BACAAJA, NEW YORK CITY – PBB lagi nggak baik-baik saja. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres angkat bicara soal kondisi keuangan organisasi dunia itu yang makin kritis.
Kalau nggak ada perubahan besar, kas PBB bisa kosong total mulai Juli 2026. Keuangan PBB bisa rungkad alias bangkrut.
Lewat surat ke negara-negara anggota, Guterres blak-blakan bilang masalah utamanya adalah iuran.
Bacaaja: Indonesia Gabung Dewan Keamanan Trump Bayar Rp16,9 Triliun? Nurut Banget Sama Amerika
Bacaaja: Netanyahu Serang Balik, Prabowo Tegas Soal Palestina: Dunia Beri “Cold Shoulder” ke Israel di PBB
Banyak negara belum bayar penuh, bahkan ada yang telat terus. Dampaknya? PBB terpaksa irit besar-besaran.
Rekrutmen pegawai dibekukan, anggaran dipangkas, dan program-program mulai keteteran.
Menurut Guterres, kondisi ini jelas nggak bisa dibiarkan. “Entah negara anggota bayar kewajibannya, atau sistem keuangan PBB harus dirombak total,” tulisnya.
Data keuangan menunjukkan ironi besar. PBB ternyata mempunyai tunggakan yang nilainya gak sedikit.
Walaupun lebih dari 150 negara sudah patuh bayar, PBB tetap menutup 2025 dengan tunggakan iuran mencapai 1,6 miliar dollar AS. Angka ini melonjak tajam dibanding tahun sebelumnya.
Masalah makin pelik karena PBB juga wajib mengembalikan dana yang nggak terpakai, padahal uangnya sendiri lagi seret.
“Kami seperti terjebak dalam lingkaran absurd,” tulis Guterres.
Kalau kondisi ini terus berlanjut, anggaran program 2026 yang sudah disepakati terancam cuma jadi rencana di atas kertas. Bahkan, kas reguler PBB diprediksi bisa habis di pertengahan tahun.
Semua ini terjadi di tengah dunia yang lagi penuh konflik. Dewan Keamanan PBB macet karena konflik kepentingan negara-negara besar.
Situasi makin rumit karena kebijakan Presiden AS Donald Trump yang memangkas pendanaan sejumlah badan PBB dan menunda pembayaran iuran.
Trump juga belakangan meluncurkan Dewan Perdamaian, yang dinilai banyak pihak bisa jadi tandingan PBB di level global. (*)


