Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Kekalahan Perempuan di Balik Pertambangan Nikel dan Batu Bara
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Kekalahan Perempuan di Balik Pertambangan Nikel dan Batu Bara

Redaktur Opini
Last updated: Desember 29, 2025 8:24 am
By Redaktur Opini
4 Min Read
Share
SHARE

Dirman adalah Sarjana Pertanian Universitas Hasanuddin dengan minat kajian di bidang ekonomi, ekologi, dan sosiologi.

Perempuan juga perlu duduk di meja keputusan desa dan daerah, karena merekalah yang paling cepat membaca perubahan air, tanah, dan tubuh.

 

Di sebuah desa yang dikepung cerobong dan deru truk nikel, seorang perempuan memulai pagi dengan seember air yang tak sejernih dulu. Asap smelter menyusup ke dapur, bercampur bau minyak goreng dan batuk anak yang tak kunjung reda. Debu menempel di meja makan, lantai yang baru dipel kembali kusam. Debu datang tanpa undangan, lebih rajin dari tamu rapat RT.

Di tempat lain, desa lingkar batu bara di Kalimantan Timur, beberapa jam hujan cukup mengubah parit menjadi arus cokelat yang naik ke ruang tamu. Sumur keruh, orang tua cemas setiap awan gelap muncul, anak-anak belajar membaca warna langit sebagai tanda bahaya. Bukan cuma banjir musiman, melainkan gangguan tata air yang makin sering terkait pembukaan lahan dan lobang bekas tambang yang tak dipulihkan.

Di kawasan nikel seperti Morowali atau Konawe, kebun dan sawah bergeser menjadi pagar pabrik, jalan hauling, dan mess karyawan. Sungai yang dulu dipakai mandi dan mencuci airnya berubah keruh dan berbau. Perempuan berjalan lebih jauh mencari air atau membeli air isi ulang, sementara biaya pangan naik karena hasil kebun berkurang.

Jam kerja domestik pun memanjang. Rumah lebih sering berdebu, pakaian lebih sering dicuci, kebutuhan air meningkat, dan keluarga lebih sering batuk atau sesak. Ruang hidup menyempit, tetapi beban tambahan ini jarang masuk hitungan biaya produksi.

Kerangka sirkulasi nilai membantu membaca pola ini sebagai arus yang timpang. Ekstraksi terjadi ketika keuntungan ditarik dari tanah, tenaga kerja, dan ruang hidup warga tanpa membayar penuh biaya sosial ekologisnya. Pengembalian semestinya hadir sebagai upah layak, layanan kesehatan, air bersih, dan pemulihan lingkungan, tapi sering mengecil menjadi proyek sementara.

Kebocoran muncul ketika nilai dari wilayah sumber mengalir ke pusat ekonomi dan politik di luar daerah, sementara dampaknya menetap di kampung-kampung sumber sebagai debu, banjir, dan sakit yang berulang.

Saat ekstraksi besar, pengembalian kecil, dan kebocoran besar, selisihnya menempel pada tubuh perempuan sebagai kerja perawatan tanpa bayaran, kesehatan yang menurun, dan kecemasan yang menumpuk. Memperbaikinya berarti menjadikan keselamatan warga sebagai batas evaluasi izin dan perluasan industri.

Air bersih, klinik yang benar-benar berfungsi, pemantauan kualitas udara, serta pemulihan ekologi harus menjadi kewajiban mengikat. Perempuan juga perlu duduk di meja keputusan desa dan daerah, karena merekalah yang paling cepat membaca perubahan air, tanah, dan tubuh.

Perbaikan sirkulasi nilai menuntut peningkatan evaluasi izin dan perluasan industri ekstraktif dengan menjadikan keselamatan warga sebagai batas yang jelas. Layanan kesehatan, akses air bersih, dan pemulihan ekologis di lingkar tambang perlu menjadi kewajiban yang mengikat, bukan sekadar program sukarela. Kebijakan harus mengakui kerja perawatan dan kesehatan warga sebagai bagian dari biaya resmi produksi.

Kita perlu menempatkan perempuan sebagai bagian dari pengambil keputusan di tingkat desa dan daerah, karena mereka yang paling cepat membaca perubahan air, tanah, dan tubuh. Jika iman, keadilan, dan rahmah sungguh dipegang, kita tidak bisa lagi menyebut luka ini sebagai “konsekuensi pembangunan”.

Selama sirkulasi nilai timpang, keuntungan mengalir ke pusat sementara luka tertahan di tubuh perempuan di lingkar tambang, nikel dan batu bara akan terus menjadi nama lain dari kekerasan yang disembunyikan.(*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Ketika Seksualitas Dijadikan Alat Kontrol, Kekerasan Jadi Tak Terelakkan

Meretas Kesadaran Kelas di Tengah Ilusi Ekonomi Pro-Rakyat

Tubuh Mahasiswa Bukan Wilayah Otoritas Akademik

Mengapa Kita Sampai Pada Situasi Ini?

Selamat Jalan Sang Sukarnois

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno. Adi Prayitno: Pinka Punya Magnet Politik Kuat, Efek Trah Soekarno Masih Nendang
Next Article Sadewo Pegang Komando Baru PDIP Banyumas Lima Tahun Kedepan

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Kemenkum Jateng Dorong Pelaku Usaha Tak Asal Pilih Merek

Mooncake Festival 2026 Hidupkan Kawasan Pecinan Semarang

Sekda Banyumas Mundur Usai Diperiksa KPK

ILUSTRASI KERACUNAN MBG: Anggota TNI dan Polri mengevakuasi salah satu siswa yang diduga keracunan MBG di SMA 2 Kudus, Kamis, (29/1/2026). (Foto: Ist)

Korban Keracunan MBG di Batang Terus Meningkat Capai 498 Orang, Masih Bisa Tambah Lagi

Kemarau Makin Seret, Polres Banjarnegara Kirim 25 Ribu Liter

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Sesat Pikir dalam Menilai Profesi Petani

Juli 28, 2026
EkonomiOpiniTips

Mengapa Shopee Affiliate Menjadi Primadona Kerja Sampingan Mahasiswa?

Juli 9, 2026
Opini

Kartasura Bukan Hanya Tempat Singgah, Tapi Ruang yang Menyimpan Cerita Sejarah

Februari 12, 2026
Opini

Wajar Kami Marah, Kekerasan Seksual di Kampus Semakin Parah

Mei 22, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Kekalahan Perempuan di Balik Pertambangan Nikel dan Batu Bara
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?