Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Layer Baru Cukai Rokok, Koalisi Sipil: Ini Bukan Solusi, Tapi Jalan Mundur
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Ekonomi

Layer Baru Cukai Rokok, Koalisi Sipil: Ini Bukan Solusi, Tapi Jalan Mundur

Baru juga wacana penambahan layer cukai rokok dilempar ke publik, suara penolakan langsung rame-rame naik ke permukaan. Koalisi Masyarakat Sipil kompak bilang: rencana ini bukan jurus jitu berantas rokok ilegal, tapi malah berpotensi bikin rokok makin murah dan makin laku.

T. Budianto
Last updated: Januari 18, 2026 4:47 pm
By T. Budianto
4 Min Read
Share
CUKAI - Ilustrasi pita cukai rokok. (ist)
CUKAI - Ilustrasi pita cukai rokok. (ist)
SHARE

BACAAJA, JAKARTA- Koalisi Masyarakat Sipil menolak keras rencana Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang ingin menambah lapisan (layer) tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) tahun ini. Alih-alih jadi solusi, kebijakan ini dinilai justru kemunduran dalam pengendalian tembakau dan ancaman serius buat kesehatan publik.

Sebelumnya, Purbaya beralasan penambahan layer cukai dimaksudkan untuk “mengajak” pelaku rokok ilegal masuk ke jalur resmi. Tapi menurut Koalisi, logika itu kebalik. Bukannya menutup celah, justru memperlebar pintu.

Founder dan CEO Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), Diah Saminarsih menegaskan, struktur cukai yang makin berlapis justru bikin rokok tetap terjangkau meski tarif naik di atas kertas.

“Riset CISDI menunjukkan, banyaknya layer cukai bikin rokok tetap murah walaupun tarif naik. Artinya, makin banyak layer, makin banyak rokok murah. Ini rencana yang keliru,” kata Diah dalam rilisnya, Sabtu (17/1/2026).

Ia menilai, pemerintah seharusnya menyederhanakan struktur cukai yang saat ini sudah terdiri dari delapan lapisan, menuju standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni cukai tunggal. “Bukan malah nambah layer demi menghadirkan rokok yang lebih murah,” tegasnya.

Baca juga: Layer Cukai Mau Ditambah, Gappri: Kami Jangan Cuma Jadi Penonton

Masalah keterjangkauan juga jadi sorotan. Diah menyebut rokok masih bisa dibeli dengan harga mulai Rp10.000 per bungkus. Kondisi ini dinilai rawan meningkatkan konsumsi, terutama di kalangan anak-anak dan masyarakat berpenghasilan rendah.

Nada serupa disampaikan Ketua Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS UI), Aryana Satrya. Ia menyebut struktur cukai berlapis seperti “tangga darurat” bagi perokok, bukan buat berhenti, tapi pindah ke rokok yang lebih murah.

“Perokok yang downtrading ke rokok murah punya peluang 5,75 kali lebih besar untuk tetap merokok dibanding yang benar-benar berhenti,” ujar Aryana. Tak cuma soal kesehatan, Koalisi juga menilai kebijakan ini bisa berdampak negatif ke penerimaan negara dan tak sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi 8 persen.

“Kalau kebijakan ini jalan, sama saja pemerintah mendorong konsumsi barang berbahaya yang menambah beban kesehatan, menurunkan produktivitas, dan akhirnya menghambat ekonomi,” kata Ketua Social Determinants of Health Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia  (SDH FKM UI), Wahyu Septiono.

Pakar ekonomi dan Ketua Bidang Ekonomi Komnas Pengendalian Tembakau, Teguh Dartanto bahkan menyebut, penambahan layer cukai sebagai solusi yang naif.

“Menambah layer justru bikin struktur cukai makin rumit. Masalah rokok ilegal itu soal penegakan hukum yang lemah dan belum adanya sistem track and trace yang serius,” tegas Teguh.

Ia juga mengingatkan, struktur yang kompleks bisa memicu persaingan tidak sehat. Produsen besar bakal makin lihai bikin produk baru untuk menghindari tarif tinggi, sementara produsen kecil terjepit dan perokok miskin makin terjebak rokok murah.

Pengaruh Kuat

Koalisi juga menyinggung kuatnya pengaruh industri tembakau dalam kebijakan. Executive Director Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC), Manik Marganamahendra menilai, arah kebijakan saat ini terlalu ramah ke bisnis.

“Popularitas di awal jabatan bukan jaminan kebijakan selalu benar. Kalau mau galak ke industri nakal, ya galak ke semuanya, jangan pilih-pilih,” kata Manik.

Kritik keras juga datang dari Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran  (Fitra) Pengurus Seknas Fitra, Gurnadi menilai, rencana diskusi kebijakan dengan pelaku usaha rokok ilegal sebagai langkah berbahaya.

“Kalau penambahan layer didiskusikan dengan rokok ilegal, itu sama saja kompromi dengan kriminal. Makin banyak layer, makin banyak celah disalahgunakan,” ujarnya.

Baca juga: Bea Cukai Jateng-DIY Musnahin Barang Ilegal Senilai Rp76 Miliar, Ini Rinciannya

Atas dasar itu, Koalisi Masyarakat Sipil mendesak pemerintah menghentikan pembahasan penambahan layer cukai rokok. Mereka meminta reformasi CHT lewat penyederhanaan tarif, percepatan sistem track and trace rokok ilegal yang independen, serta kebijakan fiskal yang benar-benar berpihak pada kesehatan dan masa depan ekonomi.

Kalau rokok ilegal mau “diajak tobat” pakai layer baru, pertanyaannya sederhana: yang ditertibkan industrinya, atau justru rakyatnya yang makin akrab sama rokok murah? (tebe)

 

You Might Also Like

Ini 7 Atlet Peraih Bonus Cuan Terbanyak SEA Games

Gus Yasin Respons OTT KPK Bupati Pati Sudewo: Pelayanan Publik Tetap Jalan

Jateng Masih Laku Keras di Mata Investor

BREAKING NEWS: Kecelakaan Maut Kereta Argo Anggrek Vs KRL, Penumpang Terjepit

PSIS Pulang Bawa Satu Poin

TAGGED:antitembakaucukai rokogappriheadlinekoalisi sipilmenkeu purbaya
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Layer Cukai Mau Ditambah, Gappri: Kami Jangan Cuma Jadi Penonton
Next Article Wali Kota Solo Respati Ardi dampingi Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon serahkan SK Keraton Solo, Minggu (18/1/2026). Respati Dampingi Menbud Serahkan SK Keraton Solo, Babak Baru Penataan Kasunanan

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Pelatih Basket Jateng Diduga Aniaya Pemain, Perbasi Turun Tangan

Luthfi Ingin Bank Jateng Jadi “Bank Sejuta Umat”

HUT ke-81 RI, Naik Trans Jateng Cuma Bayar 19 Persen

Bukan Sekadar Aspal, Ini Sebab Jalan Majapahit Cepat Rusak

Tradisigila Belum Mau Pulang: Street Love Memories Jadi Album Ketiga yang Penuh Cinta

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Ilustrasi koruptor.
Hukum

Jateng Juara Korupsi 2026! Lima Bupati Terjaring OTT KPK

Juli 29, 2026
Info

274,7 Kilometer Tanggul Raksasa Bakal Bentengi Pantura Jateng

Maret 4, 2026
Sepak Bola

Sah, Rafinha Harapan Baru PSIS

Desember 29, 2025
Ilustrasi Hutan Tanaman Industri (HTI), solusi untuk lahan kritis plus dukung EBT.
Tumbuh

Hutan Tanaman Industri untuk Biomassa, Kemenhut: Rehabilitasi Lahan Kritis dan Dukung EBT

September 24, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Layer Baru Cukai Rokok, Koalisi Sipil: Ini Bukan Solusi, Tapi Jalan Mundur
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?