Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Siswa SD di Ngada Bundir, Ganjar: Ini Bukan Tragedi Personal, tapi Jeritan Sunyi Generasi
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Siswa SD di Ngada Bundir, Ganjar: Ini Bukan Tragedi Personal, tapi Jeritan Sunyi Generasi

R. Izra
Last updated: Februari 12, 2026 11:20 am
By R. Izra
4 Min Read
Share
Tangkapan layar channel YouTube Ganjar Pranowo.
Tangkapan layar channel YouTube Ganjar Pranowo.
SHARE

BACAAJA, SEMARANG — Isu kesehatan mental mungkin baru terasa ramai belakangan. Tapi bagi Ganjar Pranowo, ini bukan topik musiman yang datang lalu hilang, melainkan persoalan serius yang sudah lama ia soroti.

Sejak masih menjabat Gubernur Jawa Tengah, Ganjar berulang kali mengingatkan bahwa kesehatan mental harus jadi perhatian bersama. Bukan cuma ketika viral, bukan juga setelah tragedi terjadi.

Kabar meninggalnya seorang anak sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pun langsung menyita perhatian.

Bacaaja: Ganjar Minta Partai Politik Setop Ribut Pilkada Via DPRD, Urus Korban Bencana Dulu
Bacaaja: Prihatin Kesehatan Mental di Papua, Psikolog Putri Lulusan SCU Ingin Mengabdi di Tanah Kelahiran

Namun bagi Ganjar, ini bukan sekadar berita duka yang lewat di timeline lalu terlupakan. Ini adalah wake-up call. Sebuah pengingat keras bahwa ada anak-anak yang terlihat baik-baik saja di luar, tapi sebenarnya sedang berjuang sendirian.

Di balik kemiskinan, ketimpangan pendidikan, sampai tekanan keluarga, ada beban mental yang sering tidak terbaca. Anak-anak yang harusnya fokus belajar dan bermain, malah dipaksa cepat “dewasa” oleh keadaan.

Lewat kanal YouTube pribadinya, Ganjar menegaskan bahwa peristiwa ini tidak bisa dilihat sebagai masalah individu.

“Ini bukan tragedi personal, tapi jeritan sunyi generasi yang luput dari perhatian,” ujarnya.

Kalimat itu terasa menampar, karena sering kali kita baru sadar ada masalah setelah semuanya terlambat.

Ganjar menjelaskan, tekanan mental pada anak hampir tidak pernah berdiri sendiri. Kondisi ekonomi keluarga, akses pendidikan yang sulit, hingga kebutuhan dasar yang belum terpenuhi ikut membentuk rasa tertekan yang mereka alami.

Intinya jelas: kesehatan mental bukan cuma urusan medis. Ini juga soal realita sosial. “Kesehatan mental tidak bisa dipisahkan dengan kondisi sosial dan ekonomi,” kata Ganjar.

Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2023 mencatat sekitar 9,57 persen anak Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan. Di saat yang sama, akses pendidikan belum sepenuhnya merata, terutama di wilayah 3T.

Masih banyak anak harus menempuh jarak jauh ke sekolah, belajar dengan fasilitas seadanya, atau bergulat dengan biaya pendidikan. Ketika sekolah saja terasa seperti perjuangan, ruang aman untuk tumbuh otomatis jadi makin sempit.

Belum lagi tren yang bikin makin waswas. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan angka kasus bunuh diri meningkat dari 353 kasus pada 2018 menjadi 614 pada 2022.

Angka ini bukan sekadar statistik. Ini sinyal bahwa ada sesuatu yang belum kita bereskan bersama, terutama soal deteksi dini dan pendampingan psikologis.

Karena itu, krisis kesehatan mental tidak bisa ditangani setengah-setengah. Ini bukan cuma soal konseling, tapi juga tentang bagaimana negara menentukan arah kebijakan.

Pertumbuhan ekonomi boleh terlihat menjanjikan. Tapi kalau masih ada anak yang merasa sendirian menghadapi hidup, kita mungkin perlu bertanya ulang, pembangunan ini sebenarnya sedang mengejar apa?

Negara tidak hanya bertugas mencerdaskan anak bangsa, tapi juga memastikan mereka merasa aman, termasuk secara emosional.

Sudah waktunya kesehatan mental masuk ke ‘main stage’ kebijakan publik: hadir di sekolah, diperkuat lewat perlindungan sosial, dan mudah diakses dalam layanan kesehatan. Jika tidak, maka jeritan sunyi itu akan terus ada, hanya saja kita yang sering gagal mendengarnya.

Ganjar pun mengingatkan satu hal yang tak boleh ditawar, tidak boleh ada lagi anak yang menyerah pada rasa tidak berdaya.

“Anak adalah bagian besar dari dampak krisis kesehatan mental nasional,” tegas politikus PDIP itu.

Tragedi di Ngada seharusnya tidak berhenti di rasa duka. Ia harus jadi momentum untuk lebih peka. Karena kadang, anak-anak tidak butuh ditanya panjang lebar. Mereka hanya butuh benar-benar diperhatikan. (*)

You Might Also Like

Tangis Happy Ending Amsal Sitepu, Hakim Tipikor Vonis Bebas Videografer Profil Desa

Pemerintah Naikin Kuota Subsidi BBM, Bikin Warga Gembira: Lega, Bisa Hemat Pengeluaran!

300M Viral? KPK Bantah Isu Pinjem Bank

Sambut Arus Mudik, Perbaikan Jalan Dideadline Rampung H-10 Lebaran

Dipulangin, 327 Pelaku Demo Rusuh Semarang Merengek dalam Pelukan Orangtua

TAGGED:Ganjar Pranowoheadlinekesehatan mentalngadanttsiswa sdtragedi personal
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Kartasura Bukan Hanya Tempat Singgah, Tapi Ruang yang Menyimpan Cerita Sejarah
Next Article Alat berat mengurai tumpukan sampah yang menggunung di TPA Putri Cempo, Solo, Kamis (12/2/2026). Antrean Truk TPA Putri Cempo Terurai! Enam Alat Berat Bikin Penanganan Sampah Ngebut

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Bung Sis Pimpin PA GMNI Demak, Siapkan Konsolidasi Alumni hingga Aksi Nyata

Sekda Banyumas Tegaskan Tak Ajukan Pengunduran Diri, Begini Penjelasannya

Pilkades Purbalingga Siapkan Anggaran Pengamanan Rp1,3 Miliar

Utang Menumpuk Bukan Berarti Perusahaan Harus Gulung Tikar, Ada PKPU

Jateng Siapkan 10 Ribu Vaksin Rabies Gratis

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Anggota DPR RI Rahayu Saraswati mundur dari kursi DPR. Ini Mundur untuk Maju atau bagaiman?
Opini

Rahayu Saraswati Mundur dari DPR: Mundur untuk Maju atau Mundur untuk Ngopi Dulu, Ya?

September 11, 2025
KAMAR MAYAT - Korban tewas diantar ke ruang jenazah. (grafis/wahyu)
Info

Bambang Setiawan Lansia Penjual Cermin Tewas Dikeroyok saat Kerusuhan 27 Agustus di Jakarta

Agustus 29, 2026
Ilustrasi koruptor.
Hukum

Kejagung Tetapkan Tersangka Baru Korupsi MBG, 32 Nama Terduga Viral di Media Sosial

Juni 12, 2026
Opini

Ironi Kisah Reyhan dan Fara: Dari Kedekatan Personal ke Penghakiman Nasional

Maret 6, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Siswa SD di Ngada Bundir, Ganjar: Ini Bukan Tragedi Personal, tapi Jeritan Sunyi Generasi
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?