BACAAJA, MAJALENGKA – Pemerintah lagi semangat bangun Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Targetnya enggak main-main: 80.000 koperasi.
Masalahnya cuma satu—klasik, abadi, dan selalu muncul di setiap program: lahannya entah ke mana.
Menteri Desa dan PDT Yandri Susanto akhirnya angkat suara. Bukan buat cari investor besar atau skema ribet, tapi dengan jurus paling Indonesia: “tolong dong yang punya tanah, ikhlasin sedikit.”
Bacaaja: Dewan Adat Papua Tolak Kebun Sawit: Ogah Warisin Bencana ke Anak-Cucu
Bacaaja: Wali Kota Semarang Dorong Koperasi Merah Putih Jadi “Gudang Kulakan” Kios Warga
Ajakan itu disampaikan Yandri saat peletakan batu pertama KDMP di Desa Gunung Kuning, Majalengka, Jumat (19/12/2025). Batu pertama sudah diletakkan, lahannya? Masih sering jadi cerita panjang.
“Hampir di semua daerah, lahannya ada tapi nggak strategis. Atau strategis, tapi luasnya nggak cukup,” kata Yandri, yang secara halus berarti: program sudah ada, peta sudah digambar, tapi tanahnya belum tentu nyata.
Karena itu, Mendesa ngajak warga dan pengusaha buat menghibahkan tanah. Ya, hibah. Gratis. Tanpa cicilan. Tanpa drama.
Contohnya, kata dia, sudah ada. Di Landak, Kalimantan Barat, desa nggak punya tanah bengkok. Tapi ada warga yang rela ngasih tanahnya.
Di Sulawesi Selatan, daerah super padat penduduk, lahan kosong nihil. Solusinya? Developer perumahan nyumbang fasilitas umum.
“Kolaborasi seperti ini yang penting,” ujar Yandri.
Terjemahan bebasnya: kalau nunggu negara punya lahan di desa, bisa-bisa KDMP keburu jadi legenda.
Target 80 Ribu, Realisasinya Bertahap (Banget)
Pemerintah tetap pede dengan target 80.000 KDMP. Tapi tenang, kata Yandri, nggak dibangun sekaligus. Bertahap. Pelan-pelan. Sambil nyari lahan.
Tahun 2025, targetnya 20.000 KDMP. Katanya sih optimistis, karena “di atas kertas” hampir semua daerah sudah siap.
“Insyaallah akhir tahun ini 20.000 KDMP sudah ada,” ucap Yandri.
Catatan kecil: sudah ada bisa berarti sudah dibentuk, sudah direncanakan, atau sudah dibicarakan di rapat. Bangunannya? Nanti dulu, tergantung tanah.
Di sela acara, Yandri sempat panen anggur bareng warga. Simbol manis di tengah realita pahit soal lahan.
Intinya begini: KDMP mau jadi tulang punggung ekonomi desa, tapi kakinya belum dapat pijakan. Negara punya mimpi besar, desa punya semangat, tapi tanah? Masih nunggu siapa yang rela.
Kalau program ini berhasil, hebat. Kalau mandek, jangan kaget. Di negeri ini, sering kali yang bikin program jalan bukan anggaran, tapi siapa yang ikhlas ngasih tanah duluan. (*)


