Garry Satrio N adalah mahasiswa UIN Walisongo jurusan Al-Qur’an dan Tafsir.
Ini cerita tentang bagaimana manusia dikurung oleh angka yang dia sendiri ciptakan.
Pernahkah kamu merasa keberadaanmu hanya dihitung dari angka, bukan dari siapa kamu tapi dari berapa nominal yang dihasilkan?
Di balik semua angka-angka itu—gaji, jabatan, dan omzet, tersembunyi realitas yang lebih pahit. Kita semua, mau tidak mau, sudah direduksi jadi angka dalam sistem yang cuma menguntungkan segelintir orang. Bukan lagi soal siapa kita atau apa yang kita perjuangkan, tapi berapa yang bisa kita hasilkan. Ini cerita tentang bagaimana manusia dikurung oleh angka yang dia sendiri ciptakan.
Kita diajarkan sejak kecil bahwasanya manusia adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang bergantung kepada makhluk lain. Bukan makhluk yang menyendiri (individualis). Di era industri saat ini, manusia sangat sedikit dan jarang sekali memikirkan saudaranya, karena kebutuhan pribadinya saja jauh dari kata cukup. Memikirkan orang lain ujung-ujungnya malah disebut melakukan hal bodoh.
Tapi tunggu dulu, ini bukan salah manusianya yang tiba-tiba jadi egois. Individualisme antar manusia lahir dari sistem yang tamak. Sistem itulah yang mengendalikan modal dan upah. Sistem yang bikin kita semua harus survival mode terus-terusan.
Perusahaan besar memiliki uang yang banyak yang berasal dari laba keuntungan penjualan. Keuntungan yang berlimpah ruah sebaliknya hanya dirasakan oleh owner-nya saja. Sebaliknya, karyawan hanyalah budak korporat dengan gaji murah.
Bayangkan jika untung bersih sebulan 1 triliun, sementara pekerja di lapangan terima gaji 3-4 juta. Bahkan ada yang di bawah itu. Lalu muncul pertanyaan: jika negara ikut mengatur upah, mengapa yang diatur cuma batas bawah, bukan keadilan? Sebab dengan untung 1 T, membayar pekerja layak pasti sanggup. Tapi kenyataannya, keuntungan sebanyak itu dinikmati sendiri. Yang lain? Cuma bisa lihat dari jauh.
Dalam sebulan, owner bisa menyekolahkan anaknya ke luar negeri. Sementara pekerjanya justru bernasib sebaliknya, berpikir keras apakah anaknya besok bisa sekolah. Satu pilih kampus, satu pilih antara beli buku atau beli beras. Lalu bagaimana nasib mereka yang setengah hidupnya dihabiskan di perusahaan itu?
Ini yang disebut manusia angka yang terkurung oleh angka. Sistem yang bobrok yang harus diperbaiki. Negeri ini kaya raya, tapi yang menikmati hanya itu-itu saja. Segelintir orang makin kaya dan nyaman, sementara ruang hidup jutaan rakyat hancur tanpa sisa. Bukan tanpa perlawanan, tapi suara perlawanan itu sengaja dibungkam. Dibungkam oleh perusahaan, dibungkam oleh sejawat yang bersekutu melanggengkan kekuasaan.
Bukti konkretnya? Lihatlah di Morowali tepatnya Sulawesi Tenggara, pertambangan nikel dicecarkan seakan membuka lapangan pekerjaan. Namun, sejatinya itu hanya penghancuran terhadap pengharapan. Kehidupan nelayan justru semakin sulit. Akibat pertambangan itu banjir datang. Belum lagi ancaman kesehatan gara-gara keserakahan tambang.
Fakta dari Morowali menunjukkan, terdapat banyak limbah nikel dibuang ke laut tiap produksi. Hasilnya pun bisa ditebak, tangkapan nelayan anjlok, bahkan penyakit aneh pun muncul. Semua terjadi demi kepentingan sepihak yang dipaksakan sebagai kepentingan bersama. Manusia angka diperbudak oleh angka pada akhirnya.
Kita cuma angka: nomor induk, nomor rekening, nominal utang. Yang di atas menghitung untung, yang di bawah menghitung agar bisa bertahan. Ketika hari Senin tiba, kita berduyun-duyun masuk pabrik dan kantor. Bukan karena cinta pekerjaan, tapi karena angka-angka di rumah sudah menunggu untuk dibayar.
Mungkin kita lupa kapan terakhir kali ditanya “apa kabar?” Tanpa dimaksud “apa kabar pekerjaanmu?” Sebab hari ini, “siapa dirimu” sudah tergantikan oleh “apa pekerjaanmu dan berapa gajimu.”(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


