BACAAJA, SEMARANG – Kisah ini berangkat dari kehilangan yang terasa begitu dekat, saat seseorang dengan gaya hidup yang terbilang rapi dan sehat justru harus berpulang begitu cepat karena Leukemia. Dalam waktu yang bahkan belum genap dua minggu sejak gejala pertama muncul, semuanya berubah drastis, seolah tak memberi ruang untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Cerita ini bukan sekadar tentang duka, tapi juga tentang pertanyaan yang sering muncul di kepala banyak orang: kenapa penyakit seperti kanker bisa menyerang orang yang terlihat “baik-baik saja”? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tapi jawabannya ternyata jauh lebih kompleks dari yang dibayangkan.
Sebagian orang mungkin langsung menjawab dengan satu kata: takdir. Jawaban ini memang terasa paling mudah diterima, terutama ketika logika mulai mentok. Namun di balik itu, ada sisi lain yang bisa dijelaskan lewat ilmu pengetahuan, terutama dari sudut pandang biologi dan fisika.
Tubuh manusia sebenarnya punya sistem luar biasa untuk memperbaiki dirinya sendiri. Setiap hari, sel-sel yang rusak akan diperbarui lewat proses replikasi DNA. Ini adalah mekanisme alami yang menjaga tubuh tetap berfungsi normal.
Namun, proses ini tidak selalu berjalan sempurna. Dalam setiap penyalinan DNA, selalu ada kemungkinan kecil terjadi kesalahan. Kesalahan inilah yang disebut mutasi, yang dalam kondisi tertentu bisa berkembang menjadi sel kanker.
DNA sendiri tersusun dari pasangan basa yang sangat spesifik. Adenin selalu berpasangan dengan Timin, sementara Guanin berpasangan dengan Sitosin. Pola ini seperti aturan baku yang menjaga kestabilan informasi genetik dalam tubuh.
Ikatan antara pasangan basa ini terjadi karena adanya ikatan hidrogen, yang melibatkan partikel kecil bernama proton. Di titik inilah, ilmu fisika mulai ikut bermain dalam cerita yang awalnya terlihat murni biologis.
Dalam dunia fisika, ada konsep menarik yang dikenal sebagai Quantum Tunneling. Fenomena ini menjelaskan bagaimana partikel kecil seperti proton bisa “menembus” batas yang seharusnya tidak bisa dilewati secara normal.
Perilaku ini terjadi di level yang sangat kecil, bahkan sulit dibayangkan dalam kehidupan sehari-hari. Dunia ini dikenal sebagai dunia kuantum, tempat hukum-hukum fisika terasa jauh berbeda dari yang kita kenal.
Proton yang berada dalam ikatan hidrogen DNA juga berada dalam dunia kuantum ini. Artinya, mereka bisa mengalami fenomena tunneling yang membuat posisinya berubah secara tiba-tiba.
Ketika hal ini terjadi, pasangan basa DNA bisa jadi tidak sesuai aturan. Adenin yang seharusnya berpasangan dengan Timin bisa saja salah “bertemu” dengan Sitosin, dan seterusnya.
Kesalahan kecil ini kemudian berdampak besar. Protein yang dihasilkan dari DNA tersebut menjadi tidak sesuai, dan di sinilah mutasi mulai berkembang.
Walaupun tidak semua mutasi berujung pada kanker, kondisi ini tetap menjadi salah satu pemicu utama terbentuknya sel abnormal dalam tubuh.
Yang membuat situasi ini terasa rumit adalah sifatnya yang acak. Quantum Tunneling terjadi dengan probabilitas sangat kecil dan tidak bisa dicegah, bahkan oleh pola hidup paling sehat sekalipun.
Di sinilah jawaban ilmiah mulai terbentuk: seseorang yang hidup sehat tetap memiliki kemungkinan terkena kanker, meskipun peluangnya kecil.
Namun pertanyaan yang lebih dalam seringkali tetap menggantung. Kenapa harus orang tertentu? Kenapa harus terjadi sekarang? Dan kenapa begitu cepat?
Ilmu pengetahuan bisa menjelaskan mekanisme, tapi tidak selalu bisa menjawab “mengapa” secara personal. Di titik ini, banyak orang kembali pada pemahaman tentang takdir.
Meski begitu, ada pelajaran penting yang bisa diambil dari semua ini. Jika kemungkinan kecil saja bisa menyebabkan kanker, maka kebiasaan buruk yang jelas-jelas merusak tubuh akan memperbesar risiko secara signifikan.
Contohnya adalah merokok. Zat karsinogenik dalam rokok bisa merusak DNA secara langsung melalui reaksi kimia yang jauh lebih “pasti” dibandingkan proses acak di level kuantum.
Artinya, risiko dari pola hidup tidak sehat bukan lagi sekadar kemungkinan kecil, tapi sesuatu yang nyata dan bisa diprediksi dampaknya.
Di tengah ketidakpastian yang tidak bisa dikontrol, menjaga pola hidup sehat tetap menjadi langkah paling masuk akal.
Setidaknya, dengan menghindari zat berbahaya dan menjaga tubuh tetap bugar, seseorang sudah mengurangi risiko yang sebenarnya bisa dihindari.
Kisah kehilangan ini pada akhirnya bukan hanya tentang duka, tapi juga tentang refleksi. Tentang bagaimana hidup bisa berubah dalam waktu singkat tanpa banyak peringatan.
Dan di balik semua penjelasan ilmiah yang rumit, tetap ada ruang bagi manusia untuk menerima bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan.
Namun, bukan berarti tidak ada yang bisa dilakukan. Justru dari sini, kesadaran untuk menjaga diri menjadi semakin penting.
Karena jika sesuatu yang kecil dan acak saja bisa berdampak besar, maka pilihan hidup sehari-hari juga punya peran yang tidak kalah besar.
Pada akhirnya, hidup sehat bukan jaminan bebas penyakit, tapi tetap jadi pilihan terbaik untuk memperkecil risiko.
Dan mungkin, di antara sains dan takdir, manusia hanya bisa berusaha sebaik mungkin, lalu menerima apa pun yang datang dengan lapang dada. (*)

