BACAAJA, JAKARTA – Ide Presiden Prabowo soal dokter magang yang ikut turun ke lokasi bencana di Sumatera langsung jadi perhatian jajaran Kementerian Kesehatan. Arahan itu muncul setelah laporan mengenai kurangnya tenaga medis di daerah terdampak banjir besar beberapa hari terakhir.
Wamenkes Dante Saksono menyebut pihaknya siap bergerak cepat. Ia menegaskan, langkah Prabowo itu relevan mengingat banyak dokter setempat juga menjadi korban sehingga pelayanan kesehatan di lapangan makin berat.
Dalam kegiatan Hai Fest 2025 di Jakarta, Dante mengatakan Kemenkes tak hanya akan mengirim dokter magang. Tetapi juga menurunkan dokter spesialis dari rumah sakit vertikal yang berada di bawah Kemenkes agar penanganan medis bisa lebih sigap dan terarah.
Rizka Andalusia, Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan, menambahkan bahwa pengiriman dokter dari rumah sakit vertikal sebenarnya sudah berjalan sejak hari pertama bencana. Menurutnya, tenaga medis tambahan akan terus disalurkan melihat situasi yang masih berkembang.
Sebelumnya Menkes Budi Gunadi melaporkan ke Prabowo bahwa tenaga kesehatan di sejumlah wilayah ikut terdampak. Sebagian dokter tidak dapat beraktivitas karena rumahnya terendam, akses terputus, dan suplai BBM habis.
Dalam rapat terbatas di Aceh, Prabowo lalu menanyakan peluang dokter magang atau koas ikut turun membantu. Budi mengaku siap jika aturan pendampingan terpenuhi, bahkan menyebut siap meminjam 300 dokter untuk diturunkan selama tiga bulan.
Prabowo kemudian meminta agar kampus-kampus kedokteran juga diajak terlibat. Menurutnya, kolaborasi tenaga medis muda diperlukan supaya pelayanan di lapangan bisa berputar lebih cepat di tengah kondisi serba darurat.
Dalam rapat tersebut, Budi turut meminta bantuan Menhan Sjafrie Sjamsoeddin agar dokter TNI dan Polri dapat diperbantukan. Mobilisasi dari unsur tersebut dinilainya lebih mudah mengingat kemampuan operasional yang lebih fleksibel.
Sementara itu, update lapangan menunjukkan fasilitas kesehatan di Aceh dan Sumatera mengalami kerusakan signifikan. Wamenkes Benny mencatat ada total 31 rumah sakit dan 156 puskesmas yang terdampak banjir besar.
Di Aceh saja ada 13 rumah sakit dan 122 puskesmas yang terganggu operasionalnya. Sebagian kehilangan akses listrik, air, dan bahan bakar, membuat pelayanan nyaris berhenti total.
Benny yang turun langsung ke Bener Meriah menggambarkan situasi sulit. Ia menyebut 125 jembatan yang rusak memutus akses dari desa ke desa, membuat distribusi bantuan menjadi sangat lambat.
Saat melihat langsung kondisi rumah sakit di wilayah tersebut, hanya satu dokter spesialis yang masih bisa bertugas. Dokter umum pun banyak yang tak bisa datang karena terjebak dampak bencana.
Benny menambahkan malam hari fasilitas kesehatan gelap gulita karena listrik padam total. Banyak tenaga medis tidak bisa bergerak akibat ketiadaan BBM dan tersendatnya logistik.
Di Sumatera Utara, terutama Langkat, situasi juga tidak kalah berat. RS Tanjung Pura terendam air hingga sembilan hari, membuat seluruh alat medis di lantai satu rusak dan pelayanan terpaksa dihentikan.
Untungnya, RS Putri Bidadari yang posisinya aman dari banjir masih bisa beroperasi. Rumah sakit dengan kapasitas lebih dari 300 tempat tidur itu menampung pasien dari fasilitas lain yang lumpuh.
Sementara itu, koordinasi pusat dan daerah terus digenjot. Pemerintah pusat memastikan bantuan dana dan logistik akan ditambah mengingat dampak bencana terus meluas tiap harinya.
Dengan tenaga medis yang terbatas, keputusan Prabowo untuk mengerahkan dokter magang dan tenaga medis muda dinilai jadi langkah strategis agar daerah bencana tidak kekurangan pelayanan dasar.
Kemenkes memastikan skema kerja sama dengan kampus kedokteran, rumah sakit vertikal, dan unsur TNI-Polri akan berjalan paralel. Tujuannya satu: memastikan layanan kesehatan tetap hidup meski situasi sangat menantang.
Di sisi lain, relawan kesehatan juga terus berdatangan dari berbagai daerah. Mereka membantu pelayanan darurat, pendataan korban, hingga membuka posko kesehatan sementara.
Koordinasi lintas kementerian juga diperkuat untuk mengatasi hambatan logistik. Banyak daerah masih sulit ditembus karena akses rusak berat, sehingga penanganan perlu strategi khusus.
Hingga hari ini, tim medis gabungan terus melakukan evakuasi pasien rentan seperti lansia, ibu hamil, dan balita. Mereka dipindahkan ke wilayah yang masih memiliki fasilitas kesehatan memadai.
Pemerintah menegaskan bahwa dukungan jangka panjang juga sudah dipersiapkan, mulai dari rehabilitasi fasilitas kesehatan hingga penggantian alat yang rusak.
Dengan masuknya tenaga dokter magang nantinya, pemerintah berharap terjadi percepatan pelayanan sehingga masyarakat yang terdampak bisa tertangani lebih cepat dan menyeluruh.
Situasi bencana di Sumatera masih membutuhkan tenaga tambahan. Namun langkah cepat pemerintah pusat, terutama Kemenkes, menjadi sinyal bahwa pelayanan kesehatan tetap jadi prioritas utama. (*)


