BACAAJA, SEMARANG- Pembangunan gedung Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Jateng terus jalan. Data terbaru nyebutin, dari 8.523 koperasi yang sudah berbadan hukum, ada 5.887 yang sudah punya titik lokasi pembangunan. Dan dari situ, 5.503 di antaranya sudah masuk tahap pembangunan.
Yang benar-benar selesai? Baru 1.456 unit. Tapi tetap aja, angka ini bikin Jateng nangkring di posisi kedua nasional soal pembangunan koperasi. Lumayan flex, sih. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jateng, Eddy S Bramiyanto bilang, koperasi-koperasi ini mulai keliatan “kerjanya”.
Baca juga: 71 Kopdes Merah Putih di Boyolali Dapat “Senjata Baru”: Pikap 4×4 Buat Gas Ekonomi Desa
Beberapa sudah ikut nyuplai bahan buat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ada juga yang kolaborasi sama Bulog lewat Gerakan Pangan Murah, dengan transaksi yang katanya sudah nyentuh Rp9,5 miliar. Bahkan jelang Lebaran, koperasi juga ikut bantu stabilisasi pasokan pangan.
Di level pusat, Penasehat Khusus Presiden bidang politik dan keamanan, Brigjen Pol (Purn) Erwin Chahara Rusmana juga ngelihat Jateng punya modal kuat. Desa banyak, budaya gotong royong juga masih hidup, kombinasi yang cocok buat koperasi berkembang.
Harus Kolaborasi
Tapi dia juga ngingetin, ini bukan kerja satu pihak. Harus ada kolaborasi, dari pemerintah daerah, TNI, sampai BUMD. Intinya: jangan jalan sendiri-sendiri kalau mau hasilnya kerasa.
Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi kasih penegasan penting, nggak semua koperasi harus seragam. Tiap daerah punya karakter sendiri, jadi pendekatannya juga harus beda-beda.
Baca juga: Kopdes Merah Putih di Jateng Sudah Beroperasi, Ini Kata Gubernur Luthfi
Bahkan dia secara tegas bilang, nggak harus satu desa dipaksa punya satu koperasi. Pendekatan ini dianggap penting biar koperasi nggak cuma jadi proyek angka, tapi benar-benar hidup dan relevan sama kebutuhan warga.
Ribuan bangunan sudah berdiri, angka-angka juga makin cakep buat laporan. Tinggal satu hal yang belum bisa dibangun pakai beton: kepercayaan dan konsistensi. Karena pada akhirnya, ekonomi warga nggak bakal bergerak cuma gara-gara ada papan nama “koperasi” di depan gedung. (tebe)

