BACAAJA, PEKALONGAN- Bupati Pekalongan Fadia Arafiq meninjau langsung dapur umum korban banjir yang berlokasi di Gudang PT Sukun, Kecamatan Tirto, Senin, (19/1/2026). Kunjungan ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan logistik warga terdampak banjir benar-benar terpenuhi dan berjalan lancar.
Dapur umum tersebut melayani kebutuhan makanan untuk 12 titik posko pengungsian yang tersebar di wilayah Pantura. Dalam tinjauannya, Fadia mengecek langsung proses masak, stok bahan pangan, sampai alur distribusi makanan ke para pengungsi.
Baca juga: Banjir Kepung Pekalongan, Wagub Soroti Penanganan Berlapis
Tak cuma itu, Fadia juga menyempatkan ngobrol dengan petugas dapur umum dan para relawan. Tujuannya satu: memastikan kebutuhan dasar warga terdampak, mulai dari makan sampai kesehatan nggak ada yang terlewat.
Saat ini, banjir masih cukup serius melanda sejumlah kecamatan di Kabupaten Pekalongan, seperti Tirto, Siwalan, Wonokerto, dan Sragi. Dari hasil pantauan di lapangan, Kecamatan Tirto disebut sebagai salah satu wilayah dengan dampak paling parah. “Dari hasil pantauan, Tirto termasuk yang paling terdampak,” ujar Fadia.
Geber Bantuan
Pemkab Pekalongan, lanjutnya, terus menggeber bantuan maksimal untuk warga. Bentuknya beragam, mulai dari operasional dapur umum, makanan siap saji, kebutuhan bayi dan anak, susu, selimut, hingga layanan kesehatan.
Data Dinas Sosial Kabupaten Pekalongan mencatat, hingga hari ketiga banjir, sebanyak 2.392 jiwa terpaksa mengungsi dan tersebar di empat kecamatan. Kepala Dinas Sosial Kabupaten Pekalongan, Suprayitno, mengatakan dapur umum di PT Sukun sudah beroperasi sejak Minggu, (18/1/2026).
“Hari pertama banjir, Sabtu 17 Januari, sambil menyiapkan dapur umum kita beli nasi bungkus dulu untuk pengungsi. Sekarang sudah masak sendiri dengan melibatkan dinas terkait,” jelasnya.
Baca juga: Dua Pertiga Pekalongan Tenggelam, Pengungsi Tembus 2.400 Orang
Selain Fadia, Wakil Bupati Pekalongan Sukirman juga turun ke lapangan. Ia meninjau sejumlah lokasi pengungsian, mulai dari Kelurahan Sragi, Kecamatan Siwalan, hingga kawasan pengungsian di pabrik Lokatex.
Banjir boleh bikin rumah tergenang, tapi jangan sampai bikin perut keroncongan. Selama dapur masih ngebul dan nasi tetap hangat, setidaknya warga tahu: di tengah genangan, perhatian pemerintah masih ikut mengalir. (tebe)


