BACAAJA, JAKARTA – Pemerintah akhirnya ngasih format jelas soal sekolah selama bulan puasa 2026. Jadi bukan libur full, tapi juga bukan belajar berat kayak hari biasa.
Aturannya keluar lewat surat edaran bareng tiga kementerian. Tujuannya biar belajar tetap jalan tapi anak nggak kelelahan.
Edaran itu ditandatangani Abdul Mu’ti, Nasaruddin Umar, dan Tito Karnavian. Semua daerah diminta ngikutin pola yang sama.
Menurut Abdul Mu’ti, Ramadhan bukan cuma soal ibadah pribadi. Sekolah juga dipakai buat ngebangun karakter anak.
“Ramadhan itu momen memperkuat iman, akhlak, dan kepedulian sosial,” katanya. Karena itu pembelajaran dibuat lebih humanis.
Di awal puasa, tanggal 18 sampai 21 Februari 2026, siswa belajar mandiri di rumah. Tugasnya ringan dan nggak bikin stres.
Sekolah diminta nggak kebanyakan PR digital. Pemakaian gadget juga ditekan seminim mungkin.
Mulai 23 Februari sampai 14 Maret 2026, murid masuk sekolah lagi. Tapi nuansanya beda dari hari biasa.
Selain pelajaran, bakal ada kegiatan keagamaan dan sosial. Fokusnya pembentukan sikap, bukan sekadar nilai.
Untuk siswa muslim dianjurkan ikut tadarus dan pesantren kilat. Sementara yang nonmuslim ikut bimbingan rohani sesuai keyakinannya.
“Pembelajaran tetap bermakna tanpa membebani,” ujar Abdul Mu’ti.
Libur Idul Fitri berlangsung 16 sampai 20 Maret dan lanjut 23 sampai 27 Maret. Waktunya dipakai silaturahmi keluarga.
Sekolah normal lagi mulai 30 Maret 2026. Aktivitas kembali seperti kalender biasa.
Sekolah juga diminta mengurangi kegiatan fisik berat. Pelajaran olahraga nggak dibuat terlalu menguras tenaga.
Guru fokus ke asesmen ringan dan perhatian ke siswa yang tertinggal. Anak berkebutuhan khusus juga dapat perhatian khusus.
Orang tua punya peran besar selama belajar di rumah. Mereka diminta dampingi anak dan atur penggunaan internet.
Anak juga diajak ikut kegiatan sosial dan ibadah lingkungan. Sekaligus dijaga dari kekerasan maupun risiko pernikahan dini.
Pemerintah berharap puasa jadi ruang pendidikan karakter. Bukan cuma nahan lapar, tapi juga belajar jadi pribadi lebih matang. (*)


