BACAAJA, SEMARANG- Pemprov Jateng terus memperkuat kolaborasi lintas elemen masyarakat untuk mengejar target eliminasi tuberkulosis (TBC) pada 2030. Langkah ini sejalan dengan amanat Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis.
Dalam regulasi tersebut, pemerintah menargetkan penurunan angka kejadian TBC menjadi 65 per 100 ribu penduduk, serta angka kematian akibat TBC turun menjadi 6 per 100 ribu penduduk pada 2030.
Wagub Jateng, Taj Yasin menegaskan, peran masyarakat jadi kunci utama dalam memastikan penemuan kasus hingga pengobatan TBC berjalan sampai tuntas, bukan setengah jalan.
Baca juga: Jateng Panen Penghargaan: Layanan Kesehatan Ngebut, Warga Desa Ikut Ketularan Sehat
“Kesempatan ini adalah tanggung jawab yang luar biasa. Bukan hanya menemukan, tapi juga mengobati. Dan bukan hanya mengobati, tapi harus sampai tuntas,” kata Taj Yasin di sela pelantikan Pengurus Wilayah Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Jawa Tengah periode 2025-2030, di Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, Kamis (22/1).
Dalam acara tersebut, Taj Yasin didampingi Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin yang juga dilantik sebagai Ketua Badan Kehormatan PPTI Jateng.
Momentum Penting
Menurut Taj Yasin, pelantikan pengurus PPTI ini jadi momentum penting kolaborasi antara pemerintah dan organisasi masyarakat dalam pengendalian TBC berbasis komunitas. Apalagi, pengendalian TBC sudah masuk agenda prioritas nasional hingga 2030. “Target itu ada di tahun 2030,” ujarnya singkat, tapi tegas.
Di Jateng sendiri capaian pengendalian TBC sepanjang 2025 menunjukkan tren positif. Penemuan kasus sudah mencapai 84 persen dari target 90 persen.
Sementara itu, penderita TBC yang memulai pengobatan tercatat sebesar 94,7 persen, dengan angka kesembuhan mencapai 85 persen dari target 90 persen.
Baca juga: 4,6 Juta Warga Jateng Akses Program Cek Kesehatan Gratis, Terintegrasi dengan Speling
Capaian ini jadi modal awal untuk ngejar target yang lebih tinggi di tahun-tahun berikutnya. Meski begitu, Taj Yasin mengingatkan bahwa tantangan terbesarnya adalah menjaga konsistensi pengobatan agar pasien benar-benar sembuh dan tidak putus obat.
“TBC ini tidak hanya cukup diobati, tetapi harus tuntas supaya masyarakat tetap sehat,” katanya. Ia juga menekankan, keberhasilan pengendalian TBC punya dampak langsung pada kualitas sumber daya manusia. Di titik inilah, peran organisasi masyarakat seperti PPTI dinilai makin strategis.
Sebagai mitra pemerintah berbasis komunitas, PPTI berkontribusi lewat edukasi, penjaringan suspek TBC, pendampingan pengobatan, hingga mencegah putus obat dan TBC resisten obat. “Maka dengan adanya PPTI, saya berharap kolaborasi dan kerja sama bisa benar-benar terwujud,” pungkas Taj Yasin.
Target eliminasi TBC 2030 itu ibarat deadline skripsi: kelihatannya masih lama, tapi kalau nggak dikerjain bareng dari sekarang, tahu-tahu waktunya habis dan TBC masih betah nongkrong. (tebe)


