BACAAJA, SEMARANG- Suasana hangat dan penuh cerita terasa saat Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng bareng jajaran OPD keliling silaturahmi ke para mantan Wali Kota Semarang, mulai dari Sukawi Sutarip, Soemarmo HS, sampai Hendrar Prihadi, Selasa (31/3/2026).
Nggak cuma itu, rombongan juga ziarah ke makam almarhum Sutrisno Suharto. Agenda ini bukan sekadar formalitas tahunan. Lebih dari itu, jadi momen buat “nyambungin lagi benang merah” pembangunan Kota Semarang, biar nggak reset tiap ganti pemimpin.
Baca juga: ASN Semarang “Nggak Libur Total”, Wali Kota: Ini yang Bikin Kota Tetap Adem Saat Lebaran
“Bangun kota itu nggak bisa putus. Harus nyambung terus. Apa yang udah dibangun pendahulu ya wajib kita teruskan,” kata Agustina, santai tapi penuh makna.
Salah satu momen hangat terjadi saat rombongan mampir ke kediaman Soemarmo HS. Sambutannya penuh keakraban, kayak keluarga lama yang akhirnya kumpul lagi. Soemarmo pun kasih respect ke tradisi ini.
Harus Upgrade
“Ini bagus banget. Silaturahmi kayak gini harus terus dijaga. Dulu juga kita lakuin, dan sekarang dilanjutkan lagi,” ujarnya. Di tengah obrolan santai itu, Agustina juga ngegas soal komitmennya: pembangunan harus upgrade terus, bukan jalan di tempat. “Yang kurang kita tambahin, yang belum sempurna kita benahi. Yang udah bagus? Ya kita bikin makin bagus lagi,” tegasnya.
Selain temu tokoh yang masih aktif kasih insight, rombongan juga menyempatkan ziarah ke makam almarhum Sutrisno Suharto. Suasananya berubah jadi haru, apalagi saat istri almarhum, Siti Khomsiti nggak bisa nahan rasa terima kasihnya. Ia mengaku terharu karena perhatian Pemkot, termasuk renovasi makam suaminya. “Saya sampai nangis waktu itu. Terima kasih banyak ke Bu Wali,” ucapnya lirih.
Baca juga: Pemkot Bikin Portal Mudik, Macet Bisa Dipantau dari HP
Nggak cuma bahas masa lalu dan sekarang, Agustina juga nyinggung langkah ke depan. Salah satunya soal efisiensi energi di kalangan ASN. Ia dorong penggunaan transportasi umum dan sistem kerja fleksibel alias WFA. “Intinya bukan WFA-nya, tapi gimana kita bisa ngurangin BBM. Itu yang penting,” jelasnya.
Di saat banyak yang sibuk bikin program baru biar kelihatan beda, Semarang malah pilih cara klasik: duduk bareng, dengerin yang senior, lalu lanjutin yang udah ada. Karena ternyata, yang sering bikin macet itu bukan jalanan kota, tapi ego yang pengen mulai semuanya dari nol lagi kaya ngisi BBM di SPBU. (tebe)


