BACAAJA, SURAKARTA- Satu benang merah menguat dalam Rapat Koordinasi Forum Komunikasi Pimpinan Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Jawa Tengah: kampus swasta Jateng harus naik kelas. Nggak ada opsi lain.
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VI, Prof Dr Ir Aisyah Endah Palupi, MPd bilang, naik kelas itu bukan mimpi satu-dua kampus, tapi cita-cita kolektif. Kampus swasta idealnya punya magnet kuat buat narik mahasiswa sekaligus sanggup mencetak lulusan yang kualitasnya relevan sama zaman.
“PTS naik kelas itu cita-cita kita bersama,” tegas Aisyah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMS, Rabu, (10/2/2026). Tapi naik kelas versi Aisyah bukan sekadar urusan nilai akreditasi di kertas. Yang lebih penting justru fondasinya: tata kelola yang sehat dan berkelanjutan, kepemimpinan yang adaptif, serta budaya mutu yang beneran dijalankan, bukan cuma jargon di banner.
Baca juga: Ketika Kampus Diajak Bangun Daerah
Indikatornya juga jelas, kampus patuh regulasi, Tridharma jalan, reputasi publik naik, dan lulusan punya daya saing. Kalau itu semua ketemu, barulah PTS bisa dibilang naik level.
Soal akselerasi, kuncinya satu: kolaborasi. PTS nggak bisa jalan sendirian. Harus gandeng pemda, dunia usaha dan industri, lembaga riset, sampai masyarakat. Di titik ini, kampus swasta didorong jadi katalis pembangunan daerah, bukan cuma menara gading akademik.
Ekosistem Riset
“Kita bukan bersaing, tapi berkoordinasi. Naik kelas bukan pilihan, tapi keharusan,” ujar Aisyah mantap. Biar transformasi nggak setengah jalan, penguatan ekosistem riset juga jadi PR besar.
Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kemendiktisaintek, Prof apt I Ketut Adnyana menegaskan, riset PTS harus terintegrasi dan berdampak nyata.
Fondasinya ada dua: publikasi kelas dunia dan produk industri bernilai tinggi. Tapi semua itu balik lagi ke satu hal, SDM. “Tidak mungkin bangun ekosistem riset tanpa talenta unggul yang adaptif dan inovatif,” kata Ketut.
Baca juga: Tim Ekspedisi Patriot IPB Gelar FGD Bahas Pengembangan Sagu di Kawasan Transmigrasi Salor
Universitas, lanjutnya, harus jujur mengenali kekuatannya sendiri, berani berinvestasi di riset, dan konsisten membangun budaya inovasi. Pemerintah pun sudah nyiapin banyak “amunisi”, mulai dari PUI-PT, riset konsorsium unggulan berdampak, joint funding internasional, sampai program mahasiswa berdampak.
Ketut bahkan mendorong UMS buat membangun Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi. Menurutnya, UMS punya modal kuat buat jadi pusat inovasi dan inkubator startup. “Program ini bukan hadiah, tapi peluang. Lembaganya harus dibentuk dulu,” katanya.
Dan kalau PTS masih sibuk debat naik kelas tapi organisasinya belum sehat, risetnya jalan di tempat, dan kolaborasi cuma wacana, jangan-jangan yang naik cuma spanduk visinya, bukan kualitas kampusnya. (tebe)


