BACAAJA, SEMARANG- Praktik ilegal pengoplosan elpiji bersubsidi di Kota Semarang dan sekitarnya resmi dibongkar Polda Jawa Tengah. Sindikat ini menyuntik gas elpiji 3 kilogram ke tabung nonsubsidi berukuran lebih besar dan meraup omzet miliaran rupiah per bulan. Empat orang pelaku diamankan, satu di antaranya diketahui sebagai residivis kasus serupa.
Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jateng, Kombes Pol Djoko Julianto, mengatakan kasus ini terungkap setelah banyak warga mengeluhkan elpiji 3 kg yang makin langka dan mahal. “Dalam perkara penyalahgunaan elpiji bersubsidi ini, kami mengamankan empat pelaku beserta sejumlah barang bukti,” ujar Djoko saat konferensi pers di Ditreskrimsus Polda Jateng, Banyumanik, Jumat (23/1/2026).
Baca juga: Polda Jateng Bongkar Praktik Oplosan Gas Melon di Semarang
Dari penggerebekan di tiga gudang di Banyumanik, Gunungpati, dan Ungaran Barat, polisi menyita 2.178 tabung gas. Rinciannya, 1.780 tabung elpiji 3 kg, 138 tabung 5,5 kg, 220 tabung 12 kg, dan 40 tabung elpiji 50 kg. Menurut Djoko, elpiji subsidi itu dikumpulkan secara eceran dari pangkalan tidak resmi.
Gas kemudian dipindahkan ke tabung nonsubsidi menggunakan selang regulator dan pipa besi modifikasi. Prosesnya bahkan “dibantu” es batu agar tekanan gas turun dan mudah dipindahkan. “Gas dari tabung 3 kilo disuntik ke tabung yang lebih besar. Jelas ini melanggar aturan,” tegasnya.
Diotaki Residivis
Empat tersangka yang diamankan yakni GS (28) asal Grobogan dan PM (20) asal Jambi sebagai penyuntik gas. TDS (49) asal Bekasi berperan merekrut pekerja sekaligus mencari tabung, sementara FZ (68) warga Semarang menjadi pemilik gudang.
Nama terakhir bikin geleng-geleng kepala. FZ ternyata residivis kasus oplosan elpiji. “Baru dua bulan keluar dari Bareskrim, langsung mengulang perbuatan yang sama. Dia sudah beraksi sejak 2024 karena sebelumnya pemilik pangkalan,” ungkap Djoko.
Gas hasil oplosan itu lalu dijual sebagai elpiji nonsubsidi dengan harga miring. Tabung 12 kg yang seharusnya dijual sekitar Rp180 ribu, dilepas ke pasar seharga Rp150 ribu. Masalahnya, isinya pun tidak penuh. Kecurigaan polisi muncul sejak awal Januari 2026 setelah mendapati penjualan elpiji nonsubsidi dengan harga tak wajar.
Saat ditelusuri, ditemukan 1.473 tabung siap edar hasil oplosan. Akibat praktik ini, negara diperkirakan merugi Rp10 miliar hanya dalam dua bulan. Para pelaku disebut meraup keuntungan miliaran rupiah tiap bulan dengan merekrut pekerja bermodal iming-iming gaji.
Baca juga: Masuk SIPSS Nggak Bisa Pakai Jalan Pintas
Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Artanto menegaskan, pengungkapan ini bagian dari pengamanan pasokan energi jelang Ramadan dan Idulfitri. “Penyalahgunaan migas sangat berdampak ke masyarakat luas. Kami minta warga aktif melapor jika menemukan praktik serupa,” ujarnya.
Atas perbuatannya, para pelaku dijerat UU Migas dan UU Perlindungan Konsumen, dengan ancaman hukuman maksimal lima tahun penjara. Elpiji subsidi niatnya buat dapur rakyat tetap ngebul, bukan buat gudang jadi mesin ATM. Kalau gas makin langka, bisa jadi bukan stok yang habis, tapi ada yang kebanyakan “ngoplos peluang”. (tebe)


