Imaniar Yordan Christy, guru dan anggota Dewan Kesenian Semarang.
Seorang anak perempuan tertunduk lesu menatap kertas kosong di hadapannya. Ia tidak bisa menulis apa pun. Pikirannya penuh cerita, tetapi ia ragu menuangkannya ke dalam tulisan. Sementara sang guru terus berkeliling melihat pekerjaan siswa itu.
Pembaca bisa membayangkan bahwa gaya Ibu Guru itu persis seperti mandor pabrik mengawasi buruh bekerja. Setiap ia berjalan berputar, ia menyempatkan berhenti sebentar di hadapan gadis kecil yang kertasnya masih kosong itu. Ia pun menyuruh agar gadis kecil itu segera menulis.
Pelajaran mengarang itu membuat gadis kecil menderita. Padahal ia tidak bodoh. Meski masih kecil, ia sangat jeli menangkap segala hal yang terjadi di dalam kehidupannya. Ia menyimpan banyak sekali imajinasi di pikirannya. Namun, ia tidak punya keberanian untuk menceritakan segala hal yang ada dalam benaknya. Ia bingung. Sementara keberanian untuk menolak mengerjakan tugas tidak ia miliki. Pilihannya hanya merenung, menatapi selembar kertas kosong di hadapannya.
Kisah gadis kecil itu disampaikan oleh Seno Gumira Ajidarma lewat karangan berjudul Marti & Sandra: Novela (2022). Gadis kecil itu bernama Sandra. Ia tidak bisa menulis karangan karena judul yang diajukan gurunya membuatnya bingung dan resah.
Kalian punya waktu 60 menit. Pilih satu di antara tiga judul di papan tulis. Pelajaran Mengarang
Pilih satu di antara tiga judul di bawah ini:
- Keluarga Kami yang berbahagia
- Liburan ke Rumah Nenek
- Ibu.
Tugas dari guru semacam itu sangat mudah kita jumpai di seantero sekolah di Tanah Air. Siswa memang harus terbiasa mengungkapkan pemikirian dalam bentuk tulisan. Namun, penentuan tiga judul itu memicu konflik batin bagi si gadis kecil. 60 menit menjadi waktu paling menyiksa baginya. Ia harus mengulang peristiwa traumatis dalam dirinya, mengingat luka yang sejatinya harus ia tanggung seorang diri.
Sandra tinggal dengan ibunya. Setiap pagi ia melihat teman-temannya di sekolah diantar oleh kedua orang tua mereka. Sedangkan ia hanya diantar seorang ibu yang setiap pagi selalu tampak kelelahan.
Dari dalam taksi yang mendekati gerbang sekolah, Sandra melihat anak-anak sekolah lain juga berdatangan. Semuanya bermobil. Ayah berdasi, ibu mengenakan blazer, karena mereka langsung berangkat ke kantor. Semakin dekat segalanya semakin jelas bagi Sandra.
Berbeda dengan teman-temannya, Sandra tidak tahu siapa ayahnya. Benar, tidak setiap anak memiliki keluarga bahagia. Bukan salah anak jika ternyata ia memiliki keluarga berantakan. Ia tetap seorang anak yang layak bahagia. Sementara di kepala Sandra yang mungil itu justru muncul ratusan wajah laki-laki yang setiap malam berganti-ganti ia lihat.
Di antara banyaknya wajah itu, ia tidak tahu mana yang bisa ia panggil papa. Reka adegan, suara, dan segala hal yang berserakan di hadapannya, setiap hari terus bermunculan ketika ia kembali memikirkan judul karangan yang diajukan Ibu Gurunya. “Keluarga Kami yang Berbahagia”. “Kami” itu siapa?
Judul pertama itu tidak sanggup ia buat. Ia lalu berpikir untuk judul kedua: “Liburan ke Rumah Nenek”. Marti, sang ibu, tidak sekalipun mengajak Sandra berkunjung ke rumah nenek dan kakeknya. Marti memang ibu yang tega. Ia tega melihat anaknya kesulitan menemukan topik karangan tugas di sekolahnya. Bahkan Marti sekalipun tidak pernah mengajak Sandra pergi liburan. Padahal liburan sekolah itu bagian dari tugas mengarang. Suatu hari, Marti akan ke Bali. Sandra ingin ikut ibunya ke Bali.
“Mama ini kerja! Bukan liburan! Kamu sama Tante karena tidak ada orang di rumah.”
“Mama selalu pergi.”
“Mama selalu kerja! Itu soalnya!”
Sandra perlahan memahami maksud dari kata “kerja”. Ia dipaksa menjadi dewasa untuk mengerti dan memahami dunia ibunya.
Seno Gumira Ajidarma melengkapi persoalan Sandra dan Marti melalui kritik atas tugas mengarang yang sering diberikan guru ke murid-muridnya.
“Tulisan yang banyak peraturannya. Tulisan yang ada benar salahnya. Apakah segenap pengalaman murid-muridnya yang masih singkat bisa dituliskan dengan cara seperti itu? Pengalaman singkat, artinya hidup yang masih murni dan jujur, belum teracuni kuasa peradaban yang penuh beban,” tulis Seno.
Seno tidak hanya memberi kritik, tetapi memberi pencerahan untuk seluruh guru di Indonesia yang akan memberi tugas menulis kepada siswanya. Guru-guru diajak untuk mengerti hakikat dari menulis. “Tulisan seharusnya memberi jalan keluar, bukan jalan buntu….”
Kembali ke masa-masa sulit Sandra. 60 menit waktu yang ditentukan sudah habis. Sandra harus mengumpulkan kertas itu. Dan ia pun terjebak pada ingatan-ingatan kelam di kepalanya. Ia telah memilih bebas dari beban di menit-menit akhir agar ia bisa melangkah keluar.
“IBUKU SEORANG PELACUR,” tulis Sandra.
Judul itu menyakitkan, tetapi membebaskan Sandra dari kebingungan. Sandra akhirnya jujur tentang ibunya. Ia bisa saja berbohong dan “mengarang” cerita tentang bagaimana keluarga yang bahagia sesungguhnya. Namun, itu tidak ia lakukan. Ia tidak peduli lagi pada penilaian gurunya.
Kita bisa belajar dari “tragedi” yang Sandra alami. Menulis memang sangat penting untuk terus diajarkan di sekolah-sekolah. Tentu saja pembelajaran menulis harus dirancang untuk memberi kebebasan bagi anak untuk menuangkan ide kreatif mereka.
Kejujuran Sandra saat menulis karangannya adalah sebuah gambaran betapa untuk menulis sebuah tulisan masing-masing orang bisa sangat berbeda sama sekali. Seorang guru harus menghargai, menghormati, dan memaknai kejujuran seorang Sandra, sekalipun yang ia tuliskan tidak mudah untuk diterima banyak orang.
Carl Gustav Jung, seperti sudah disarikan oleh Darmanto Jatman (Horison, Oktober 1967) dalam “Tjatatan-Tjatatan Seorang Eseis”, mengungkapkan: “Nulis tidak lagi harus dengan mengerutkan dahi, tapi dengan gembira, dengan semangat bermain jang gairah. Dan memang dalam permainan itulah mengalir tenaga kreatif dari orang-orang djenius, begitu kira-kira Jung.”
Menulis bukan hukuman yang harus disahkan dengan banyak aturan. Menulis adalah kebebasan yang dirayakan. Kita sepantasnya bisa menciptakn suasana menyenangkan agar anak-anak bisa menulis dengan bebas dan bahagia.
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


