BACAAJA, INDIA – Suasana sakral di Kuil Venkateswara, Kasibugga, India Selatan, mendadak berubah jadi kepanikan besar pada Sabtu (1/11/2025). Ribuan peziarah yang datang untuk berdoa malah terjebak dalam desak-desakan yang berujung maut.
Sembilan orang dilaporkan tewas terinjak-injak, sementara puluhan lainnya luka-luka. Kejadian itu terjadi begitu cepat, saat ribuan umat Hindu berusaha masuk ke pelataran utama kuil di Distrik Srikakulam, Andhra Pradesh.
Awalnya semua berjalan khusyuk. Umat datang sejak pagi, membawa bunga dan dupa untuk sembahyang. Tapi begitu rombongan besar dari luar kota tiba bersamaan, jalur masuk ke kuil mendadak sesak.
Saksi mata menyebut, kepanikan mulai muncul ketika ada yang terjatuh di tengah antrean. Dalam hitungan detik, kerumunan saling dorong, dan teriakan minta tolong terdengar dari segala arah.
“Semuanya panik, orang-orang berusaha keluar tapi tidak ada jalan,” kata seorang peziarah yang selamat, dikutip dari media lokal. “Saya lihat banyak yang jatuh dan tidak bisa berdiri lagi.”
Gubernur Andhra Pradesh, S. Abdul Nazeer, menyampaikan belasungkawa mendalam atas insiden itu. Ia menyebut peristiwa di Kuil Venkateswara sebagai tragedi yang mengguncang hati seluruh warga.
“Saya sangat berduka atas meninggalnya sembilan peziarah. Doa saya bersama keluarga korban,” ujarnya lewat pernyataan resmi yang dikutip AFP.
Perdana Menteri India, Narendra Modi, juga ikut angkat bicara. Ia menulis pesan duka di media sosial, menyebut kehilangan para peziarah itu sebagai luka bagi seluruh bangsa.
“Saya berdoa agar mereka yang terluka segera pulih,” tulis Modi dalam unggahan singkatnya.
Sayangnya, kejadian semacam ini bukan pertama kali terjadi di India. Negara dengan populasi miliaran jiwa itu kerap menghadapi tragedi serupa saat perayaan keagamaan berskala besar.
Pada September lalu, misalnya, 36 orang tewas di Tamil Nadu setelah kerumunan besar memadati kampanye politik aktor yang kini jadi politisi, Vijay. Desak-desakan tak terhindarkan, situasi chaos pun terjadi.
Beberapa bulan sebelumnya, tepatnya Juni 2025, insiden serupa menelan korban di negara bagian Odisha. Massa tiba-tiba melonjak saat festival Hindu berlangsung di pesisir, mengakibatkan tiga orang tewas dan belasan luka-luka.
Tragedi di Goa juga tak kalah memilukan. Ribuan orang yang mengikuti ritual berjalan di atas api berdesakan untuk mendekat ke lokasi utama. Enam orang tewas seketika karena terinjak massa.
Puncaknya, Januari lalu, festival Kumbh Mela di kota suci Prayagraj menjadi saksi duka paling besar tahun ini. Sedikitnya 30 orang meninggal dini hari akibat kepadatan ekstrem di kawasan sungai tempat ritual berlangsung.
Kejadian demi kejadian ini memperlihatkan satu hal: pengelolaan massa di perayaan besar di India masih jadi tantangan serius. Terutama di tempat-tempat ibadah yang kerap dikunjungi jutaan orang dalam waktu bersamaan.
Otoritas lokal disebut tengah mengevaluasi prosedur keamanan di seluruh kuil besar di Andhra Pradesh, termasuk jalur keluar darurat dan pembatas jumlah peziarah.
Sementara itu, jenazah sembilan korban di Kasibugga sudah diserahkan ke keluarga masing-masing. Upacara kremasi dilakukan secara sederhana, penuh air mata.
“Orang-orang datang untuk berdoa, bukan untuk mati. Ini duka bagi kami semua,” ujar seorang warga setempat dengan nada bergetar.
Pemerintah negara bagian menjanjikan santunan bagi keluarga korban dan bantuan medis bagi yang luka-luka. Tapi banyak pihak menilai, kompensasi saja tidak cukup.
Yang dibutuhkan sekarang adalah sistem pengamanan yang benar-benar manusiawi — bukan hanya pagar besi dan spanduk imbauan.
Tragedi Kasibugga ini mengingatkan bahwa di tengah semangat keagamaan, keselamatan tetap harus jadi prioritas. Karena di balik doa dan dupa yang menyala, nyawa manusia terlalu berharga untuk diabaikan. (*)


