BACAAJA, BREBES – Gara-gara politik desa, bantuan becak listrik di Brebes ditarik lagi secara sepihak oleh Ketua BUMDes. Begini kisahnya.
Daklan (57) sempat percaya hidupnya bakal sedikit lebih ringan.
Sabtu (6/12/2025), pengayuh becak asal Desa Padakaton, Brebes, itu dipanggil ke Pendapa untuk menerima becak listrik bantuan Presiden Prabowo Subianto.
Bacaaja: Begini Lho Cerita Becak Listrik Baru yang Bikin Sumringah
Bacaaja: Warga Aceh Jalan Kaki Puluhan Km Demi Dapat Bantuan, Potret Buram Harga Diri Tinggi?
Ia ikut pelatihan, isi formulir, tanda tangan—semua prosedur dijalani. Lengkap. Resmi. Sah.
Tapi ternyata, yang sampai ke tangannya cuma seremoni.
Becak memang sempat ia bawa pulang. Tapi tak sampai rumah. Di tengah jalan, ia diminta berhenti. Becak listrik itu dinaikkan ke mobil oleh Herman, Ketua BUMDes setempat.
“Kalau tahu becak itu bukan buat saya, saya tidak mau,” kata Daklan. Tegas. Jujur. Lelah.
Padahal, ia berharap becak itu bisa dipakai buat mencari nafkah, bukan sekadar jadi properti foto penyerahan bantuan.
Ironisnya, Daklan bukan satu-satunya nama dalam daftar penerima. Ada dua nama lain. Salah satunya justru staf BUMDes sendiri.
Pihak BUMDes membantah tudingan. Katanya, becak hanya “dititipkan sementara” demi menjaga kondusivitas dan mencegah kecemburuan sosial.
Daklan mengaku tak berani bertanya. Takut. Sungkan. Dan di situlah persoalan terbesar bantuan sosial di level bawah: penerima merasa tidak punya kuasa atas bantuan yang namanya saja untuk mereka.
Di titik ini, pertanyaan wajar pun muncul: bantuan untuk warga, atau muter-muter di lingkar dalam?
Berita busuk ini sampai juga ke telinga Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma.
Bupati pub turun tangan. Tiga becak yang sempat ditarik akhirnya dikembalikan kepada penerimanya.
“Sudah saya koordinasikan, dan becak telah kembali ke pemilik,” kata Paramitha.
Kisah ini juga menyisakan pelajaran klasik: bantuan sosial memang turun dari pusat, tapi sering kali harus lolos dulu dari saringan kepentingan lokal. (*)

