BACAAJA, JAKARTA – Pasar saham lagi nggak baik-baik aja. IHSG kepleset parah sampai lebih dari 8 persen dan bikin trading halt, bikin Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa naik pitam.
Biang keroknya? Lagi-lagi saham gorengan yang bikin pasar jadi nggak waras.
Merespons anjloknya IHSG pada Rabu (29/1/2026), Purbaya dengan nada tegas minta Bursa Efek Indonesia (BEI) buat segera beberes.
Bacaaja: Pertamina NRE Ekspansi ke Luar Negeri, Borong Saham Perusahaan EBT di Filipina
Bacaaja: Rupiah Tembus Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah, Ekonom: Banyak Pemodal Kabur
Transaksi semu, permainan harga, sampai saham gorengan diminta ditertibkan total sebelum Maret.
“Sekarang bulan apa? Maret. Kalau sampai akhir Maret enggak jalan, saya akan ke sana,” kata Purbaya di Istana Kepresidenan Jakarta.
Ia menegaskan bakal turun langsung sebagai Ketua KSSK kalau BEI masih santai.
IHSG yang ambruk ini juga dipicu sentimen keras dari MSCI, yang menilai pasar saham Indonesia masih penuh masalah.
Mulai dari transparansi kepemilikan saham yang buram, data free float yang nggak jelas, sampai mekanisme harga yang dianggap nggak fair.
Purbaya blak-blakan: kejatuhan IHSG bukan kejutan.
“IHSG jatuh karena berita MSCI yang menganggap kita kurang transparan dan banyak goreng-gorengan saham,” tegasnya.
Masalahnya bukan cuma citra. Gara-gara kondisi ini, MSCI sampai membekukan kebijakan indeks khusus saham Indonesia.
Mereka juga menilai data kepemilikan saham dari KSEI belum cukup bisa dipercaya, sementara pembaruan dari BEI belum nyentuh akar masalah.
Purbaya bilang, sejak awal ia sudah wanti-wanti: pasar saham harus dibenerin dulu, bukan malah sibuk minta insentif.
“Perbaiki pasar saham dari ulah para penggoreng saham. Sebetulnya arahnya ke situ,” ujarnya.
Intinya jelas: waktu BEI nggak banyak. Kalau sampai Maret pasar saham masih dikuasai gorengan, siap-siap Menkeu turun tangan langsung.
Pasar modal diminta balik ke jalur sehat, bukan arena main api yang ujung-ujungnya bikin investor kebakar. (*)

