BACAAJA, SEMARANG – Lagi-lagi kabar nggak enak datang dari tengah situasi bencana. Sejumlah aktivis muda, relawan kemanusiaan, pegiat lingkungan, sampai figur publik dilaporkan mengalami teror.
Mulai dari doxing, intimidasi, kiriman simbol ancaman, sampai pesan-pesan gelap di media sosial.
Hal ini bikin Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, KH Ubaidullah Shodaqoh, angkat suara. Dan pesannya tegas: teror itu no debat, salah total.
Bacaaja: Final Islah! PBNU Adem Lagi, Gus Yahya & Gus Ipul Kembali Gojegan
Bacaaja: Tukang Teror Bom ke Sekolah Ditangkap, Ternyata Mahasiswa Jurusan Ini
“Teror itu tindakan menakut-nakuti dengan ancaman kekerasan dan kengerian. Nggak ada satu pun golongan, bahkan negara, yang bisa membenarkan itu,” kata Kiai Ubaidullah, Rabu (31/12/2025).
Lagi bencana, kok masih sempat nyebar teror
Menurut Kiai Ubaidullah, di situasi bencana alam seperti sekarang, kondisi psikologis korban lagi di titik paling rapuh. Banyak yang bingung, takut, dan nggak berdaya. Di momen kayak gini, relawan dan aktivis itu bukan musuh—tapi penopang harapan.
“Relawan itu pionir kemanusiaan. Harusnya dilindungi, bukan malah diteror,” tegasnya.
Ia menyebut, intimidasi terhadap aktivis adalah kesalahan fatal, apalagi kalau sampai dilakukan oleh oknum aparat. Bukan cuma soal fisik, tapi juga soal trauma mental dan rusaknya solidaritas sosial.
“Teror itu bisa bikin orang apatis, merasa ditinggal, dan berujung ke perpecahan,” lanjutnya.
NU sendiri, kata Kiai Ubaidullah, tegas menolak segala bentuk teror dan intimidasi. Di tengah duka nasional, semua elemen bangsa seharusnya saling rangkul, bukan saling sikut.
Fakta di lapangan, teror memang bukan isapan jempol. Virdian Aurellio, aktivis muda sekaligus mantan Ketua BEM Unpad, jadi korban doxing. Akun WhatsApp keluarganya diretas, lalu muncul framing negatif soal bisnis ilegal.
Sherly Annavita, motivator muda dan dosen asal Aceh, diteror dengan kiriman telur busuk, coretan pilok di mobil, dan pesan ancaman dari akun palsu setelah bersuara soal status bencana nasional.
Iqbal Damanik, Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, bahkan menerima kiriman bangkai ayam lengkap dengan pesan ancaman bernada mengintimidasi keluarganya.
Polanya mirip: ancaman personal, simbol kekerasan, dan upaya bikin ciut mental.
Nggak cuma aktivis. DJ Donny, figur publik yang ikut aktif menyuarakan solidaritas kemanusiaan dan isu sosial, juga dilaporkan mengalami teror.
Lewat lingkaran terdekatnya, DJ Donny disebut menerima pesan-pesan ancaman bernada intimidatif di media sosial, tak lama setelah ia menyuarakan dukungan terbuka terhadap korban bencana dan kritik atas respons negara.
Teror itu nggak cuma menyerang personal, tapi juga upaya membungkam suara publik lewat rasa takut.
NU: pemerintah jangan diam
Kiai Ubaidullah mendesak pemerintah nggak pura-pura tuli. Negara harus hadir, menindak tegas pelaku teror, dan memastikan aktivis kemanusiaan dilindungi.
“Jangan sampai pemerintah malah mengintimidasi atau membiarkan aktivis yang membantu kerja-kerja kemanusiaan,” ujarnya.
Pesannya simpel tapi dalem: di saat rakyat lagi susah, yang bantu jangan malah dibikin takut.
Karena dalam bencana, kita ini satu jasad. Kalau satu disakiti, yang lain ikut terasa. (*)


