BACAAJA, SEMARANG- Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi bilang jelas: semua program pembangunan yang digas sepanjang 2025 ujungnya cuma satu, bikin masyarakat lebih sejahtera.
Pernyataan itu disampaikan usai rapat paripurna di Gedung Berlian, bareng Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Tengah, Selasa (31/3/2026) dalam agenda LKPJ Tahun Anggaran 2025. “Output pembangunan itu ya kesejahteraan. Ukurannya? Kemiskinan harus turun,” kata Luthfi to the point.
Dan secara angka, ada progres. Tingkat kemiskinan di Jateng turun dari 9,58 persen jadi 9,39 persen di 2025. Pengangguran juga ikut melandai, dari 4,78 persen ke 4,32 persen.
Baca juga: Kemiskinan Jateng Turun Jadi 9,48 Persen, Wagub Minta OPD Tak Bekerja Sektoral
Nggak cuma itu, ekonomi Jateng juga tumbuh 5,37 persen, di atas rata-rata nasional dengan investasi tembus Rp88,8 triliun. Menurut Luthfi, ini bukan kerja satu-dua pihak. Kolaborasi jadi kunci. “Semua pihak ikut andil,” imbuhnya.
Tapi, ia juga ngingetin: nurunin kemiskinan nggak bisa pakai satu jurus doang. Harus all-in, dari kebutuhan dasar kayak sandang, pangan, papan, sampai pendidikan dan kesehatan.
Perbaikan RTLH
Salah satu contoh nyata, program perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang tembus sekitar 17 ribu unit di 2025. Dari situ, intervensi lain ikut nyusul, mulai dari penanganan stunting, pendidikan anak, sampai penguatan ekonomi keluarga.
Program lain juga ikut nge-push, seperti sekolah gratis buat keluarga miskin lewat kemitraan SMA swasta dan SMK Jateng. Bantuan sosial juga diklaim makin tepat sasaran.
Di sisi lain, program pusat juga ikut “ditarik gas” di Jateng. Mulai dari Makan Bergizi Gratis (4,29 juta penerima), program 3 juta rumah, koperasi Merah Putih, cek kesehatan gratis, sampai Sekolah Rakyat yang sudah jalan di 14 kabupaten/kota.
Baca juga: Jateng Ngebut Siapkan Wisata Ramah Muslim
Sementara itu, Ketua DPRD Jateng, Sumanto, memastikan laporan tersebut nggak bakal langsung “di-ACC” mentah-mentah. “Sudah kami terima, tapi tetap akan dikritisi lewat pansus. Nanti ada catatan buat perbaikan ke depan,” tegasnya.
Angka kemiskinan boleh turun, laporan bisa makin rapi, dan grafik terlihat naik. Tapi pertanyaan klasiknya masih sama: rakyat udah ngerasain, atau baru sebatas angka yang enak dilihat pas presentasi? (tebe)


