BACAAJA, SEMARANG – Di tengah cuaca yang terasa makin panas, banyak orang memilih solusi instan: mendinginkan rumah dengan pendingin ruangan atau AC.
Namun di balik kenyamanan itu, ada dampak yang sering diabaikan. Lingkungan sekitar justru ikut menanggung “panas” yang ditinggalkan.
Pakar lingkungan dari Universitas Wahid Hasyim (Unwahas), Prof. Rita Dwi Ratnani, menilai kebiasaan ini tidak lepas dari sikap manusia yang cenderung egois. Fokus pada kenyamanan pribadi, tapi abai pada dampak bersama.
Bacaaja: Banjir Lereng Muria Bukan Takdir Ilahi, Walhi Sorot Krisis Lingkungan
Bacaaja: Sindir Pejabat yang Lalai Urus Lingkungan, MUI Dukung Seruan Taubatan Nasuha
“AC itu kan sebenarnya salah satu penyebab lingkungan ini semakin panas,” kritiknya saat dimintai komentar BacaAja.
Menurut dia, penggunaan AC, apalagi dalam jumlah banyak justru memperparah suhu lingkungan. Apalagi jika dalam satu rumah terdapat beberapa unit yang digunakan sekaligus.
“Ada yang satu rumah bisa punya empat sampai lima AC, itu akhirnya membuat suhu di luar juga ikut naik,” jelasnya.
Kondisi ini makin diperparah oleh minimnya ruang hijau. Tanpa pepohonan, panas tidak terserap dan langsung dilepas ke udara.
Akibatnya, suhu lingkungan terus meningkat. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa memperburuk pemanasan yang dirasakan masyarakat.
“Kalau tidak ada tanaman, panas langsung ke atmosfer. Dampaknya bisa makin luas,” katanya.
Ia juga mengaitkan fenomena ini dengan pola pembangunan perumahan yang kurang ramah lingkungan. Banyak pengembang, terutama skala kecil, dinilai hanya mengejar harga murah tanpa memikirkan kenyamanan alami.
“Pengembang kecil itu sering asal bangun, asal laku, sesuai budget. Tapi tidak mempertimbangkan lingkungan,” ujarnya.
Padahal, menurut dia, rumah tetap bisa dibuat sejuk tanpa bergantung penuh pada AC. Kuncinya ada pada desain dan keberadaan ruang hijau.
Ia bahkan mendorong adanya pembatasan penggunaan pendingin ruangan. Bukan melarang, tapi agar penggunaannya tidak berlebihan.
“Pendingin di dalam rumah itu harusnya juga diberi aturan. Jangan terlalu banyak,” tegasnya.
Selain berdampak pada suhu, penggunaan AC juga berpengaruh pada konsumsi energi listrik. Semakin banyak digunakan, semakin besar pula energi yang dibutuhkan.
“AC itu bukan hanya soal panas, tapi juga pemborosan energi listrik. Dampaknya tidak hanya sekarang, tapi juga ke depan,” jelasnya.
Sebagai solusi, ia menyarankan konsep hunian yang lebih ramah lingkungan. Misalnya, memperbaiki sirkulasi udara, meninggikan bangunan, dan menanam pohon di sekitar rumah.
Jika tidak memungkinkan setiap rumah memiliki pohon, setidaknya ada penghijauan di tingkat lingkungan. Dengan begitu, kesejukan bisa tercipta secara alami.
“Kalau satu rumah tidak bisa, ya minimal satu gang ada tanaman. Yang penting desainnya memang memikirkan penghijauan,” ujarnya.
Ia menegaskan, kenyamanan tidak harus dicapai dengan cara instan yang berdampak buruk. Menjaga keseimbangan lingkungan justru jadi kunci agar hidup tetap nyaman dalam jangka panjang. (bae)


