BACAAJA, KLATEN- Lima tahun itu cukup buat anak SD hampir lulus, atau sawah panen berkali-kali. Tapi buat warga Desa Cucukan dan Kotesan, lima tahun terakhir berarti satu hal: jalan muter karena jembatan putus. Kabar baiknya, cerita panjang itu akhirnya selesai.
Jembatan penghubung dua desa di Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, yang sempat terputus akibat banjir sejak 2021, kini resmi berfungsi kembali. Akses warga pun kembali normal, tanpa harus ambil jalur jauh seperti sebelumnya.
Jembatan yang diberi nama Jembatan Merah Putih di Dukuh Matangan, Desa Cucukan, diresmikan langsung oleh Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo bersama Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi, Rabu (14/1/2026).
Jembatan ini menjadi satu dari 19 Jembatan Merah Putih yang diresmikan serentak di berbagai daerah. Kapolri berharap, jembatan tersebut benar-benar bisa jadi jalur hidup bagi warga, mulai dari anak sekolah, petani, hingga aktivitas ekonomi harian.
Baca juga: Jalan Putus Dampak Longsor, BPBD Temanggung Antar-Jemput Siswa Sekolah
“Mudah-mudahan jembatan ini betul-betul bermanfaat untuk anak-anak kita, masyarakat, petani, dan semua yang memanfaatkannya,” ujar Kapolri, Jendearl Polisi Listyo Sigit.
Ia menjelaskan, di Jateng sendiri ada 63 jembatan yang dibangun atau diperbaiki melalui kolaborasi Pemprov Jateng dan Polda Jateng. Dari jumlah itu, 19 jembatan sudah rampung, sementara sisanya masih dalam proses pembangunan.
Pengerjaannya pun melibatkan masyarakat sekitar, jadi bukan cuma proyek bangunan, tapi juga gotong royong. Secara nasional, total 171 jembatan telah terbangun, dengan Jawa Tengah jadi provinsi dengan kontribusi terbesar.
Akses Utama
Sekadar kilas balik, jembatan di Dukuh Matangan awalnya dibangun secara swadaya warga pada 1981. Selama puluhan tahun, jembatan ini jadi akses utama penghubung Desa Cucukan dan Kotesan. Namun pada 2021, banjir besar memutus jembatan dan memaksa warga memutar jalur lebih jauh.
Pada 2025, Pemprov Jateng menggelontorkan bantuan Rp400 juta, ditambah swadaya dari Polres Klaten, untuk membangun ulang jembatan sepanjang 12 meter dan lebar 4 meter.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya (DPUBMCK) Jateng, Hanung Triyono menyebut, pembangunan jembatan ini jadi contoh nyata kolaborasi antara pemerintah dan Polri dalam menghadirkan layanan dasar bagi masyarakat.
Upaya ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dan Gubernur Ahmad Luthfi untuk menggenjot infrastruktur dasar. Bahkan, pada 2026 mendatang, Jateng mengajukan sekitar 679 usulan pembangunan jembatan ke pemerintah pusat, mulai dari jembatan penyeberangan orang, jembatan gantung, hingga rehabilitasi jembatan di 35 kabupaten/kota.
Baca juga: 452 Desa Sudah Didampingi, Pemprov Jateng: Nggak Cuma Kota yang Boleh Maju
Tak cuma jembatan, Pemprov Jateng juga mendorong perbaikan jalan provinsi dan konektivitas antarwilayah bersama kabupaten/kota. Tujuannya jelas: sekolah lancar, hasil panen cepat sampai, ekonomi desa nggak tersendat. Sebagai pendukung swasembada pangan, Pemprov Jateng juga mengalokasikan sekitar Rp30 miliar untuk perbaikan irigasi tersier.
Setelah lima tahun harus memutar, warga akhirnya bisa meluruskan langkah lagi. Kadang, yang paling dibutuhkan desa bukan kata-kata manis, tapi jembatan yang benar-benar nyambung, biar hidup nggak terus-terusan muter di tempat yang sama. (tebe)


