BACAAJA, SEMARANG- Kebijakan baru lagi-lagi bikin pola kerja ASN di Jawa Tengah berubah. Pemprov resmi memangkas perjalanan dinas secara besar-besaran: dalam negeri dipotong sampai 50 persen, luar negeri lebih ekstrem lagi, tembus 70 persen.
Sekda Jateng, Sumarno bilang, langkah ini bukan sekadar hemat anggaran, tapi juga bagian dari “upgrade” cara kerja biar lebih efisien. “Supaya nggak banyak aktivitas yang pindah tempat, kita dorong lebih banyak lewat daring,” ujarnya di DPRD Jateng, Senin (6/5/2026).
Artinya, rapat-rapat yang dulu identik dengan tiket dan hotel, sekarang cukup login dan join meeting. Lebih ringkas, lebih murah, tapi tetap dituntut produktif.
Baca juga: Jumat WFH, Dinas Dipangkas, ASN Jateng Diajak Lebih “Hemat Mode”
Nggak cuma itu, kebijakan Work From Home (WFH) juga ikut jalan. ASN bakal dapat jatah kerja dari rumah, meski teknisnya diserahkan ke masing-masing OPD. Tapi satu hal yang pasti, pimpinan tetap pegang kendali penuh soal performa tim.
Buat yang tetap Work From Office (WFO), gaya berangkat ke kantor juga mulai “diubah”. ASN didorong buat lebih ramah lingkungan: jalan kaki, naik sepeda, bahkan lari kalau kuat. Kendaraan bermotor? Mulai dikurangi pelan-pelan.
Tidak Semua
Meski begitu, nggak semua bisa ikut fleksibel. Layanan publik seperti rumah sakit dan Samsat tetap harus full standby. Begitu juga pejabat di level tertentu yang nggak kebagian WFH.
Menurut Sumarno, efek dari kebijakan ini nggak cuma soal anggaran, tapi juga konsumsi bahan bakar. Harapannya, makin sedikit perjalanan, makin hemat juga BBM yang terpakai.
Baca juga: Pemprov: Jumat Boleh WFH, Kecuali Eselon 1 dan 2
Ke depan, kebijakan ini bakal terus dipantau. Evaluasi rutin tiap bulan disiapkan buat ngukur apakah “mode hemat” ini benar-benar efektif atau cuma sekadar wacana.
Di era baru ini, yang diuji bukan lagi seberapa sering ASN bepergian, tapi seberapa kuat sinyal internetnya. Karena sekarang, perjalanan paling jauh bukan ke luar kota… tapi dari ruang tamu ke ruang Zoom. (tebe)


