BACAAJA, SEMARANG – Lagi-lagi, sepak bola harus berhadapan sama politik. Kali ini jelang Piala Dunia 2026, isu panas muncul, Iran yang sudah lolos kualifikasi disebut-sebut mau dicoret dan diganti Italia. Serius.
Isu ini mencuat setelah utusan khusus Presiden AS Donald Trump, yakni Paolo Zampolli, dikabarkan mengusulkan hal itu ke FIFA.
Tujuannya? Mendorong Italia yang gagal lolosbuat tetap tampil di turnamen akbar tersebut.
Bacaaja: Italia Satu Kelas dengan Indonesia, Tidak Lolos Piala Dunia 2026
Bacaaja: Hore, Fix Gratis! 104 Laga Piala Dunia 2026 Tayang Full di TVRI
Dejavu Indonesia gagal jadi tuan rumah PD U-20
Mantan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, ikut nimbrung. Lewat media sosial, dia nyeletuk singkat tapi ngena:
“Upssssss…. Ternyata politik & olahraga bisa saling mempengaruhi. Kalimat “jangan campuradukkan politik dengan olahraga” sulit berlaku ya?,” tulis Ganjar dalam unggahan di Instagram pribadinya @ganjar_pranowo.
Sindiran halus tapi jelas: narasi olahraga harus bebas dari politik kayaknya makin susah dipercaya.
Banyak yang langsung keinget kejadian Indonesia waktu batal jadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2023. Saat itu, semuanya sudah siap, stadion, panitia, hype publik.
Tapi begitu Timnas Israel lolos, penolakan muncul. Salah satunya dari Ganjar yang saat itu menjabat gubernur. Alasannya: konsistensi dukungan Indonesia ke Palestina.
Akhirnya? FIFA mencabut status tuan rumah dari Indonesia. Luka lama yang masih kebayang sampai sekarang.
Bedanya, kali ini Iran sudah lolos secara sah. Sementara Italia malah gagal di jalur normal. Tapi tetap saja ada dorongan political move dari luar.
Unggahan Ganjar mendapat beragam respons dari netize. Di antaranya: Ada yang teriak begitu kemarin pas bapak mengambil sikap tegas & berdasar.
Ada pula yang memberi komentar: Rusia melakukan agresi ke Ukraina di keluarkan FIFA, USA melakukan agresi ke Iran mengapa tidak di keluarkan FIFA??? Siapa yang bisa jawab.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, sampai sekarang belum kasih respons resmi.
Di atas kertas, olahraga itu harus netral. Harusnya jadi ruang pemersatu, bukan ajang tarik-menarik kepentingan.
Tapi di dunia nyata? Negara, geopolitik, dan kepentingan global sering ikut main bola di belakang layar.
Kasus Indonesia kemarin, isu Iran sekarang, pola yang sama terus berulang.
Jawaban jujurnya: susah. Karena selama yang main bukan cuma atlet, tapi juga negara, politik bakal selalu ikut turun ke lapangan. (*)

