mau turun ke sawah dan lihat pertanian sebagai peluang,” katanya.
Saat ini, Jateng sudah punya sekitar 630 ribu petani milenial. Angka yang lumayan besar, apalagi kalau dibandingkan dengan mayoritas petani yang usianya sudah di kisaran 40-60 tahun. Artinya, estafet mulai jalan, meski PR-nya masih panjang.
Baca juga: Jateng Kejar Swasembada: Produksi Digenjot, Irigasi Diperbaiki, Petani Dapat Asuransi
Dengan masuknya generasi baru yang lebih melek teknologi, sektor pertanian diharapkan jadi lebih efisien, produktif, dan adaptif sama perubahan zaman. Nggak berhenti di SDM, Pemprov juga lagi ngerem alih fungsi lahan lewat revisi RTRW. Tujuannya jelas: jangan sampai sawah berubah jadi beton semua.
“Kami pastikan lahan pertanian tetap terlindungi. Ini penting buat keberlanjutan pangan,” tegas Sumarno. Isu lingkungan juga ikut disorot. Dari pengelolaan air sampai daerah tangkapan hujan, semuanya masuk radar. Soalnya, percuma produksi digenjot kalau ekosistemnya nggak dijaga.
Sementara itu, Ketua Umum Petani Milenial, Rayndra Syahdan Mahmudin bilang, kolaborasi antara petani muda dan penyuluh jadi kunci akselerasi. Apel ini sendiri diikuti 300 penyuluh dan 300 duta petani milenial dari 17 kabupaten/kota.
Merubah Stigma
Targetnya simpel: bikin pertanian makin relevan buat generasi sekarang. “Selama ini stigma bertani itu kucel, nggak keren. Nah, itu yang kita ubah,” ujarnya.
Dan ternyata, perubahan itu mulai kelihatan. Sejak 2019, jaringan petani muda di Jateng sudah tumbuh hingga hampir 35 ribu orang. Pelan tapi pasti, sektor ini mulai dilirik lagi.
Dari sisi produksi, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jateng, Defransisco Dasilva Tavares, membeberkan target besar 2026. Luas tanam padi dipatok 2,38 juta hektare, dengan progres saat ini sudah tembus ratusan ribu hektare.
Setiap hari, ada tambahan tanam sekitar 7.000-8.000 hektare. Produksi padi hingga Mei diproyeksikan mencapai 4,69 juta ton dari target total 10,55 juta ton. Nggak cuma padi, komoditas lain juga digenjot.
Baca juga: PADI Temanggung Didorong Jadi Event Wisata
Cabai, bawang merah, sampai daging sapi ikut jadi andalan. Bahkan, Jateng jadi penyumbang utama bawang putih nasional dengan kontribusi hampir 64 persen. Buat ngejar target itu, berbagai strategi dipakai.
Mulai dari peningkatan indeks tanam, pengendalian hama, sampai adaptasi perubahan iklim. Salah satu yang lagi di-push adalah sistem “sepur”, pola tanam cepat yang bikin siklus panen dan tanam jadi lebih efisien.
Jadi, di saat banyak anak muda sibuk cari kerja “kantoran biar keliatan keren”, di Jateng justru lagi dibuktikan: yang turun ke sawah juga bisa sukses di masa depan. Tinggal pilih, mau ikut tren atau nunggu nasi jadi… dari siapa? (tebe)

