BACAAJA, BLITAR — Buat kebanyakan orang, dengungan Vespa affinis alias tawon vespa itu sudah cukup jadi alarm buat langsung menjauh. Tapi beda cerita dengan Nurul Yudiawan (42). Di telinganya, suara itu justru terasa familiar, seperti “lagu lama” yang sudah ia kenal sejak remaja.
Nurul bukan pawang biasa. Di pesisir selatan Blitar, namanya sudah sering disebut kalau ada sarang tawon yang bikin warga waswas.
Saat banyak orang memilih jaga jarak, Nurul malah maju tanpa ragu, bahkan tanpa perlengkapan pelindung modern. Modalnya cuma insting, keberanian, dan selembar plastik.
Bacaaja: Langit Tak Selalu Muram di Tangan Lek Joko Sang Pawang Hujan
Bacaaja: Kata Mas Tri Sastra Nggak Bikin Kaya, tapi Kenapa Masih Banyak yang Bertahan?
Hubungan Nurul dengan tawon vespa sudah terjalin sejak muda. Serangga yang dikenal agresif dan berbahaya itu justru tidak ia anggap sebagai musuh.
“Sejak saya remaja sudah seperti ini (jadi pawang tawon vespa). Sebenarnya tawon vespa cukup tenang asal mereka tidak merasa terganggu,” ujarnya saat diwawancarai, Minggu (1/2/2026).
Setiap kali beraksi, pemandangannya bisa bikin orang merinding. Tanpa pelindung wajah atau sarung tangan khusus, Nurul mendekati sarang yang menggantung di pohon atau bangunan. Peralatannya pun jauh dari kata canggih, hanya busa dan plastik.
Namun, jangan salah. Pengalaman panjang membuatnya punya semacam “radar alami” untuk membaca situasi: kapan tawon sedang defensif dan kapan mereka relatif kalem.

“Tawon-tawon ini sudah saya anggap seperti anak sendiri. Kalau kita punya kedekatan batin, Insya Allah mereka tidak menyerang,” katanya santai.
Yang bikin makin geleng-geleng kepala, Nurul tak sekadar mengevakuasi sarang. Ia juga terlihat seperti bisa “berkomunikasi” dengan koloni tawon.
Dengan suara pelan, ia memberi perintah agar tawon keluar atau kembali ke sarang, momen yang sering bikin warga antara kagum dan deg-degan. Maklum, satu sengatan vespa saja bisa berisiko serius.
“Yang penting saya berdoa kepada Allah. Kalau niat kita baik, insyaallah tawon-tawon ini juga baik pada kita,” tambahnya.
Meski sudah mengevakuasi puluhan sarang di berbagai wilayah Blitar, Nurul tetap memegang prinsip yang cukup langka di era serba cuan: semua bantuannya gratis.
“Sudah ada puluhan sarang yang saya evakuasi. Prinsip saya mencari persaudaraan, bukan bayaran. Saya justru tidak mau kalau evakuasinya dibayar,” tegasnya.
Di tengah dunia yang makin transaksional, sosok Nurul terasa beda. Keberaniannya mungkin sulit ditiru, tapi ketulusannya gampang bikin salut.
Dari pesisir Blitar, ia menunjukkan bahwa skill bukan cuma soal kemampuan, tapi juga tentang bagaimana memakainya untuk bantu orang lain. (*)

