Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: Tragedi Kaca Transparan
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Tragedi Kaca Transparan

Redaktur Opini
Last updated: Februari 11, 2026 10:18 am
By Redaktur Opini
3 Min Read
Share
SHARE

Garry Satrio N, mahasiswa jurusan Al-Qur’an dan Tafsir UIN Walisongo.

Bagaimana bisa di negara yang terus-menerus menjanjikan pendidikan gratis dan makan bergizi gratis, hal-hal paling mendasar seperti buku dan pulpen, justru berubah menjadi beban begitu berat bagi seorang anak?

 

Seekor emprit muda pernah menabrak kaca jendela yang tidak ia lihat. Sebelumnya ia terbang seperti biasa tanpa firasat apa-apa, kemudian ia terbentur dan lalu jatuh. Ia celaka karena bahaya yang sejatinya ada di depan mata, tetapi ia tidak bisa menjangkaunya.

Pada 29 Januari 2026, seorang anak kelas IV SD di Ngada, NTT, mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Ia meninggalkan secarik surat untuk ibunya, berisi satu kata yang menyayat: “pelit”, lantaran tak kunjung mendapat buku tulis dan pulpen.

Mustahil bagi kita untuk menyelami sepenuhnya gelombang keputusasaan yang menenggelamkannya. Apakah itu belitan kemiskinan yang tak berujung, luka karena ditinggal ayah, kesepian hidup terpisah dari ibu, atau kegelapan batin yang tak terlihat. Bunuh diri seorang anak selalu menjadi persoalan yang rumit. Tidak pernah bisa disederhanakan menjadi sekadar “urusan alat tulis”.

Tapi dari tragedi itu muncul satu pertanyaan yang tak bisa kita elakkan. Bagaimana bisa di negara yang terus-menerus menjanjikan pendidikan gratis dan makan bergizi gratis, hal-hal paling mendasar seperti buku dan pulpen, justru berubah menjadi beban begitu berat bagi seorang anak?

Inilah “kaca transparan” yang paling rapi hari ini. Komodifikasi yang dikemas sebagai kemajuan. Pendidikan dijanjikan gratis. Makan bergizi juga demikian. Tapi seragam harus dibeli. Buku paket tidak cukup dipinjamkan, harus beli juga. Alat tulis, fotokopi, uang kegiatan dan semua kebutuhan “kecil-kecil” itu terus berakumulasi menjadi gunung beban.

Keluarga miskin yang tidak mampu membayar tidak hanya kehilangan akses pendidikan. Mereka juga mewarisi rasa bersalah. Seolah kemiskinan adalah dosa mereka sendiri. Ketika sekolah negeri dibiarkan serba kekurangan fasilitas, sektor swasta sebaliknya muncul dengan biaya puluhan juta.

Bimbingan belajar tumbuh menjadi industri peluang cuan. Orang tua ditekan oleh narasi “memberikan yang terbaik untuk anak” dan “yang terbaik” selalu berarti yang paling mahal. Pendidikan berubah dari hak menjadi privilege yang dijual. Dan yang paling kejam ialah kita merayakan ini sebagai “peningkatan kualitas”.

Kita juga kadang merasakan ada yang salah dengan kondisi dan situasi hari ini. Tapi kesadaran individu ini sering kali kalah sebelum melangkah ketika harus menghadapi sistem yang jauh lebih besar: permintaan pasar, kebijakan privatisasi, hingga rantai bisnis yang sudah mengakar.

Kita pun bertepuk tangan pada kemajuan ini. Bukan karena setuju, tapi karena kita sudah terlanjur terikat padanya. Pertanyaannya ialah, berapa lagi anak yang harus jatuh sebelum kita menyadari bahwa kaca transparan ini ada?

Berapa lagi keluarga yang harus memilih antara kebutuhan dasar atau sekolah di negara yang mengklaim pendidikan sebagai hak? Atau mungkin, kita sudah terlalu nyaman dengan sistem yang menjual masa depan anak-anak kita sambil menyebutnya “investasi pendidikan”.(*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

CEO yang Menyamar dan Fantasi Kenaikan Kelas

Ketika Seksualitas Dijadikan Alat Kontrol, Kekerasan Jadi Tak Terelakkan

Mentalitas “Jalur Ordal” Ternyata Bisa Bikin Negara Gagal

Pidato Berapi-api di PBB: Momentum Emas atau Janji Manis Prabowo di Panggung Dunia?

Ketika Alam Membalas Tuntas

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Ilustrasi tindak pidana suap dan korupsi. (narakita/grafis/tera) Indonesia Juara Korupsi? IPK Anjlok: Lebih Buruk dari Timor Leste, Kalah Saing di ASEAN
Next Article Langkah Keliru Indonesia Memasuki Perang Orang Lain

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Awaluddin (batik cokelat) menangis saat dihampiri keluarganya usai sidang vonis di pengadilan, Rabu (11/2/2026). (bae)

Cerita Awaluddin Eks-Sekda Cilacap: Korupsi Demi Ikut Pilkada, Kalah Lalu Masuk Penjara

Rumah warga Deliksari, Gunungpati, Semarang, terlihat sudah miring dan beberapa mengalami tembok retak, Rabu (11/02/2026). (dul)

Triastono Risau Tanah Terus Bergerak, Warga Deliksari Bertahan di Tengah Ancaman Longsor

Wakil Ketua DPRD Jateng dari Fraksi Golkar, M Saleh.

Wacana Peralihan LPG ke DME, M Saleh: Sosialisasi Dulu, Jangan Sampai Bikin Warga Kaget

Ketua DPP PDIP, Ganjar Pranowo.

Survei IPI: Ganjar Masuk Tiga Besar Kandidat Capres 2029, Ada Nama Baru Masuk Radar

Terdakwa Andhi Nur Huda duduk di kursi pesakitan saat sidang putusan kasus korupsi BUMD Cilacap, di Tipikor Semarang, Rabu (11/2/2026). (bae)

Ringan Banget Banyak Diskon! Dituntut 18 Tahun, Koruptor Cilacap hanya Dihukum 2 Tahun

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Menteri Purbaya, ya? Mungkinkah dia cuma jadi bayang-bayang Luhut Binsar Panjaitan, ikut-ikutan tanpa suara sendiri? Atau malah jagoannya Luhut yang siap jadi pemain cadangan di panggung besar?. Gambar ilustrasi: Tim Kreatif/dok. 
Opini

Dari Bayangan Luhut ke Menteri Keuangan: Purbaya Si Anak Buah Kini Jadi Bos

September 10, 2025
Opini

Semasa Kecil di Sawah

November 25, 2025
Opini

Jangan Salahkan Gadget, Tetapi Bangun Kognisi Remaja agar Terbiasa Membaca

Januari 27, 2026
Ilustrasi karang gigi.
Opini

Karang Gigi Merusak Senyum Kamu? Jangan Nekat Bersihin Sendiri

November 2, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Tragedi Kaca Transparan
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?