BACAAJA, YOGYAKARTA – Angin pesisir berhembus pelan saat sekelompok mahasiswa menancapkan bibit mangrove satu per satu di kawasan Hutan Mangrove Baros. Bukan sekadar kegiatan tanam-tanam biasa, aksi ini jadi bagian dari gerakan yang lebih besar—menggabungkan kepedulian lingkungan, edukasi, dan dorongan ekonomi lokal dalam satu paket kegiatan yang terasa hidup.
Program bertajuk Green Coast Baros ini digagas oleh mahasiswa penerima Beasiswa Bintang Mandiri dari Bank Mandiri. Mereka datang bukan hanya membawa ide, tapi juga semangat kolaborasi yang melibatkan banyak pihak, mulai dari warga sekitar hingga pemerintah daerah.
Di balik kegiatan ini, ada sosok Melisa Sekarlina Putri Dayani, mahasiswa Pendidikan Biologi dari Universitas Negeri Yogyakarta yang memimpin jalannya program. Ia bersama timnya mencoba menghadirkan pendekatan yang nggak kaku—lebih cair, lebih dekat dengan masyarakat, dan pastinya lebih berdampak.
Menurut Melisa, proyek ini sejak awal memang dirancang sebagai gerakan bareng-bareng. Nggak cuma mahasiswa yang bergerak, tapi juga masyarakat, pengelola kawasan, hingga pemerintah ikut dilibatkan. Tujuannya jelas, supaya dampaknya nggak berhenti di satu kegiatan saja, tapi bisa berlanjut.
Tim pelaksana sendiri terdiri dari mahasiswa lintas kampus dan jurusan. Selain dari UNY, ada juga peserta dari Universitas Mataram dan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Perpaduan latar belakang ini justru jadi kekuatan, karena masing-masing membawa perspektif berbeda.
Salah satu fokus utama kegiatan ini adalah penanaman mangrove di pesisir Baros. Aksi ini bukan tanpa alasan, karena mangrove punya peran penting dalam menjaga garis pantai dari abrasi, sekaligus jadi rumah bagi berbagai biota laut.
Namun kegiatan ini tidak berhenti di urusan lingkungan saja. Tim juga melihat potensi ekonomi yang bisa dikembangkan dari kawasan tersebut. Di sinilah pendekatan mereka terasa lebih luas—menggabungkan konservasi dengan pemberdayaan.
Mahasiswa yang berlatar belakang manajemen, A. Soffi, misalnya, ikut mendorong kolaborasi dengan pelaku UMKM setempat. Salah satu bentuk nyatanya adalah pelatihan pembuatan telur asin, yang diharapkan bisa jadi peluang usaha baru bagi warga.
Langkah ini dianggap penting, karena menjaga lingkungan saja tidak cukup tanpa memperkuat ekonomi masyarakatnya. Ketika warga punya penghasilan tambahan, mereka juga akan lebih peduli terhadap keberlanjutan lingkungan sekitar.
Selain itu, ada juga sesi edukasi yang menyasar masyarakat. Materinya tidak berat, tapi cukup untuk membuka wawasan tentang pentingnya mangrove dan cara memanfaatkannya secara bijak.
Annisa Nur Rahma dari Teknologi Pendidikan menjelaskan bahwa pendekatan edukatif ini jadi kunci agar program tidak sekadar seremonial. Dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat diharapkan bisa melanjutkan upaya konservasi secara mandiri.
Edukasi yang diberikan juga menyentuh hal-hal praktis, seperti pemanfaatan limbah kayu laut yang sering ditemukan di pantai. Dari yang awalnya dianggap sampah, ternyata bisa diolah jadi sesuatu yang bernilai.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari pemerintah daerah, termasuk Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul yang melihat potensi kawasan Baros sebagai destinasi ekowisata.
Kolaborasi ini membuat program berjalan lebih solid. Pengelola kawasan mangrove pun menyambut baik inisiatif para mahasiswa, karena dinilai mampu membawa energi baru dalam upaya pelestarian.
Bagi mereka, keterlibatan mahasiswa bukan hanya soal tenaga tambahan, tapi juga ide-ide segar yang bisa membuka peluang baru bagi kawasan tersebut.
Green Coast Baros jadi contoh bahwa gerakan kecil bisa berdampak besar jika dilakukan bersama-sama. Tidak ada sekat antara mahasiswa dan masyarakat, semuanya bergerak dalam satu tujuan.
Selain menjaga ekosistem, kegiatan ini juga ikut mendukung berbagai tujuan pembangunan berkelanjutan, mulai dari penanganan perubahan iklim hingga penguatan ekonomi lokal.
Mangrove sendiri dikenal sebagai penyerap karbon alami yang efektif, sehingga penanaman yang dilakukan punya dampak jangka panjang bagi lingkungan.
Di sisi lain, penguatan UMKM dan edukasi masyarakat juga membantu menciptakan ekosistem sosial yang lebih kuat dan mandiri.
Ke depan, kegiatan seperti ini diharapkan bisa terus berlanjut dan diperluas. Bukan hanya di Baros, tapi juga di wilayah pesisir lain yang menghadapi tantangan serupa.
Dengan semangat kolaborasi yang sudah terbangun, peluang itu terbuka lebar. Tinggal bagaimana konsistensi dijaga agar dampaknya terus terasa.
Di tengah isu lingkungan yang makin kompleks, langkah sederhana seperti menanam mangrove dan berbagi ilmu justru jadi hal yang sangat berarti.
Dan dari pesisir Baros, mahasiswa membuktikan satu hal—bahwa perubahan bisa dimulai dari aksi kecil, asal dilakukan dengan niat besar dan bareng-bareng. (*/uny.ac.id)

