Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Mahasiswa Turun Pantai, Mangrove Diselamatkan Warga Ikut Bergerak
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Tumbuh

Mahasiswa Turun Pantai, Mangrove Diselamatkan Warga Ikut Bergerak

Program bertajuk Green Coast Baros ini digagas oleh mahasiswa penerima Beasiswa Bintang Mandiri dari Bank Mandiri. Mereka datang bukan hanya membawa ide, tapi juga semangat kolaborasi yang melibatkan banyak pihak, mulai dari warga sekitar hingga pemerintah daerah.

Nugroho P.
Last updated: April 11, 2026 4:32 pm
By Nugroho P.
5 Min Read
Share
Sejumlah mahasiswa penerima Beasiswa Bintang Mandiri Angkatan 5 dari Bank Mandiri menggelar proyek sosial bertajuk Green Coast Baros di kawasan Hutan Mangrove Baros yang berlokasi di Tirtohargo, Kretek, Bantul,
SHARE

BACAAJA, YOGYAKARTA – Angin pesisir berhembus pelan saat sekelompok mahasiswa menancapkan bibit mangrove satu per satu di kawasan Hutan Mangrove Baros. Bukan sekadar kegiatan tanam-tanam biasa, aksi ini jadi bagian dari gerakan yang lebih besar—menggabungkan kepedulian lingkungan, edukasi, dan dorongan ekonomi lokal dalam satu paket kegiatan yang terasa hidup.

Program bertajuk Green Coast Baros ini digagas oleh mahasiswa penerima Beasiswa Bintang Mandiri dari Bank Mandiri. Mereka datang bukan hanya membawa ide, tapi juga semangat kolaborasi yang melibatkan banyak pihak, mulai dari warga sekitar hingga pemerintah daerah.

Di balik kegiatan ini, ada sosok Melisa Sekarlina Putri Dayani, mahasiswa Pendidikan Biologi dari Universitas Negeri Yogyakarta yang memimpin jalannya program. Ia bersama timnya mencoba menghadirkan pendekatan yang nggak kaku—lebih cair, lebih dekat dengan masyarakat, dan pastinya lebih berdampak.

Menurut Melisa, proyek ini sejak awal memang dirancang sebagai gerakan bareng-bareng. Nggak cuma mahasiswa yang bergerak, tapi juga masyarakat, pengelola kawasan, hingga pemerintah ikut dilibatkan. Tujuannya jelas, supaya dampaknya nggak berhenti di satu kegiatan saja, tapi bisa berlanjut.

Tim pelaksana sendiri terdiri dari mahasiswa lintas kampus dan jurusan. Selain dari UNY, ada juga peserta dari Universitas Mataram dan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Perpaduan latar belakang ini justru jadi kekuatan, karena masing-masing membawa perspektif berbeda.

Salah satu fokus utama kegiatan ini adalah penanaman mangrove di pesisir Baros. Aksi ini bukan tanpa alasan, karena mangrove punya peran penting dalam menjaga garis pantai dari abrasi, sekaligus jadi rumah bagi berbagai biota laut.

Namun kegiatan ini tidak berhenti di urusan lingkungan saja. Tim juga melihat potensi ekonomi yang bisa dikembangkan dari kawasan tersebut. Di sinilah pendekatan mereka terasa lebih luas—menggabungkan konservasi dengan pemberdayaan.

Mahasiswa yang berlatar belakang manajemen, A. Soffi, misalnya, ikut mendorong kolaborasi dengan pelaku UMKM setempat. Salah satu bentuk nyatanya adalah pelatihan pembuatan telur asin, yang diharapkan bisa jadi peluang usaha baru bagi warga.

Langkah ini dianggap penting, karena menjaga lingkungan saja tidak cukup tanpa memperkuat ekonomi masyarakatnya. Ketika warga punya penghasilan tambahan, mereka juga akan lebih peduli terhadap keberlanjutan lingkungan sekitar.

Selain itu, ada juga sesi edukasi yang menyasar masyarakat. Materinya tidak berat, tapi cukup untuk membuka wawasan tentang pentingnya mangrove dan cara memanfaatkannya secara bijak.

Annisa Nur Rahma dari Teknologi Pendidikan menjelaskan bahwa pendekatan edukatif ini jadi kunci agar program tidak sekadar seremonial. Dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat diharapkan bisa melanjutkan upaya konservasi secara mandiri.

Edukasi yang diberikan juga menyentuh hal-hal praktis, seperti pemanfaatan limbah kayu laut yang sering ditemukan di pantai. Dari yang awalnya dianggap sampah, ternyata bisa diolah jadi sesuatu yang bernilai.

Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari pemerintah daerah, termasuk Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul yang melihat potensi kawasan Baros sebagai destinasi ekowisata.

Kolaborasi ini membuat program berjalan lebih solid. Pengelola kawasan mangrove pun menyambut baik inisiatif para mahasiswa, karena dinilai mampu membawa energi baru dalam upaya pelestarian.

Bagi mereka, keterlibatan mahasiswa bukan hanya soal tenaga tambahan, tapi juga ide-ide segar yang bisa membuka peluang baru bagi kawasan tersebut.

Green Coast Baros jadi contoh bahwa gerakan kecil bisa berdampak besar jika dilakukan bersama-sama. Tidak ada sekat antara mahasiswa dan masyarakat, semuanya bergerak dalam satu tujuan.

Selain menjaga ekosistem, kegiatan ini juga ikut mendukung berbagai tujuan pembangunan berkelanjutan, mulai dari penanganan perubahan iklim hingga penguatan ekonomi lokal.

Mangrove sendiri dikenal sebagai penyerap karbon alami yang efektif, sehingga penanaman yang dilakukan punya dampak jangka panjang bagi lingkungan.

Di sisi lain, penguatan UMKM dan edukasi masyarakat juga membantu menciptakan ekosistem sosial yang lebih kuat dan mandiri.

Ke depan, kegiatan seperti ini diharapkan bisa terus berlanjut dan diperluas. Bukan hanya di Baros, tapi juga di wilayah pesisir lain yang menghadapi tantangan serupa.

Dengan semangat kolaborasi yang sudah terbangun, peluang itu terbuka lebar. Tinggal bagaimana konsistensi dijaga agar dampaknya terus terasa.

Di tengah isu lingkungan yang makin kompleks, langkah sederhana seperti menanam mangrove dan berbagi ilmu justru jadi hal yang sangat berarti.

Dan dari pesisir Baros, mahasiswa membuktikan satu hal—bahwa perubahan bisa dimulai dari aksi kecil, asal dilakukan dengan niat besar dan bareng-bareng. (*/uny.ac.id)

You Might Also Like

Energi Bersih Listrik RI Tembus Target

FAKTA UNIK: Swedia Nggak Kekurangan Minyak, tapi Kekurangan Sampah

Dari “Cumi-Cumi Darat” ke Bus Listrik: Semarang Mulai Move On dari Asap Hitam

Kulit Bawang Disulap Jadi Pupuk, Mahasiswa UNY Bikin Warga Melongo

Awas! Anak Muda Bisa Terpapar Radikalisme dalam Hitungan Bulan dengan Cara Ini

TAGGED:mangrovepelestariantumbuhUNY
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Kayu Sisa Disulap Jadi Barang Keren, Siswa Ikut Bangga
Next Article Kucing Kecil Nempel Terus, Ternyata Ada Alasan Ini

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Dari Balik Jeruji, Warga Binaan Belajar Ikhlas Lewat Kurban

Pemkot Semarang Lagi Serius Soal Gotong Royong

GAJI - Ilustrasi uang rupiah sebagai gaji bulanan.

Rata-rata Gaji Dosen Indonesia Rp3,36 Juta per Bulan, Lebih Gede Bayaran Pegawai MBG?

Juleha di Jateng Harus Bersertifikat

SERAHKAN HEWAN KURBAN - Sekretaris DPD PDIP Jateng secara simbolis menyerahkan hewan kurban kepada panitia kurban. (ist)

PDIP Jateng Kurban 17 Sapi dan 20 Kambing, Sumanto: Kami Salurkan ke Berbagai Wilayah

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Ilustrasi masyarakat adat sedang berada di hutan.
Tumbuh

Putusan MK Bikin Lega: Masyarakat Bebas Berkebun di Hutan

Oktober 17, 2025
Tumbuh

Dari Plastik Jadi Energi, KLH Gaspol Daur Ulang 33 Ribu Ton Sampah

September 10, 2025
Parrotfish atau ikan kakatua, penghasil pasir laut.
Tumbuh

Kamu Tahu Gak? Pasir di Pantai Itu dari Kotoran Ikan, Begini Faktanya

Desember 5, 2025
Tumbuh

Salut, Warga Bedono Terus Tanam Mangrove Demi Lindungi Pesisir

Desember 26, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Mahasiswa Turun Pantai, Mangrove Diselamatkan Warga Ikut Bergerak
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?