BACAAJA, CILACAP- Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mulai kasih warning ke daerah-daerah rawan kekeringan di Jateng: siap-siap dari sekarang, jangan nunggu tanah retak dulu baru panik.
Lewat keterangan dari Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, kondisi musim kemarau 2026 diprediksi punya curah hujan di bawah normal. Artinya? Potensi kekeringan lebih tinggi dari biasanya.
Baca juga: Tanda-Tanda Kemarau Datang Lebih Cepat di Sejumlah Wilayah, Termasuk Jateng
Ketua tim BMKG setempat, Teguh Wardoyo menjelaskan, kalau awal kemarau di Kabupaten Cilacap diperkirakan mulai Mei dasarian kedua. Tapi untuk wilayah pesisir tenggara seperti Binangun dan Nusawungu, bisa datang lebih cepat, Mei awal sudah “kering duluan”.
Durasi kemarau di Cilacap sendiri diprediksi cukup panjang, sekitar 140 sampai 180 hari. Lumayan buat bikin sumur mulai “berpikir keras”. Sementara di Kabupaten Banyumas, kemarau datang bertahap. Wilayah tenggara mulai lebih dulu di awal Mei, lalu merambat ke wilayah lain hingga Juni. Puncaknya? Diperkirakan terjadi Agustus 2026.
Lebih Kering
Durasi kemarau di Banyumas berkisar 110 sampai 180 hari, dengan pola yang sama: lebih kering dari normal. Kondisi serupa juga bakal dirasakan di Kabupaten Purbalingga. Awal kemarau diprediksi mulai Juni, dengan durasi sekitar 120 hari dan puncaknya juga di bulan Agustus.
Yang bikin beda dari tahun lalu, kata BMKG, adalah karakter hujannya. Tahun 2025 justru cenderung basah, bahkan ada daerah yang “hujan terus” tanpa kemarau jelas.
Tahun ini kebalikannya. “Curah hujan diprakirakan di bawah normal, jadi musim kemarau akan lebih kering dibanding biasanya,” jelas Teguh. Sebelum benar-benar masuk kemarau, masyarakat juga diminta waspada di masa pancaroba sekitar April-Mei.
Baca juga: Petani Geblog Kini Tak Lagi Risau Saat Kemarau
Cuaca bisa jadi “random”, mulai dari hujan lebat, petir, angin kencang, sampai potensi puting beliung. Belum lagi suhu yang mulai terasa makin panas, bikin siang hari terasa lebih “menyengat”.
Kadang yang bikin repot bukan kemarau itu sendiri, tapi kebiasaan kita yang baru sibuk cari air saat sumur sudah kering, padahal peringatannya sudah datang jauh sebelum tanah mulai pecah. (tebe)


