Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Serunya Tradisi Gebyuran Bustaman, Ada Makna Sakral di Balik Aksi Saling Coret-Saling Siram
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Unik

Serunya Tradisi Gebyuran Bustaman, Ada Makna Sakral di Balik Aksi Saling Coret-Saling Siram

R. Izra
Last updated: Februari 15, 2026 8:51 pm
By R. Izra
3 Min Read
Share
Masyarakat antusias mengikuti tradisi gebyuran dan basah-basahan di Bustaman, Minggu (15/02/2026). (LPM Missi UIN Walisongo)
Masyarakat antusias mengikuti tradisi gebyuran dan basah-basahan di Bustaman, Minggu (15/02/2026). (LPM Missi UIN Walisongo)
SHARE

BACAAJA, SEMARANG – Suasana meriah terasa di Kampung Bustaman, Kota Semarang, saat warga bersama para pengunjung mengikuti tradisi gebyuran untuk menyambut datangnya bulan Ramadan.

Tradisi tahunan ini kembali menarik perhatian masyarakat, terutama generasi muda yang penasaran dengan suasana dan makna di balik perayaan tersebut.

Salah satu pengunjung, Ayu (21), dara asal Pemalang yang kuliah di UIN Walisongo, mengaku tertarik datang karena tradisi ini sudah menjadi ikon budaya kota yang selalu digelar menjelang Ramadan.

Bacaaja: Gebyuran Bustaman 2026: Ragam Tradisi Unik Sambut Ramadan di Semarang
Bacaaja: Lebih dari Sekadar Tradisi, Dugderan Semarang Diperjuangkan Jadi Warisan Budaya Nasional

Menurutnya, acara ini bukan sekadar hiburan, tetapi memiliki makna simbolik yang kuat. Wajah peserta yang dicoret-coret dan kemudian disiram air menjadi simbol pembersihan diri sebelum memasuki bulan suci.

“Ini menarik karena sebelum Ramadan kita seakan diingatkan untuk membersihkan diri, baik secara simbolik maupun secara batin. Setelah dicoret-coret lalu digebyur air, seperti pesan bahwa kita harus siap menyucikan diri,” ujar Ayu, Minggu (15/02/2026)

Pengunjung lain yang baru pertama kali datang juga mengaku penasaran setelah sebelumnya hanya mendengar cerita teman-temannya. Etsa (20) dari Bojonegoro yang kuliah di Semarang, juga mengaku suasana di lokasi ternyata lebih seru dan unik dari yang dibayangkan.

“Awalnya cuma diajak teman, tapi ternyata acaranya seru sekali. Tadi juga sempat wawancara warga dan ternyata setiap coretan dan gebyuran air punya makna sendiri. Jadi senang bisa merasakan langsung tradisi ini,” katanya.

Para pengunjung juga merasakan suasana kebersamaan yang kuat begitu memasuki kawasan kampung. Warga setempat dengan ramah menyambut siapa saja yang datang, bahkan langsung mengajak pengunjung ikut serta dalam ritual coret-coret dan siraman air.

Menurut Etsa, inilah daya tarik utama Bustaman. Siapa pun yang datang akan langsung merasa diterima dan menjadi bagian dari perayaan.

“Begitu masuk kampung, semua terasa menyatu. Warganya ramah, langsung menyapa, bahkan kita langsung diajak ikut merasakan tradisinya. Di sini kita benar-benar menemukan makna kebersamaan,” ujarnya.

Tradisi gebyuran Bustaman pun menjadi pengalaman unik yang jarang ditemui di tempat lain. Para pengunjung berharap semakin banyak warga Semarang maupun wisatawan luar kota datang untuk merasakan langsung atmosfer hangat dan penuh kebersamaan ini.

Dengan suasana yang meriah sekaligus sarat makna, Gebyuran Bustaman tak sekadar menjadi tontonan, tetapi juga pengingat bahwa Ramadan bukan hanya soal ibadah, melainkan juga tentang mempererat hubungan antarwarga dan membersihkan diri sebelum memasuki bulan suci. (dul)

You Might Also Like

Esteban Vizcarra Siap Jadi Motor Lini Tengah PSIS

Padi Jateng Diproyeksi Nanjak 5,5 Persen di 2026

Putri Wali Kota Prabumulih Pindah Sekolah, Publik Tambah Ngotot Soroti Drama yang Terjadi

Kinerja Pemprov Jateng Diapresiasi Pusat

Natal Nggak Cuma Soal Lilin, PDIP Ingatkan: Saatnya Turun Tangan dan Rawat Alam

TAGGED:bustamangebyuranheadlineramadanSemarangtradisi
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Gol Telat Rafinha Selamatkan Mahesa Jenar
Next Article Perumahan Grand Batik, salah satu lokasi terdampak banjir di Tembalang, Kota Semarang, Minggu hingga Senin (16/2/2026) dini hari. Banjir Genangi Sejumlah Perumahan di Semarang, Ratusan Jiwa Terdampak  

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Setelah Pelatihan 30 Ribu Manajer Koperasi Mau Ditempatkan Dimana?

Gudang Gresik Jadi Titik Bongkar, 3 Ton Narkoba Gagal Beredar

Koper Terendam Rob, Rp 1,5 Miliar Uang Akhirnya Terselamatkan

Ngebul di Malioboro Kini Bisa Berujung Sidang dan Denda

POLISI - Ilustrasi anggota Polri (polisi).

BREAKING NEWS: Jenderal Polisi Aktif Tersangka Baru Korupsi MBG, Atur Penjualan Ompreng

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Unik

Rujak Thailand Viral Versi Rumahan, Warganet Penasaran Coba Resepnya

Agustus 31, 2025
Mantan Menkopolhukam, Mahfud MD.
Unik

Mahfud MD Bongkar Akar Masalah: Dari Kebijakan Setengah Hati sampai Arogansi Elit

Agustus 31, 2025
Jokowi dan Kaesang Pangarep
Unik

Partainya Keluarga Jokowi, Kaesang Kembali Terpilih Jadi Ketua Umum PSI

Juli 19, 2025
Sepak Bola

PSIS Masuk Fase Krusial: Tiga Laga Tandang, Satu Kandang

April 7, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Serunya Tradisi Gebyuran Bustaman, Ada Makna Sakral di Balik Aksi Saling Coret-Saling Siram
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?