BACAAJA, JAKARTA – Isu pemangkasan hari program Makan Bergizi Gratis (MBG) sempat bikin ramai. Tapi Badan Gizi Nasional langsung kasih penjelasan biar nggak simpang siur.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, bilang kalau durasi pemberian MBG ke depan nggak dipukul rata lagi. Mulai 2026, jadwalnya bakal ngikutin hari aktif sekolah masing-masing.
Jadi, kalau sekolahnya lima hari, ya MBG-nya lima hari. Kalau ada yang masih enam hari, tetap dapat enam hari. Simpel, tapi lebih realistis.
“Fokus kami sekarang kualitas layanan dan efektivitas program,” jelas Dadan.
Skema ini juga sekaligus menjawab isu efisiensi anggaran yang sempat disinggung pemerintah. Sebelumnya, dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia muncul wacana pengurangan hari distribusi MBG dari enam jadi lima hari dalam seminggu.
Bahkan, hitungan awalnya bisa menghemat sampai puluhan triliun rupiah per tahun. Tapi, Dadan menegaskan kalau keputusan final tetap menyesuaikan kondisi di lapangan, bukan sekadar potong hari.
Yang jelas, konsep MBG masih sama: makanan segar siap santap yang langsung dikirim ke penerima. Mulai dari ibu hamil, ibu menyusui, balita di posyandu, sampai siswa sekolah dan santri.
Bedanya dengan tahun sebelumnya, 2025 hampir semua sekolah dapat jatah enam hari, bahkan ada tambahan makanan buat dibawa pulang. Nah, di 2026 pendekatannya lebih fleksibel dan berbasis kehadiran.
Kalau libur? Ya otomatis nggak ada distribusi.
Selain itu, BGN juga lagi ngebut beresin kualitas di balik layar. Mulai dari standar dapur, sistem distribusi, sampai sertifikasi SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) biar layanan tetap aman dan konsisten.
Intinya, program ini nggak cuma soal bagi-bagi makanan, tapi juga soal tepat sasaran dan efisiensi. Dengan skema baru ini, pemerintah berharap MBG tetap jalan maksimal tanpa buang-buang anggaran. (*)


