Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Bagaimana Mengumpat Menyelamatkan Kita dari Kegilaan
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Bagaimana Mengumpat Menyelamatkan Kita dari Kegilaan

Redaktur Opini
Last updated: November 12, 2025 12:09 pm
By Redaktur Opini
3 Min Read
Share
SHARE

Sulung Pamanggih, peternak Kambing. Tinggal di Bojongnangka, Pemalang.

Pakar sumpah serapah, Timothy Jay, pernah bilang rata-rata orang dewasa mengumpat sebanyak 0,5 hingga 1 persen dari kata-kata yang mereka ucapkan. Jika anda menghabiskan 10.000 kata setiap hari, maka 50-100 kata di antaranya berisi umpatan.

Apakah Jay membual, itu bukan urusan kita. Faktanya setiap negara punya kata-kata tabu yang enak dijadikan umpatan. Dan kita patut bersyukur tinggal di republik yang punya kekayaan melimpah soal umpatan. Djancok, bangsat, asu, sampai tai setan.

Mengumpat adalah hak setiap orang untuk meluapkan emosi atas situasi yang dihadapi. Entah saat bercinta gara-gara ejakulasi dini, atau bisa saja anda mengumpat saat bangun tidur sebab menjumpai fakta bahwa pasanganmu sungguh bertambah tua.

Meski kategori orang yang gampang mengumpat, saya pribadi tidak memiliki umpatan favorit yang lebih modern. Saya pernah mencoba mengumpat dengan menyebut nama kawan saya, tapi sering gagal—mungkin karena namanya terlalu panjang.

Jangan salah, aktivitas mengumpat rupanya juga punya manfaat bagi kesehatan. Salah satunya meningkatkan ketahanan emosional.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang yang sering mengumpat cenderung lebih mampu menghadapi stres. Sebab umpatan memberikan ruang untuk mengekspresikan perasaan negatif yang sulit diungkapkan. Dengan kata lain, misuh-misuh itu bisa menjadi semacam terapi gratis.

Salah satu yang membuat kita bisa gila tinggal di republik ini adalah persoalan korupsi yang besar-besaran. Bukan hanya ratusan triliun duit negara digondol, tapi hukuman para pelaku juga sering tak setimpal.

Kawan saya uring-uringan sendiri mengikuti berita korupsi yang terjadi di negeri ini. “Duit 197 triliun dikorupsi, itu kalau buat ongkos cukur itu bisa untuk 30 generasi,” katanya. Maklum, kawan saya sedang berdarah-darah merintis usaha barbershop.

Di media sosial bahkan lebih meriah lagi. Berbagai versi umpatan bertebaran di sana. Sindiran, meme, ataupun jokes gelap juga berseliweran. Bahkan ada yang mengumpat dengan lebih agamis: ya Allah semoga perut para koruptor kelak disetrika dengan api neraka-Mu.

Ya, sesungguhnya kita beruntung. Di tengah carut marut persoalan bangsa, kita masih bisa mengumpat. Bayangkan jika misuh-misuh itu dilarang. Bayangkan jika kita hidup seperti dalam novel 1984 George Orwell, di mana pemerintah memasang alat perekam di setiap rumah, dan setiap tutur kata maupun tindakan kita diawasi. Hidup macam itu bisa bikin kita sesak napas.

Apakah mengumpat masuk dalam daftar warisan budaya yang patut dilestarikan atau tidak, saya tidak begitu peduli. Yang jelas, di tengah carut marut problem bangsa saat ini, terkadang cuma umpatan yang bisa membuat kita tetap waras.

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Self-Reward: Tren atau Kebutuhan?

Antara Pemenuhan Seksual dan Kepuasan Emosional, Pilih Poliamori atau Open Relationship?

Urgensi Pengakuan Ekosida sebagai Sebuah Kejahatan dalam Kerangka Hukum di Indonesia

Hal yang Sering Kita Lewatkan Ketika Menyoal Kekerasan Seksual di Kampus

Merayakan Kebebasan dengan Kata-Kata

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Gus Dur Jadi Pahlawan Bukan karena Pernah Jadi Presiden!
Next Article Buruh SPAMK Semarang Minta Upah Naik 630 Ribu

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Sekda Banyumas Mundur Usai Diperiksa KPK

ILUSTRASI KERACUNAN MBG: Anggota TNI dan Polri mengevakuasi salah satu siswa yang diduga keracunan MBG di SMA 2 Kudus, Kamis, (29/1/2026). (Foto: Ist)

Korban Keracunan MBG di Batang Terus Meningkat Capai 498 Orang, Masih Bisa Tambah Lagi

Kemarau Makin Seret, Polres Banjarnegara Kirim 25 Ribu Liter

Mendadak Kontraksi, Ibu Melahirkan di Dalam KRL

SAMPAIKAN PAPARAN--Praktisi hukum yang juga Managing Partner LDN Ernst Law Firm, Luhut Sagala, menjelaskan tentang terbukanya korban keracunan MBG gugat perdana atau pidana, saat ditemui di Semarang, Jumat (25/9/2026). (bae)

Praktisi Hukum: Korban Keracunan MBG Bisa Gugat Perdata atau Tempuh Pidana

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Mudik Lebaran Bukan Ajang Pembuktian

Maret 19, 2026
Anggota DPR RI Rahayu Saraswati mundur dari kursi DPR. Ini Mundur untuk Maju atau bagaiman?
Opini

Rahayu Saraswati Mundur dari DPR: Mundur untuk Maju atau Mundur untuk Ngopi Dulu, Ya?

September 11, 2025
Opini

Beban Ganda yang Harus Ditanggung Masyarakat Kecil

Juni 18, 2026
Opini

Ketika Algoritma Menjadi Perangkat Pendisiplinan Manusia

September 18, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Bagaimana Mengumpat Menyelamatkan Kita dari Kegilaan
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?