BACAAJA, JAKARTA – Wacana sekolah online lagi mulai April 2026 yang sempat bikin heboh, akhirnya resmi dibatalkan. Jadi, fix siswa tetap belajar tatap muka seperti biasa.
Keputusan ini disampaikan Menteri Koordinator PMK, Pratikno, setelah rapat lintas kementerian.
Kata Pratikno, setidaknya ada tiga alasan utama mengapa rencana sekolah daring dibatalkan.
Bacaaja: MBG Mau Dipangkas Satu Hari, Hematnya Bisa Tembus Puluhan Triliun
Bacaaja: Pemerintah Wacanakan Belajar Di Rumah Untuk Anak Sekolah, Nasib MBG Nih?
1. Biar Nggak “Learning Loss”
Alasan paling utama: pemerintah nggak mau kualitas belajar siswa turun.
Kalau terlalu lama belajar online, dikhawatirkan muncul learning loss alias penurunan pemahaman siswa.
Makanya, sekolah tatap muka dianggap lebih aman buat jaga kualitas pendidikan.
2. Belajar Harus Lebih Optimal
Menurut Pratikno, proses belajar sekarang justru harus makin maksimal, bukan malah dikurangi kualitasnya.
Pembelajaran harus optimal dan tidak menurun.
Artinya, sekolah langsung (luring) masih jadi opsi terbaik dibanding daring.
3. Daring Belum Jadi Kebutuhan Mendesak
Walaupun sempat dibahas sebagai bagian dari efisiensi energi, pemerintah menilai sekolah online belum urgent.
Hasil rapat lintas kementerian menyimpulkan: daring bukan prioritas saat ini, sehingga sekolah tatap muka tetap jadi pilihan utama.
Keputusan ini juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang lagi ngejar peningkatan kualitas SDM, khususnya di bidang pendidikan.
Senada disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menjelaskan keputusan ini diambil berdasarkan hasil rapat lintas kementerian.
“Pembelajaran di sekolah dilaksanakan seperti biasa dengan pertimbangan akademik dan penguatan pendidikan karakter,” ujarnya, Rabu (25/3/2026).
Menurut Mu’ti, alasan utama pembatalan sekolah online bukan cuma soal akademik, tapi juga pembentukan karakter siswa.
Sekolah tatap muka dinilai lebih efektif untuk:
- membangun disiplin
- meningkatkan interaksi sosial
- membentuk kebiasaan positif
Jadi, belajar di kelas masih dianggap paling optimal dibanding dari rumah. (*)


