SEMARANG, BACAAJA — Sekarang ini, menulis puisi atau cerpen tidak selalu harus duduk lama sambil mikir keras.
Tinggal ketik beberapa perintah, kecerdasan buatan bisa langsung menyusun teks yang rapi dan enak dibaca.
Situasi ini bikin banyak orang bertanya: kalau mesin sudah bisa menulis, sastra masih perlu manusia?
Bacaaja: Kata Mas Tri Sastra Nggak Bikin Kaya, tapi Kenapa Masih Banyak yang Bertahan?
Bacaaja: Kerjo Aneh-aneh: Bakul Jamu Unik, Jualan Sambil Nyanyi dan Live TikTok
Pertanyaan itu juga muncul dalam obrolan sastrawan Triyanto Triwikromo di program Lakon Lokal Bacaajadotco. Menurut Triyanto, kehadiran AI dalam dunia sastra adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari.
Mesin akan terus belajar, meniru gaya, bahkan memproduksi teks sastra dalam jumlah besar.
Namun, bagi Mas Tri, persoalannya bukan pada kecanggihan AI.
“Sastra itu bukan sekadar hasil akhir,” kurang lebih begitu pandangannya.
Ada proses panjang di balik sebuah tulisan: pengalaman hidup, kegelisahan, ingatan, dan keberanian untuk salah. Hal-hal yang tidak lahir dari data semata.
AI bisa menyusun kalimat yang logis dan indah, tapi ia tidak hidup dalam tubuh manusia. Ia tidak punya trauma, tidak mengalami kehilangan, dan tidak menanggung risiko sosial dari apa yang ditulisnya.
Di titik inilah, menurut Triyanto, perbedaan antara tulisan mesin dan tulisan manusia menjadi jelas.
AI bukan musuh
Meski begitu, Triyanto tidak menempatkan AI sebagai musuh. Ia justru melihat teknologi sebagai alat yang bisa dimanfaatkan selama tidak menggantikan kerja batin penulis.
AI boleh membantu riset, merapikan struktur, atau mempercepat pekerjaan teknis. Tapi urusan rasa, sikap, dan keberpihakan tetap harus datang dari manusia.
Ia juga mengingatkan, bahaya terbesar bukan pada AI yang semakin pintar, melainkan manusia yang semakin malas berpikir dan merasakan.
Jika semua diserahkan pada mesin, sastra berisiko berubah jadi sekadar produk cepat, rapi, tapi hampa.
Di tengah derasnya teknologi, Trianto memilih sikap sederhana: tetap menulis sebagai manusia. Dengan segala keterbatasannya.
Karena selama manusia masih punya cerita, kegelisahan, dan luka, sastra menurutnya belum akan kehabisan alasan untuk hidup. (dul)


