BACAAJA, LEBANON — Militer Israel menyerang kontingen pasukan perdamaian asal Indonesia di Lebanon.
Nyatanya, sama-sama menjadi anggota Board of Peace (BoP) bentukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, tak menjamin keselamatan pasukan Indonesia dari serangan Israel.
Satu personel TNI yang sedang menjalankan misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon gugur setelah diserang militer Israel.
Meski personel TNI yang gugur tak sedang menjalankan misi BoP melain PBB, namun hal ini menunjukkan Israel tak segan untuk menyerang sesama anggota Dewan Perdamaian bentukan Trump.
Bacaaja: Kritik Dewan Perdamaian Trump, PDIP: Perdamaian Palestina Harusnya Lewat PBB
Bacaaja: PBB Terancam Rungkad, Dewan Perdamaian Trump Bikin Kondisi Makin Runyam
Informasi tersebut disampaikan oleh Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres melalui platform X pada Senin (30/3).
“Saya mengecam keras insiden pada Minggu di mana seorang penjaga perdamaian asal Indonesia di UNIFIL terbunuh di tengah permusuhan antara Israel dan Hizbullah,” katanya.
Insiden ini jadi tamparan keras: bahkan sesama pihak yang sama-sama berada di bawah misi perdamaian dunia, tetap nggak menjamin aman.
Peristiwa tragis ini terjadi di dekat Adchit Al Qusayr, Lebanon selatan, Minggu (29/3).
Laporan media Lebanon menyebut, artileri Israel menghantam area sekitar markas kontingen Indonesia yang tergabung dalam UNIFIL.
Akibat serangan itu:
- 1 personel TNI gugur
- 1 personel luka kritis
- 2 lainnya mengalami cedera
Padahal, posisi mereka jelas: penjaga perdamaian, bukan pihak yang bertempur.
Yang bikin makin ironis, pasukan UNIFIL ini ada di bawah mandat PBB—yang seharusnya dihormati semua pihak. Tapi di lapangan, garis itu jadi blur.
Pihak UNIFIL sendiri mengonfirmasi ledakan terjadi di dekat posisi mereka, meski masih menyelidiki asal proyektilnya.
“Tidak seorang pun seharusnya kehilangan nyawa saat menjalankan tugas demi perdamaian.”
Indonesia murka, tapi berani gak keluar dari BoP?
Pemerintah Indonesia langsung angkat suara. Lewat Kementerian Luar Negeri, RI mengecam keras insiden ini dan mendesak penyelidikan menyeluruh serta transparan.
Indonesia juga menegaskan: serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian itu nggak bisa dibenarkan
keselamatan personel PBB harus dihormati sesuai hukum internasional.
Selain itu, pemerintah saat ini fokus memulangkan jenazah prajurit yang gugur dan memastikan perawatan terbaik bagi korban luka.
Di sisi lain, menurut hukum humaniter internasional, serangan terhadap pasukan PBB bisa dikategorikan sebagai pelanggaran serius, bahkan kejahatan perang.
Dengan kejadian ini, beranikah Indonesia keluar dari keanggotaan BoP? (*)


