Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Pilkada lewat DPRD Bentuk Kemunduran Demokrasi, Pengamat: Politik Transaksional
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Politik

Pilkada lewat DPRD Bentuk Kemunduran Demokrasi, Pengamat: Politik Transaksional

R. Izra
Last updated: Januari 6, 2026 8:44 am
By R. Izra
3 Min Read
Share
SHARE

BACAAJA, SEMARANG – Wacana pilkada lewat DPRD makin terang arahnya. Bukan cuma soal efisiensi atau stabilitas. Tapi juga soal risiko besar: kemunduran demokrasi.

Pengamat politik FISIP UIN Walisongo Semarang, Nur Syamsudin, menilai secara politik wacana ini sangat realistis. Bukan karena ide besarnya, tapi karena banyak partai di parlemen punya kepentingan yang sama. Sama-sama diuntungkan.

Kalau dilihat dari peta politik, ini sangat mungkin diwujudkan. Dukungan di parlemen relatif tersedia. Tapi masalahnya bukan cuma soal bisa atau tidak bisa.

Bacaaja: Wacana Pilkada Lewat DPRD, Cara Gerindra Pegang Kendali Daerah
Bacaaja: Partai Orba ‘Ngotot’ Pilkada Balik ke DPRD, Ini Parpol yang Merapat Masuk Barisan

Secara sosial-politik, risikonya tinggi. Nur mengingatkan, publik belum sembuh dari trauma panjang soal korupsi dan transaksi politik di DPR dan DPRD. Di kondisi seperti ini, memindahkan pilkada ke DPRD justru seperti menuang bensin ke api.

Tentangan hampir pasti datang dari masyarakat sipil, kampus, sampai media. Bagi banyak pihak, ini bukan koreksi sistem, tapi langkah mundur yang telanjang.

“Ini jelas kemunduran demokrasi substantif,” tegas Nur, Senin (29/12/2025).

Padahal menurutnya, demokrasi itu bukan sekadar pemerintahan yang efektif. Tapi tentang partisipasi rakyat. Ketika hak memilih langsung dicabut, ruang partisipasi paling dasar ikut hilang.

Ia menilai yang dibutuhkan sebenarnya bukan ganti sistem, tapi membenahi pilkada langsung. Memperketat pengawasan, menekan biaya politik, memberantas mahar. Bukan malah menarik hak pilih rakyat.

Argumen soal “demokrasi perwakilan” juga dianggap terlalu disederhanakan. Faktanya, DPRD di Indonesia belum bisa disebut mewakili rakyat secara murni.

Sistem kepartaian masih oligarkis, politik transaksional masih dominan. Idealnya indah, praktiknya jauh.

Kalau pilkada lewat DPRD benar-benar diterapkan, dampaknya ke partisipasi rakyat dinilai serius. Nur menyebut istilahnya jelas: depolitisasi dan alienasi.

Rakyat akan makin merasa dijauhkan dari proses politik lokal. Penentuan pemimpin bukan lagi urusan “kita”, tapi urusan “mereka” di ruang rapat. Politik jadi terasa asing.

Partisipasi publik kemungkinan cuma hidup lima tahun sekali saat pemilu legislatif. Itu pun dengan semangat yang makin menurun, karena suara rakyat tak lagi menentukan langsung siapa kepala daerahnya.

Jarak antara elite dan warga juga diprediksi makin melebar. Demokrasi berubah jadi prosedur kosong. Ada pemilihan, tapi tanpa rasa memiliki.

Yang paling rawan, kata Nur, justru ruang transaksi politik. Pilkada langsung memang tidak steril dari transaksi. Tapi setidaknya masih ada sorotan publik dan media. Kalau pemilihan dilakukan di balik pintu tertutup DPRD, transaksi justru lebih gelap dan sulit diawasi.

Dari bagi-bagi kursi, kompromi kepentingan, sampai potensi suap, semua bisa terjadi tanpa banyak saksi. Sekalian itu, fungsi checks and balances ikut rusak. Kepala daerah “lahir” dari DPRD, lalu bagaimana mungkin DPRD mengawasi dengan sungguh-sungguh?

Di titik ini, wacana pilkada lewat DPRD makin tampak bukan sekadar koreksi sistem. Ini soal perebutan kendali. (bae)

You Might Also Like

Kolaborasai LPK Hiro-LPK Kamisora Cetak Sejarah Pemberangkatan Driver Bus Profesional ke Jepang

Kawasan Atas Berubah Jadi Hutan Beton, Warga Semarang Khawatir Tambah Sering Kebanjiran

Fullback Anyar Merapat! PSIS Datangkan Alwi Fadillah dan Rangga Sumarna

Pajak Daerah Semarang Tembus Rp2,6 T

Menang Besar, Tapi PR PSIS Belum Kelar

TAGGED:headlinekemunduran demokrasioligarkipilkada lewat dprdpolitik tranksaksional
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Kabid Homas Polda Jateng, Kombes Pol Artanto ngasih keterangan pers usai rilis akhir tahun, Senin (29/12/2025). Polisi Bilang Tahun Baru Nggak Boleh Ada Pesta Kembang Api di Jateng
Next Article Ilustrasi bencana banjir dan tanah longsor. 3.176 Bencana Sepanjang 2025: Indonesia Digempur Alam, Negara Masih Tertatih

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Sentra Bandeng Tambakrejo Naik Kelas, Agustina Soroti Jalan hingga Mesin Presto

Cegah Gangguan Penerbangan, Bandara Ahmad Yani Sisir Area Runway

PIAGAM PENGHARGAAN: Kolase foto piagam penghargaan Kantor Advokat da. Kurator LDN Ernst yang diberikan Hukumonline dalam ajang pemeringkatan Top 100 Indonesian Law Firm 2026. (ist)

LDN Ernst Raih Dua Penghargaan, Diakui Law Firm Terbaik di Jateng

FOOD FESTIVAL - Pembeli sedang memesan cahkwe di food festival kawasan Pecinan Semarang, Jumat (25/9/2026). (dul)

Berburu Kuliner di Heritage Food Festival Pecinan Semarang, Pengunjung Soroti Tenant Halal dan Nonhalal

Anak bungsu pasangan Soekarno-Fatmawati, Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra (Guruh Soekarnoputra).

Profil Guruh Soekarnoputra, Jejak Sosok Politikus Marhaenis cum Seniman

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Hukum

Aset Fadia Arafiq Mulai Disita, Rumah hingga Toko Ritel

Juni 17, 2026
Ilustrasi penangkapan tersangka.
Unik

Admin Gejayan Memanggil dan Direktur Lokataru Foundation Ditangkap, Polisi Masih Bungkam Gak Mau Ngomong

September 2, 2025
Bendera Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).
Info

PBB Terancam Rungkad, Dewan Perdamaian Trump Bikin Kondisi Makin Runyam

Januari 31, 2026
Warga Tuban didatani aparat gabungan setelah bendera One Piece dikibarkan di atap rumahnya.
Unik

Kibarkan Bendera One Piece, Rumah Warga Tuban ‘Diserbu’ Aparat Gabungan

Agustus 3, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Pilkada lewat DPRD Bentuk Kemunduran Demokrasi, Pengamat: Politik Transaksional
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?