BACAAJA, JAKARTA – Euforia Lebaran selalu identik dengan mudik dan kumpul keluarga. Mobilitas tinggi bikin suasana makin hangat, tapi juga membuka celah penyebaran penyakit. Salah satunya campak yang kini mulai kembali naik.
Data dari Kementerian Kesehatan RI menunjukkan lonjakan kasus sepanjang 2025 hingga awal 2026. Tercatat puluhan ribu kasus suspek dengan ribuan yang terkonfirmasi. Bahkan ada puluhan kematian yang jadi alarm serius.
Memasuki awal 2026, tren ini belum sepenuhnya reda. Hingga minggu ke-7 saja, ribuan kasus masih ditemukan. Ini menandakan penyebaran masih terjadi di berbagai daerah.
Selain itu, puluhan kejadian luar biasa juga dilaporkan. Kasus menyebar di banyak kabupaten dan provinsi. Kondisi ini bikin kewaspadaan harus ditingkatkan, apalagi saat Lebaran.
Campak dikenal sebagai penyakit yang sangat mudah menular. Virusnya bisa menyebar lewat batuk dan bersin. Bahkan bisa bertahan di udara dalam waktu tertentu.
Masa inkubasinya sekitar 10 sampai 12 hari. Setelah itu, gejala mulai muncul perlahan. Dalam lingkungan padat, penyebarannya bisa sangat cepat.
Gejala awal sering mirip flu biasa. Anak biasanya mengalami demam tinggi, batuk, dan pilek. Mata juga bisa merah dan berair.
Tanda khas campak muncul beberapa hari kemudian. Bintik putih kecil di dalam mulut jadi salah satu cirinya. Setelah itu, ruam mulai muncul dari wajah dan menyebar ke tubuh.
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, campak bukan penyakit ringan yang bisa diremehkan. Dalam kondisi tertentu, bisa memicu komplikasi serius. Risiko paling tinggi ada pada anak yang belum imunisasi.
Komplikasi yang mungkin terjadi cukup beragam. Mulai dari infeksi telinga hingga pneumonia. Bahkan bisa menyebabkan radang otak yang berbahaya.
Penanganan campak sendiri belum punya obat antivirus khusus. Perawatan lebih fokus ke meredakan gejala. Tubuh dibiarkan melawan infeksi secara alami.
Anak perlu istirahat cukup dan asupan nutrisi yang baik. Cairan juga harus terpenuhi agar tidak dehidrasi. Vitamin A sering diberikan untuk membantu pemulihan.
Obat tambahan bisa diberikan sesuai kondisi. Misalnya penurun demam atau obat batuk. Antibiotik hanya dipakai jika ada infeksi tambahan.
Jika kondisi memburuk, perawatan medis diperlukan. Terutama jika muncul komplikasi serius. Bayi dan anak dengan imun lemah harus lebih diawasi.
Di momen Lebaran, risiko penularan meningkat drastis. Banyak orang berkumpul dalam satu tempat. Ini jadi peluang virus menyebar lebih cepat.
Karena itu, pencegahan jadi langkah paling penting. Kebiasaan hidup bersih harus dijaga. Mulai dari cuci tangan hingga etika batuk.
Menghindari kontak dengan orang sakit juga penting. Terutama bagi bayi dan ibu hamil. Kelompok ini lebih rentan terhadap infeksi.
Langkah paling efektif tetap lewat vaksinasi. Imunisasi campak diberikan sesuai jadwal sejak bayi. Booster juga diperlukan untuk perlindungan maksimal.
Orang tua diimbau tidak menunda imunisasi anak. Selain melindungi diri sendiri, ini juga membantu mencegah penyebaran. Kesadaran bersama jadi kunci.
Jadi, di tengah serunya Lebaran, kewaspadaan tetap perlu dijaga. Jangan sampai momen bahagia terganggu penyakit. Karena kesehatan keluarga tetap nomor satu.(*)


