BACAAJA, SEMARANG- Suasana hangat Halalbihalal di Kecamatan Ngaliyan jadi momen refleksi bareng soal dunia pendidikan yang makin kompleks. Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin hadir langsung dan ngasih pesan yang cukup “relate” dengan kondisi sekarang: guru harus siap hadapi tantangan digital.
Acara yang digelar di UIN Walisongo ini nggak cuma jadi ajang silaturahmi pasca Lebaran, tapi juga ruang diskusi soal peran guru di tengah gempuran teknologi.
Iswar bilang, Halalbhalal bukan sekadar tradisi tahunan. Lebih dari itu, ini jadi cara buat memperkuat hubungan antar manusia setelah sebulan penuh fokus ibadah. “Ini momen buat mempererat kebersamaan,” ujarnya.
Baca juga: 2026, Status Honorer Guru Semarang Resmi Tamat
Di balik suasana santai, ada isu serius yang disorot: pengaruh media sosial ke generasi muda yang makin besar. Menurut Iswar, peran guru sekarang udah “naik level”. Nggak cuma ngajar di kelas, tapi juga jadi penjaga nilai dan karakter siswa.
“Jangan sampai anak-anak kita kehilangan jati diri,” tegasnya. Artinya, guru dituntut nggak gaptek, tapi juga nggak boleh kehilangan arah dalam mendidik. Iswar juga mendorong para pendidik buat adaptif dengan teknologi.
Pendidikan Karakter
Tapi catatannya jelas: kecakapan digital harus tetap seimbang sama pendidikan karakter. Karena kalau cuma pintar teknologi tanpa arah, hasilnya ya… bisa kebablasan.
Selain itu, momen ini juga dimanfaatkan buat memperkuat sinergi antar guru, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan di wilayah Ngaliyan. Menurut Iswar, pembangunan pendidikan nggak bisa jalan sendiri, harus bareng-bareng. “Fondasi kuat itu kebersamaan,” katanya.
Baca juga: Ribuan Guru, Marbot, hingga Perawat Jenazah Kini Dapat Bisyarah dari Pemkot Semarang
Acara ini pun dihadiri banyak tenaga pendidik dan berlangsung dengan suasana akrab, jadi bukti kalau komunikasi dan kolaborasi masih jadi “senjata utama” di dunia pendidikan.
Di zaman anak bisa lebih cepat update tren daripada update tugas, guru memang harus ikut melek digital. Tapi kalau semuanya diserahkan ke teknologi, jangan heran nanti yang ngajarin karakter… malah algoritma. (tebe)


